Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Haji Dalam Kaca Mata Psikologis

Amalia Rizky Indah Permadani • Senin, 28 April 2025 | 17:44 WIB
RIZKY SEMBADA S.E.M.M.M.PSI
RIZKY SEMBADA S.E.M.M.M.PSI

OLEH RIZKY SEMBADA S.E.M.M.M.PSI

 

Trenggaleknjenggelek - Psikologis merupakan faktor yang berasal dari dalam individu seseorang dan unsur-unsur psikologis meliputi motivasi, persepsi, pembelajaran, kepribadian, memori, emosi, kepercayaan dan sikap atau segala hal yang berkenaan dengan kejiwaan. Hikmah ibadah haji yang lain adalah untuk memperoleh ketenangan batin. Kita mengenal beberapa orang yang selalu stress, emosional atau tidak stabil jiwanya, ketika menuanaikan ibadah haji menjadi tenang. Siapa pun, apabila berada di dekat orang yang dikasihinya atau melindunginya akan merasa tenang.

Rukun pertama ibadah haji adalah ihram sekaligus meniatkan diri memasuki rangkaian ibadah haji. Dengan niat itu, ihram dianggap sah dalam rangka syari’at islam. Menurut imam syafi’i, niat ihram dalam haji adalah rukun yang apabila ditinggalkan dapat mengakibatkan tidak sah nya haji. Ketika seseorang menjalankan ritual haji sampai pada tempat yang ditentukan oleh nabi untuk memulai ihram (miqat makani), dia harus segera meniatkan dalam hati akan menjalankan haji. Niat di miqat makani dengan mengenakan pakaian yang serba putih menandakan dimulainya perjalanan menemui Allah SWT.

Selama menjalankan ihram, bagi laki-laki diwajibkan untuk tidak memakai penutup kepala dan pakaian berjahit dan bagi perempuan dilarang memakai perhiasan. Hikmahnya adalah upaya pelaku ibadah haji berada dalam puncak ketundukan dan kerendahan dihadapan Allah SWT. Dengan hanya berbalutkan kain tak berjahit, seorang hamba akan merasa seperti bayi yang baru dilahirkan. Pada saat itulah, kita menyadari bahwa kita tidak memiliki apa-apa yang bisa kita banggakan sebagai bekal dihadapan Allah SWT, kecuali iman dan amal shaleh. Dua hal itu yang akan senantiasa melekat dalam diri kita di dunia hingga alam kubur. Jadi dengan ihram kita menetapkan diri menghadap Allah SWT dengan meninggalkan berbagai perhiasan duniawi dan mengistirahatkan diri dengan meninggalkan segala bentuk materi yang merampas kemerdekaan jati diri kita, karena secara alamiah kita memang menyukainya.

Haji bukan hanya sekadar ibadah fisik, tetapi juga memiliki dampak psikologis yang mendalam bagi setiap Muslim yang melaksanakannya. Perjalanan spiritual ini dapat memberikan ketenangan batin, meningkatkan kesejahteraan emosional, serta memperbaiki kondisi mental seseorang. Berikut adalah beberapa manfaat Haji dari sisi psikologis:

  1. Mengurangi Stres dan Kecemasan

Ketika seseorang menunaikan Haji, ia meninggalkan rutinitas sehari-hari dan berbagai tekanan hidup. Fokus utama selama ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah, yang dapat memberikan ketenangan batin dan mengurangi stres. Aktivitas seperti thawaf, sa’i, dan wukuf di Arafah menjadi momen refleksi yang menenangkan jiwa.

  1. Meningkatkan Rasa Bahagia

Menunaikan Haji memberikan kebahagiaan spiritual yang tidak bisa diukur dengan materi. Perasaan bahagia muncul karena seseorang merasa lebih dekat dengan Allah, mendapatkan kesempatan untuk bertobat, serta merasakan persaudaraan dengan sesama Muslim dari seluruh dunia.

  1. Memberikan Rasa Lega dan Kedamaian

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang berhaji dan tidak berkata kotor serta tidak berbuat fasik, maka ia akan kembali dalam keadaan seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Kesadaran bahwa dosa-dosa diampuni setelah Haji memberikan perasaan lega, kebersihan hati, serta kedamaian yang mendalam.

  1. Meningkatkan Kesabaran dan Ketahanan Mental

Haji adalah ibadah yang penuh dengan tantangan fisik dan emosional. Berdesakan dengan jutaan orang, menghadapi cuaca ekstrem, serta keterbatasan fasilitas mengajarkan seseorang untuk lebih sabar dan tangguh. Kemampuan mengendalikan emosi dan menjaga ketenangan selama ibadah akan terbawa dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Memperkuat Rasa Syukur

Selama Haji, jamaah akan melihat berbagai kondisi umat Islam dari berbagai penjuru dunia, termasuk mereka yang datang dengan penuh keterbatasan. Hal ini menumbuhkan rasa syukur yang mendalam atas nikmat yang telah diberikan Allah, yang pada akhirnya meningkatkan kebahagiaan dalam hidup.

  1. Meningkatkan Rasa Persaudaraan dan Empati

Haji menyatukan jutaan Muslim dari berbagai latar belakang, tanpa memandang ras, status sosial, atau kebangsaan. Ini membangun rasa kebersamaan dan empati yang tinggi, yang dapat mengurangi perasaan kesepian dan meningkatkan kepuasan sosial.

  1. Mendorong Perubahan Positif dalam Hidup

Banyak orang yang kembali dari Haji merasakan perubahan besar dalam kehidupan mereka. Mereka menjadi lebih tenang, lebih peduli pada orang lain, serta lebih fokus pada hal-hal yang memiliki makna dalam kehidupan. Transformasi ini membawa dampak positif jangka panjang bagi kesehatan mental dan emosional.

Haji tidak hanya memberikan manfaat spiritual, tetapi juga membawa dampak besar pada kesehatan mental. Ibadah ini membantu mengurangi stres, meningkatkan kebahagiaan, memperkuat kesabaran, serta memperdalam rasa syukur dan empati. Oleh karena itu, Haji bisa menjadi salah satu bentuk terapi spiritual yang memberikan ketenangan jiwa dan kebahagiaan sejati.

 

Editor : Amalia Rizky Indah Permadani
#opini