Trenggaleknjenggelek - Akhir-akhir ini, kita sering melihat masyarakat termasuk anak muda ramai-ramai membeli emas. Di media sosial, banyak yang memamerkan logam mulia sebagai simbol “MELEK FINANCIAL“. Bahkan banyak berita di media sosial yang menginformasikan “EMAS SOLD“, beberapa video juga mempertegas bahwa banyak orang yang berebut untuk membeli emas. Fenomena ini jika dilihat dari sudut pandang psikologi sosial, merupakan lebih dari sekadar urusan investasi saja.
Menurut Conformity Theory, hal ini muncul karena adanya tekanan sosial. Dimana situasi sekarang yang tidak pasti, seperti inflasi atau krisis ekonomi dan masyarakat cenderung mengikuti apa yang dilakukan orang banyak
Fenomena ini juga bisa dijelaskan lewat efek Bandwagon dimana sesuatu menjadi tren, kita terdorong untuk mengikutinya atau lebih tepatnya ikut-ikutan, bahkan tanpa berpikir terlalu dalam. Ditambah lagi, membeli emas sekarang juga jadi bagian dari identitas sosial.
Dengan punya emas, kita merasa lebih mapan atau dianggap “cerdas” dalam hal keuangan. Dalam hal Ini jangan lupakan faktor psikologis manusia. Di tengah ketidakpastian, emas menjadi simbol rasa aman. Jadi, selain soal nilai, ada kebutuhan emosional yang coba dipenuhi.
Sebagai masyarakat yang mulai melek dengan investasi, penting untuk kita menjadi lebih kritis dalam bertindak meskipun dalam berinvestasi. Membeli emas boleh saja, tapi jangan sampai kita terjebak ikut-ikutan tanpa paham tujuannya. Karena dalam banyak hal, keputusan keuangan juga sangat dipengaruhi oleh dinamika sosial di sekitar kita.
Penulis :
Dinar Oktamiya Hayuningtyas, S.Psi,
Mahasiswa Magister Sains Psikologi Universitas Brawijaya.