Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Genteng Nglayur Trenggalek , Tetap Eksis dikala atap modern menggempur

Mohammad Bima Faisal Mirza • Minggu, 22 Juni 2025 | 03:18 WIB
Produksi Genteng Nglayur di Trenggalek Foto: Kelompok 3 KPI 2B UIN SATU TULUNGAGUNG  TRE
Produksi Genteng Nglayur di Trenggalek Foto: Kelompok 3 KPI 2B UIN SATU TULUNGAGUNG TRE

Trenggaleknjenggelek - 20 Juni 2025 Produsen genteng di Trenggalek, merupakan salah satu pilihan utama untuk atap rumah yang menawarkan kombinasi sempurna antara kekuatan, keindahan, dan daya tahan. Salah satunya terletak di Dusun Nglayur, Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek milik Bapak Asrofi.

Di tengah gempuran atap modern seperti galvalum, seng, dan asbes, Asrofi tetap setia memproduksi genteng dari tanah liat, produk tradisional yang dahulu menjadi andalan hampir setiap rumah di desa. Sentra genteng di gandusari telah ada sejak puluhan tahun yang lalu, Asrofi menjalani aktifitas sebagai produsen genteng sudah lebih dari dua dekade. 

Saya mulai memproduksi genteng sejak tahun 1998, Awalnya saya membuat genteng karena disini memang sudah marak orang yang memproduksi genteng, saya mencoba juga siapa tau rejeki saya disitu, kala itu saya masih menggunakan alat cetak manual dan yang saya produksi adalah genteng biasa, kemudian pada tahun 2009 saya mencoba berganti untuk memproduksi genteng wuwung, lalu baru sekitar tahun 2023 saya menggunakan mesin hidrolis untuk memproduksi genteng ini ucap Asrofi.

 

Tanah liat dari daerah Gandusari ini dikenal padat dan lengket, dan ini merupakan dua syarat utama bahan baku untuk membuat genteng berkualitas. Asrofi mengambil tanah dari lahan milik warga yang memang disiapkan sebagai sumber bahan mentah. Setiap 2 hari sekali, Asrofi dibantu satu pekerja dan istrinya, mulai dari mengolah tanah, mencetak, menjemur, hingga membakar genting dalam tungku tradisional, ia bisa menghasilkan 200 hingga 300 buah genteng, tergantung cuaca.

Membuat genteng bukan sebuah pekerjaan mudah. Prosesnya panjang dan sangat tergantung pada alam. Saat musim hujan tiba, produksi bisa turun drastis karena sulitnya menjemur genteng yang barusan di cetak. 

 

Kalau tidak kering sempurna, bisa retak atau patah waktu dibakar. katanya. Selain cuaca, tantangan utama datang dari pasar. Kini, banyak orang lebih memilih atap dari bahan modern yang dianggap lebih praktis dan tahan lama. Asrofi menyadari tren ini, namun tetap bertahan karena permintaan lokal masih ada, terutama dari warga desa dan proyek pembangunan rumah subsidi.

Kalau rumah desa, masih banyak yang pakai genteng tanah. adem, tidak berisik kalau hujan, dan kalau rusak bisa diganti satu per satu, ungkapnya. Namun ia mengakui bahwa harga genting wuwung tetap tidak naik signifikan. Satu buah genting dijual dengan harga sekitar Rp2.000, tapi akan dikasih potongan apabila belinya banyak.

 

Kalau ada pesanan banyak, lumayan buat makan, tambahnya. berbeda dengan beberapa pengrajin genteng dari daerah lain yang sudah menggunakan tungku gas, Asrofi masih mengandalkan tungku bakar berbahan kayu bakar. Menurutnya, selain karena modal terbatas, cara lama ini justru memberikan hasil yang lebih alami dan kokoh.

 

Genteng bakar api pakai kayu itu lebih kuat dan warnanya alami walaupun beberapa genteng terkadang gosong. Ada warna merah bata yang khas, ujarnya bangga. 

Asrofi mengaku, selama ini belum banyak dukungan yang datang langsung ke pembuat genteng di Nglayur. Bantuan pemerintah seringkali hanya menyentuh sektor pertanian atau UMKM kuliner. Sementara pengerajin tradisional seperti dirinya kerap luput dari perhatian. Kadang iri lihat pengusaha makanan dapat bantuan tenda, etalase, atau pelatihan. Kami yang kerja berat, jarang sekali dilirik ereka, katanya. 

 

Meski begitu, ia tidak mengeluh. Ia tetap bersyukur bisa menghidupi keluarganya dari tanah dan api. Anak-Anaknya kini ada yang bekerja di luar pulau, dan belum ada yang berminat meneruskan usaha pembuatan genting ini. 

Genteng tanah liat bukan hanya bagian dari rumah namun ia juga bagian dari sejarah, budaya, dan ekonomi desa. Di tengah pembangunan yang serba cepat dan modern, kisah seperti milik Asrofi mengingatkan kita bahwa kekuatan sebuah bangsa juga terletak pada ketekunan orang-orang kecil yang menjaga tradisi dengan sabar. 

 

Kelompok 3 KPI 2B UIN SATU TULUNGAGUNG

Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Mohammad Bima Faisal Mirza
#budaya #genteng #tanah #sejarah