Trenggaleknjenggelek - Di Desa Margomulyo RT 22 RW 02, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, terdapat sebuah usaha pembuatan besek bambu yang sudah berjalan selama kurang lebih 21 tahun.
Besek atau lebih di kenal kreyeng dengan warga sana adalah wadah anyaman bambu yang biasa digunakan untuk menyimpan atau membungkus ikan segar.
Baca Juga: Pantai Nglinci Satu Permata Tersembunyi di Tulungagung
Usaha ini menjadi salah satu bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat pesisir yang juga dikenal dengan potensi perikanan tangkap yang melimpah di kawasan Watulimo .
Usaha ini dimiliki dan dikelola oleh Bapak Imam Rochani, seorang pengrajin bambu yang sudah berpengalaman selama 21 tahun.
Bapak Imam mengaku bahwa usaha ini menjadi sumber penghasilan sampingan yang cukup penting bagi keluarganya.
Baca Juga: Ayam Lodho, olahan makanan khas Tulungagung yang menarik perhatian warga lokal.
“Kami membuat besek ini secara manual dengan bahan bambu yang mudah didapat di sekitar sini,” ujar Bapak Imam .
Usaha pembuatan besek ini berlokasi di Desa Margomulyo RT 22 RW 02, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.
Lokasi ini sangat strategis karena berada di daerah pesisir yang memiliki aktivitas perikanan tangkap yang tinggi.
Kawasan Watulimo sendiri dikenal sebagai salah satu pusat produksi ikan tangkap yang melimpah di Trenggalek, sehingga kebutuhan akan besek sebagai tempat penyimpanan ikan sangat tinggi.
Usaha pembuatan besek ini sudah berjalan selama kurang lebih 21 tahun.
Baca Juga: Genteng Nglayur Trenggalek , Tetap Eksis dikala atap modern menggempur
Dalam satu kali pengerjaan, Bapak Imam bisa membuat antara 100 sampai 125 besek. Namun, besek-besek tersebut baru dijual atau disetorkan jika sudah terkumpul antara 500 sampai 1000 buah.
Produksi yang dilakukan secara berkala ini menyesuaikan dengan permintaan pasar dan musim ikan di wilayah tersebut.
Besek yang dibuat berfungsi sebagai wadah penyimpanan ikan segar, terutama saat musim ikan tiba.
Harga besek yang dijual saat ini berkisar antara Rp 300 sampai Rp 350 per buah, dengan harga yang cenderung naik saat musim ikan karena permintaan meningkat.
Baca Juga: Fenomena Membeli Emas Pada Masyarakat, Investasi atau Tekanan Sosial?
“Biasanya saat musim ikan, pesanan besek juga bertambah banyak,” ujar Bapak Imam.
Usaha ini menjadi sampingan yang cukup menguntungkan bagi Bapak Imam dan keluarganya.
Usaha pembuatan besek ini memiliki manfaat ganda. Pertama, besek bambu merupakan alternatif pengemasan yang ramah lingkungan dibandingkan plastik.
“Besek bambu ini ramah lingkungan dan bisa digunakan berulang kali, jadi banyak yang memilihnya dibanding plastik,” ujar Bapak Imam 15/06/2025.
Banyak nelayan dan pedagang ikan yang lebih memilih menggunakan besek karena bahan bambunya mudah didapat dan dapat didaur ulang.
Kedua, usaha ini menjadi sumber penghasilan tambahan yang cukup membantu bagi keluarga Bapak Imam dan masyarakat sekitar.
Baca Juga: Spritualitas di Tanah Suci dalam Menggapai Ridho Ilahi
Selain itu, usaha ini juga mendukung kegiatan perikanan di Watulimo.
Dengan adanya besek sebagai tempat penyimpanan ikan, para nelayan bisa menjaga kualitas ikan tetap segar saat dibawa ke pasar, sehingga membantu meningkatkan pendapatan mereka.
Usaha besek ini menjadi contoh bagaimana produk tradisional sederhana bisa bertahan dan memberi manfaat ekonomi bagi warga Desa Margomulyo.
Dengan terus menjaga kualitas dan jumlah produksi, diharapkan usaha ini bisa terus berkembang dan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Menurut Bapak Imam, usaha ini penting karena selain menjadi sumber penghasilan, besek juga membantu para nelayan menjaga kualitas ikan mereka.
“Kami berharap usaha ini bisa terus berjalan dan membantu masyarakat sekitar,” ujarnya.
Kawasan Watulimo sendiri memiliki potensi perikanan tangkap yang besar dan melimpah.
Namun, menurut beberapa studi, pengolahan hasil tangkapan ikan di wilayah ini masih didominasi oleh penjualan ikan segar atau olahan sederhana.
Baca Juga: Menata Ulang Arah Pembangunan Trenggalek
Usaha pembuatan besek seperti yang dilakukan Bapak Imam ini menjadi bagian penting dalam mendukung rantai pasok perikanan, terutama dalam menjaga kualitas ikan segar yang akan dipasarkan.
Dengan adanya usaha besek ini, para nelayan dan pedagang ikan di Watulimo dapat mengemas ikan dengan lebih baik dan ramah lingkungan, sehingga mendukung pengembangan industri perikanan yang lebih berkelanjutan di kawasan tersebut.
Usaha pembuatan besek bambu di Desa Margomulyo RT 22 RW 02 Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek merupakan contoh usaha kecil yang mampu bertahan selama lebih dari dua dekade.
Dengan produksi yang teratur dan kualitas produk yang baik, usaha ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi pengrajin lokal, tetapi juga mendukung aktivitas perikanan di wilayah pesisir Watulimo.
Keberlanjutan usaha ini diharapkan dapat terus membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan melalui penggunaan bahan bambu yang ramah lingkungan. (mal)
Editor : Mohammad Bima Faisal Mirza