GENERASI MUDA merupakan aset penting dalam menentukan masa depan bangsa. Kualitas generasi muda tidak hanya diukur dari kemampuan akademik, tetapi juga dari karakter sosial dan moral yang tercermin dalam sikap, perilaku, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Di era globalisasi dan kemajuan teknologi, generasi muda menghadapi tantangan serius berupa meningkatnya individualisme, menurunnya empati, dan melemahnya tanggung jawab sosial. Kondisi ini menunjukkan adanya degradasi nilai sosial yang perlu mendapat perhatian serius.
Permasalahan utama dalam pembentukan karakter sosial generasi muda terlihat dari berkurangnya kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sekitar.
Interaksi sosial yang semakin bergeser ke ruang digital membuat hubungan sosial menjadi kurang erat dan dangkal. Selain itu, pendidikan yang masih menitikberatkan pada pencapaian akademik menyebabkan nilai-nilai etika, seperti kejujuran, toleransi, dan tanggung jawab sosial, belum sepenuhnya terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari.
Peran keluarga, sekolah, dan masyarakat juga belum berjalan secara optimal dan saling bersinergi dalam membentuk karakter sosial generasi muda.
Permasalahan tersebut dapat dianalisis melalui teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead. Mead menjelaskan bahwa identitas dan perilaku individu terbentuk melalui proses interaksi sosial yang berkelanjutan.
Individu belajar memahami dirinya dan orang lain melalui simbol-simbol sosial, seperti bahasa, sikap, dan makna yang muncul dalam interaksi. Dalam konteks generasi muda saat ini, berkurangnya interaksi langsung menyebabkan proses pembelajaran nilai sosial, seperti empati dan kerja sama, menjadi kurang optimal.
Mead juga memperkenalkan konsep “I” dan “Me”, di mana “Me” terbentuk dari nilai dan harapan sosial yang berasal dari lingkungan, sedangkan “I” merupakan respons individu terhadap nilai tersebut.
Ketika lingkungan sosial tidak memberikan teladan yang baik, maka pembentukan karakter sosial generasi muda menjadi lemah. Selain itu, konsep generalized other menunjukkan pentingnya pemahaman terhadap norma dan nilai masyarakat secara luas.
Kurangnya ruang interaksi sosial yang sehat membuat generasi muda kesulitan memahami peran dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembangunan karakter sosial generasi muda merupakan kebutuhan mendesak. Penguatan nilai etika dan sosial harus dilakukan secara berkelanjutan melalui kerja sama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Melalui interaksi sosial yang bermakna, keteladanan, serta lingkungan yang mendukung, generasi muda diharapkan mampu mengembangkan empati, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter kuat dan beretika dalam kehidupan bermasyarakat. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah