KEMISKINAN ekstrem di Indonesia sering kali menjadi persoalan yang terus menjadi alasan sampai saat ini salah satu faktornya terjadi akibat pernikahan dini yang masih ada di Indonesia hingga saat ini.
Padahal di balik angka statistik tersebut, terdapat dinamika sosial yang sangat kompleks cara manusia berpikir, memaknai tradisi, serta mengambil keputusan hidup dalam keterbatasan struktur sosial.
Salah satu fenomena yang kerap luput dari perhatian publik adalah keterkaitan antara praktik pernikahan dini, khususnya dalam konteks budaya lokal, dengan reproduksi kemiskinan antar generasi.
Kemiskinan Ekstrem Sebagai Fenomena Sosial
Kemiskinan ekstrem sering kali dipahami secara sempit sebagai ketidakmampuan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan.
Namun, perspektif sosiologi memandang kemiskinan sebagai fenomena sosial yang kompleks, karena berkaitan dengan struktur, relasi kekuasaan, dan sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Dalam masyarakat dengan struktur sosial yang kuat, individu sering kali tidak memiliki ruang untuk mengambil keputusan secara bebas.
Pilihan hidup dibentuk oleh, tekanan keluarga, dan standar moral kolektif. Akibatnya, kemiskinan tidak hanya bersumber dari keterbatasan ekonomi, tetapi juga dari keterbatasan sosial yang menghambat mobilitas individu norma budaya memiliki pengaruh besar terhadap keputusan keluarga.
Dalam konteks ekonomi, pernikahan dini juga dianggap sebagai strategi bertahan hidup, dengan harapan bahwa beban ekonomi keluarga akan berkurang setelah anak menikah.
Pernikahan sering dipandang sebagai simbol kehormatan keluarga, kedewasaan sosial, serta bentuk tanggung jawab orang tua terhadap anaknya.
Padahal realitanya pasangan muda yang menikah tanpa kesiapan ekonomi dan pendidikan cenderung terjebak dalam pekerjaan informal berupah rendah.
Ketika pernikahan juga dibebani tuntutan adat, seperti biaya pesta dan kewajiban sosial keluarga baru tersebut semakin rentan secara ekonomi.
Pernikahan Dini dan Pembentukan Diri dalam Perspektif Looking-Glass Self
Dalam konteks pernikahan dini, teori Looking-Glass Self membantu menjelaskan mengapa praktik tersebut tetap bertahan meskipun berdampak negatif secara ekonomi.
Anak dan keluarga membentuk konsep diri berdasarkan penilaian sosial lingkungan sekitarnya.
Seorang anak perempuan, misalnya, sejak kecil telah menerima pesan sosial bahwa nilai dirinya ditentukan oleh status pernikahan.
Ketika masyarakat memandang perempuan yang belum menikah sebagai “tidak laku” atau “memalukan”, penilaian tersebut diinternalisasi ke dalam konsep diri individu.
Akibatnya, pernikahan dini dipandang sebagai jalan untuk memperoleh pengakuan sosial dan rasa aman secara psikologis.
Looking-Glass Self juga menjelaskan bagaimana kemiskinan direproduksi antar generasi. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga miskin dan menikah dini akan menerima cerminan sosial yang sama dari lingkungannya.
Mereka belajar bahwa keterbatasan hidup adalah hal yang normal dan tidak dapat dihindari.
Ketika kemiskinan dan pernikahan dini terus dibenarkan secara sosial, maka terbentuklah kesadaran yang melemahkan upaya perubahan.
Dalam kondisi tersebut, kemiskinan ekstrem tidak hanya bertahan secara struktural, tetapi juga secara kultural dan psikologis. Ketika individu diperlihatkan bahwa pernikahan dini bukan satu-satunya jalan hidup, konsep diri pun dapat berubah.
Pendidikan berperan penting dalam membangun suatu perubahan sosial baru, di mana nilai diri tidak lagi diukur dari status pernikahan semata, melainkan dari kemampuan, pengetahuan, dan potensi individu.
Penutup
Kemiskinan ekstrem di Indonesia merupakan fenomena sosial yang kompleks dan tidak dapat dipahami hanya melalui pendekatan ekonomi.
Studi mengenai pernikahan dini di daerah yang keterbatasan akses menunjukkan bahwa kemiskinan direproduksi melalui interaksi sosial, norma budaya, dan cara individu membentuk konsep dirinya.
Teori Looking-Glass Self Charles Horton Cooley memberikan kerangka analisis yang kuat untuk memahami bagaimana kemiskinan ekstrem hidup dalam “cermin sosial” masyarakat.
Selama masyarakat terus merefleksikan pandangan yang membenarkan pernikahan dini dan kemiskinan, maka siklus tersebut akan terus berlanjut.
Oleh karena itu, pengentasan kemiskinan ekstrem membutuhkan pendekatan yang tidak hanya bersifat material, tetapi juga menyentuh dimensi sosial dan psikologis masyarakat. Perubahan cermin sosial adalah kunci untuk memutus rantai kemiskinan antar generasi. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah
Sumber : Diolah dari berbagai sumber