Kelalaian pemerintah dalam merawat jalan di Lingkar Timur Sidoarjo kini tidak bisa lagi ditoleransi. Jalan berlubang bukan sekadar kerusakan biasa, tetapi sudah menjadi ancaman nyata yang terus mengintai nyawa pengguna jalan.
Ironisnya, kondisi ini terjadi di jalur padat kendaraan berat kawasan pergudangan, yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam perawatan. Masalahnya bukan hanya pada jalan yang rusak, tetapi pada sistem pengawasan yang seolah “buta”.
Kerusakan yang berulang tanpa penanganan serius menunjukkan bahwa perawatan hanya berjalan di atas kertas. Padahal, jalan adalah fasilitas dasar yang wajib dijaga pemerintah demi keselamatan masyarakat.
Akibatnya, korban terus berjatuhan. Jalan berlubang seakan menjadi hal biasa, seolah tidak ada yang salah dalam sistem yang berjalan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang rusak bukan hanya jalan, tetapi juga kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah.
Kritik ini bukan bentuk keluhan semata, melainkan tanda bahwa ada yang keliru dalam tata kelola. Ketika masalah jelas terlihat namun tetap diabaikan, maka kegagalan itu bukan lagi teknis, melainkan sistemik. Dan selama sistem ini tidak berubah, jalan berlubang akan terus menjadi simbol nyata dari kebijakan yang lalai melindungi rakyatnya. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana