Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Trosobo Gelap, Nyawa Melayang, Begal Berkeliaran

Tim Redaksi • Selasa, 28 April 2026 | 13:08 WIB
Ainur Riza Nuswantoro,  Mahasiswa Prodi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA).
Ainur Riza Nuswantoro, Mahasiswa Prodi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA).

Ada yang salah dengan Jalan Raya Trosobo di malam hari. Bukan soal ramainya kendaraan atau tanjakan flyover yang cukup curam  melainkan soal gelapnya jalan yang seolah dibiarkan begitu saja oleh.

Lampu penerangan jalan umum (PJU) di sepanjang kawasan ini kerap padam, redup, atau berkedip tidak karuan. Dan setiap kali lampu itu mati, risiko yang ditanggung warga seperti banyaknya terjadi kecelakaan, dan adanya aksi kejahatan.

Fakta kecelakaan di kawasan ini bukan sekadar omong kosong. Pada Desember 2025, Jalan Raya Trosobo yang baru dibuka pascaproyek pelebaran crossing langsung memakan korban tiga pengendara motor terjatuh hanya dalam satu hari.

Kapolsek Taman saat itu menegaskan bahwa lampu PJU di sekitar lokasi proyek tidak menyala, dan kondisi tersebut jelas memperparah risiko kecelakaan di malam hari.

Sebelumnya, pada Juni 2025, kecelakaan beruntun melibatkan bus, dua mobil, dan motor terjadi di turunan flyover Trosobo arah Krian, satu orang pemotor meninggal dunia di lokasi. Bahkan pada 2022, seorang pengemudi ojek online kritis setelah terpental di flyover Trosobo, dan kejadian itu ditengarai akibat gelapnya jembatan karena lampu PJU padam.

Baca Juga: Digitalisasi Parkir Surabaya: Antara Ambisi Kepraktisan Warga dan Ujian Keadilan bagi Jukir

Tidak berhenti di sana. Kegelapan jalan juga membuka peluang bagi pelaku kejahatan. Pada 31 Maret 2026, seorang mahasiswi berusia 22 tahun menjadi korban begal di kawasan Flyover Trosobo. Ia dipepet oleh sekitar enam pelaku, ditarik rambutnya, didorong hingga jatuh, lalu motornya digasak.

Kerugian korban ditaksir mencapai Rp18 juta. Keresahan pun menyebar cepat di masyarakat melalui pesan berantai WhatsApp yang dimana ini sebuah pertanda bahwa warga sudah merasa tidak aman melintas di kawasan tersebut, terutama saat malam hari.

Ini bukan masalah yang tiba-tiba muncul. Warga sudah lama mengeluhkan kondisi PJU di kawasan Trosobo dan Krian secara umum.

Ironisnya, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo pernah mengalokasikan anggaran Rp92,8 miliar pada 2022 untuk penambahan dan perbaikan PJU, dengan Kecamatan Krian mendapat jatah terbesar: 215 titik penerangan baru.

Namun di realitanya, gelapnya jalan masih jadi pemandangan biasa. Lampu diperbaiki, padam lagi. Diperbaiki lagi, redup lagi. Warga melapor, tidak ada respons berarti.

Pemerintah daerah perlu bertindak nyata, bukan sekadar janji anggaran. Lampu penerangan seluruh titik PJU yang padam di kawasan Trosobo harus segera dilakukan, diikuti perbaikan permanen dengan target waktu yang jelas. Patroli malam di kawasan ini juga perlu diintensifkan.

Polsek Taman memang sudah mengaktifkan kembali Pos Trosobo pasca kejadian begal Maret lalu, tapi langkah itu tidak cukup tanpa didukung infrastruktur penerangan yang memadai.

Trosobo bukan sekadar jalur lalu lintas biasa. Ribuan warga Krian, Taman, dan sekitarnya bergantung pada jalan ini setiap hari. Mereka berhak melintas dengan aman, tanpa harus was-was ditabrak lubang yang tidak terlihat atau dipepet pelaku kejahatan di balik kegelapan. Lampu jalan yang menyala adalah hak dasar, bukan kemewahan. Dan sudah terlalu lama hak itu diabaikan. (*)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#PJU #Jalan Raya Trosobo #krian #Umsida Sidoarjo