NGGAK habis pikir dengan kebijakan daerah Sidoarjo. Seorang bapak bernama Kasiadi, usianya 63 tahun, berangkat dari rumah dengan motor seperti biasa berharap bisa menjalankan akativitasnya sehari-hari tanpa ada kendala apapun tapi dia malah nggak pernah sampai tujuannya. Terjadi di Jalan Lingkar Timur Sidoarjo pada Kamis, 16 April 2026 sekitar pukul 17.00 WIB.
Dikarenakan jalan berlubang yang belum kunjung diperbaiki oleh Pemkab Sidoarjo. Sehingga dibiarkan menganga begitu saja. Motornya korban oleng menghindari lubang, lalu terlindas truk. Selesai sudah. Nyawa pun melayang di tempat.
Yang bikin miris bukan cuma kejadiannya. Yang bikin miris adalah kenyataan bahwa “ini bukan pertama kalinya”. Warga sekitar sudah mengkritik persoalan jalan ini ke Pemkab Sidoarjo, yang seharusnya ada respon dari Bupati Sidoarjo H Subandi SH MKn.
Masak hal seperti ini malah harus nunggu korban banyak lagi, lama-lama ngga jadi jalan tapi liang lahat. Setiap bulan ada saja pengendara yang jatuh di sana.
Tapi apa yang terjadi? Ditambal sedikit, rusak lagi, ditambal lagi, rusak lagi. Begitu terus. Sampai akhirnya memakan korban jiwa. Jadi pertanyaannya simpel: butuh berapa nyawa lagi supaya jalan itu benar-benar diperbaiki oleh Pemkab Sidoarjo?
Urusan jalan bukan perkara mudah. Ada anggaran, ada prosedur, ada ini itu. Tapi kalau jalan itu sudah bertahun-tahun jadi "langganan korban", masa iya masih dianggap bukan prioritas? Kan seharusnya tugas Pemkab bertanggung jawab atas kesejahteraan melalui berbagai program pembagunan yang layak untuk masyarakat. Apakah nyawa keamanan dan kenyamanan masyarakat itu tidak penting?
Yang lebih menyakitkan, setelah Kasiadi meninggal apakah Pemkab Sidoarjo peduli dengan berita ini atau hanya menganggapnya berita angin saja? Jika memang diperbaiki, kenapa tidak diperbaiki secara layak dan benar untuk jangka panjang “Tidak mungkin dananya kuarang”. Kenapa selalu harus menunggu ada korban dulu baru bergerak?
Ini bukan soal siapa yang salah di jalan. Ini soal sistem yang harus diperhatikan terlebih dahulu oleh Pemkab Sidoarjo. Karena “jalan adalah infrastruktur utama yang digunakan sehari-hari”. Sehingga harus melindungi warganya tapi malah membiarkan jalan jadi perangkap maut bagi para korbannya.
Kasiadi bukan korban kecelakaan biasa. Dia adalah korban dari sistem yang lambat, anggaran yang entah ke mana, dan prioritas yang salah. Dia korban dari lubang yang sudah dilaporkan tapi tidak segera ditangani.
Kalau lubang di jalan itu segera ditambal dengan benar jauh-jauh hari, mungkin hari itu Kasiadi masih bisa pulang ke rumah dan bertemu dengan orang-orang yang disayangi.
“Jalan rusak bukan bencana alam. Jalan rusak adalah cermin seberapa serius pemerintah menghargai keselamatan warganya. Dan cermin itu, saat ini, retak sudah”. Semoga Kasiadi tenang. Dan semoga kematiannya tidak sia-sia. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana