SEJARAH mencatat Hari Lingkungan Hidup Sedunia berawal dari gerakan internasional yang secara keberlanjutan dari United Nations Enveronment Programme (UNEP) dalam konferensi besar di Stockholm Swedia pada tahun 1972. Setahun kemudian pada tahun 1973 ditetapkan Hari Lingkungan Hidup Sedunia setiap 5 Juni untuk terus mendorong dan memperhatikan kebijakan yang ramah terhadap lingkungan.
Namun seiring perkembangan zaman, tantangan dari peduli lingkungan hidup semakin besar terlebih pada era teknologi saat ini.
Salah satu dampak dari era teknologi saat ini adalah masalah isu lingkungan yang menjadi permasalahan yang dihadapi di berbagai negara.
Pentingnya peningkatan kesadaran manusia terhadap jasa lingkungan dalam melestarikannya telah menjadi permasalahan yang berkelanjutan.
Menurut Badan Pusat Statistik (2024), pembangunan ekonomi, infrastruktur, dan komoditas dalam bidang kemajuan ekonomi justru berbanding terbalik dengan kualitas lingkungan hidup.
Kemajuan teknologi selain memberikan dampak positif bagi manusia juga memiliki dampak negatif bagi kualitas lingkungan hidup manusia.
Menurut Sapriya (2024), salah satu dampak negatif dari kemajuan teknologi adalah meningkatnya masalah tentang sampah yang berdampak pada semakin banyak sampah industri seperti sampah botol, kaleng, dan plastik serta sampah yang mengandung nuklir yang mengancam kehidupan manusia.
Masalah yang timbul akibat aktivitas manusia menuntut manusia untuk mencari solusi dan menyelesaikan masalah, salah satunya dengan meningkatkan kecerdasan lingkungan sejak dini kepada generasi selanjutnya agar lebih peduli dalam menjaga lingkungan.
Peningkatan kecerdasan lingkungan (kecerdasan ekologis) menjadi penting sebagai bentuk penanaman sikap peduli terhadap lingkungan bagi generasi penerus bangsa, khususnya di kalangan siswa sekolah dasar.
Ekoliterasi dapat dibelajarkan kepada siswa sekolah dasar melalui projek pembelajaran atau ekopedagogik agar siswa dapat mencintai lingkungan melalui penghijauan dan memberikan pemahaman bagaimana secara mempraktikkan langsung merawat dan menjaga lingkungan sekolah.
Bentuk nyata yang paling sederhana pada kecerdasan ekologis dapat dilihat pada kepekaan membuang sampah pada tempat sampah, pengetahuan memilah sampah berdasarkan jenisnya, dan memberikan aksi nyata dalam menjaga lingkungan sekitar rumah dan sekolah tetap bersih dan nyaman.
Membuang sampah pada tempat sampah menjadi aksi nyata yang paling sederhana, namun belum semua orang mampu melaksanakannya.
Di semua ajaran agama selalu mengajarkan kebaikan untuk peduli terhadap alam semesta ciptaan Tuhan, termasuk dalam ajaran Islam, membuang sampah tidak boleh sembarangan.
Hal remeh ini ternyata pernah di singgung oleh Rasullulah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Riwayat yang Panjang dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu yang menyatakan:
“Dan menyingkirkan duri dari jalan juga merupakan sedekah”. Berkaitan dengan sampah juga pernah disajikan dalam Riwayat hadis yang Panjang shahih Al-Bukhari No. 5189 dari Aisha.
“Dia tidak mengungkapkan rahasia kami, tetapi menyimpannya, dan tidak membuang makanan kami dan tidak meninggalkan sampah berserakan di rumah kami".
Sumber ini jelas dalam memberikan arahan untuk tidak membuang-buang makanan (sisa) dan tidak meninggalkan sampah atau membuang sampah sembarangan, sebagai bentuk kecerdasaran ekologis yang tentu harus didukung dalam bentuk implementasi ekoliterasi siswa di lingkungan sekolah.
Ekoliterasi menjadi penting dalam mencegah terjadinya kerusakan lingkungan. Hal ini dapat dikembangkan melalui model pembelajaran yang terintegrasi dengan kondisi faktual isu lingkungan dan kearifan lokal.
Pemahaman terkait ekoliterasi mengalami peningkatan sebagai tren tujuan pembelajaran semua mata pelajaran di dalam kurikulum di berbagai negara.
Namun, hasil kajian studi pustaka yang dilakukan oleh Ismawati,dkk., (2024); Safitri,dkk., (2023) dan Perez,dkk., (2025) menyatakan, ekoliterasi yang dikhususkan pada pembahasan model pembelajaran di sekolah dasar masih sedikit sehingga perlu dilakukan pengembangan model pembelajaran ekoliterasi yang terintegratif di sekolah melalui model pembelajaran.
Model pembelajaran berbasis ekoliterasi diharapkan mampu membekali siswa dalam mengelola lingkungan sekolah dan tempat tinggal serta membantu meningkatkan kecerdasan ekologis siswa.
Hal ini menjadi langkah nyata bagi penulis untuk memberikan konstribusi pengetahuan dalam studi doktor di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).(*)
Editor : Adinda Putri Sefiana