Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Makna dan Hikmah Tahun Baru Hijriah

Amalia Rizky Indah Permadani • Rabu, 17 Juni 2026 | 14:37 WIB
Subadianto. Ketua DPD PKS Trenggalek, Wakil Ketua DPRD Trenggalek.
Subadianto. Ketua DPD PKS Trenggalek, Wakil Ketua DPRD Trenggalek.

PERGANTIAN tahun baru Hijriah selalu menghadirkan momentum refleksi bagi umat Islam.

Hijrah Rasulullah SAW bukan sekadar perpindahan geografis dari Makkah ke Madinah, melainkan sebuah transformasi sosial, politik, dan peradaban yang mengubah arah sejarah dunia. 

Peristiwa hijrah mengajarkan bahwa perubahan besar tidak lahir dari situasi yang ideal. 

Sebaliknya, Rasulullah SAW sering muncul dari kondisi yang penuh tekanan, ketidakpastian, dan keterbatasan.

Sebelum mencapai kejayaan di Madinah, umat Islam terlebih dahulu mengalami fase panjang penindasan, pemboikotan ekonomi, marginalisasi politik, dan tekanan sosial yang berat di Makkah.

Dalam perspektif politik, hijrah menunjukkan bahwa kepemimpinan yang visioner tidak terjebak pada keadaan saat ini, tetapi mampu melihat peluang di balik setiap tantangan.

Rasulullah SAW tidak sekadar menyelamatkan komunitas muslim dari tekanan, melainkan menyiapkan fondasi bagi lahirnya tatanan masyarakat yang berkeadilan, berpersatuan, dan berkemajuan.

Pelajaran tersebut terasa relevan ketika dunia saat ini menghadapi dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Konflik antarnegara, persaingan ekonomi global, perebutan sumber daya strategis, hingga perang informasi menjadi warna utama hubungan internasional. 

Dalam situasi seperti ini, banyak negara berkembang, menghadapi tantangan besar untuk menjaga kedaulatan, memperkuat ekonomi, dan memastikan kesejahteraan rakyatnya.

Di tengah realitas tersebut, muncul dua sikap yang sama-sama kurang produktif.

Pertama, pesimisme yang berlebihan sehingga merasa tidak memiliki kemampuan untuk bersaing.

Kedua, sikap reaktif yang lebih banyak mengeluhkan keadaan daripada membangun solusi.

Sejarah hijrah justru mengajarkan jalan ketiga: optimisme yang disertai kerja keras dan strategi.

Rasulullah SAW membangun perubahan melalui penguatan sumber daya manusia, penguatan nilai-nilai moral, pembangunan persatuan sosial, serta penyusunan strategi yang matang.

Bagi kita, pesan hijrah memiliki makna yang sangat penting. Indonesia memiliki modal sosial, demografis, dan budaya yang luar biasa.

Namun, modal tersebut hanya akan menjadi kekuatan apabila diiringi dengan kualitas sumber daya manusia yang unggul, tata kelola pemerintahan yang baik, serta komitmen bersama untuk menjaga persatuan.

Dalam konteks kebangsaan, hijrah dapat dimaknai sebagai ajakan untuk berpindah dari politik yang memecah belah menuju politik yang mempersatukan.

Dari budaya saling menyalahkan menuju budaya kolaborasi. Dari orientasi kepentingan jangka pendek menuju pembangunan jangka panjang yang berkelanjutan.

Hijrah mengajarkan bahwa perubahan sejarah selalu dimulai dari perubahan cara berpikir.

Ketika umat memiliki keyakinan, persatuan, dan kapasitas yang memadai, maka keterbatasan bukanlah penghalang untuk menjadi kekuatan yang diperhitungkan.

Semangat hijrah pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang masa lalu, melainkan tentang keberanian membangun masa depan yang lebih baik bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. (*)

Editor : Adinda Putri Sefiana
#Pergantian tahun baru Hijriah #Subadianto #Trenggalek Aman