Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Ketika Kuat Menjadi Tuntutan, Bukan Pilihan: Potret Kesehatan Mental Perempuan Masa Kini

Tim Redaksi • Sabtu, 20 Juni 2026 | 13:23 WIB
Veny Ayu Syafitri, Mahasiswi Prodi Ilmu Pemerintahan UMM Malang.
Veny Ayu Syafitri, Mahasiswi Prodi Ilmu Pemerintahan UMM Malang.

DI ERA MODERN yang ditandai dengan kemajuan teknologi, perubahan sosial, dan meningkatnya tuntutan hidup, perempuan menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks. Jika dahulu perempuan lebih banyak diidentikkan dengan peran domestik, kini mereka juga dituntut untuk berprestasi di dunia pendidikan, berkarier, aktif dalam kehidupan sosial, serta tetap mampu menjalankan peran dalam keluarga. Perubahan ini membuka lebih banyak peluang bagi perempuan untuk berkembang, tetapi di sisi lain juga menghadirkan tekanan yang tidak sedikit.

Masyarakat sering kali memandang perempuan sebagai sosok yang tangguh, sabar, dan mampu menghadapi berbagai kesulitan tanpa banyak mengeluh. Kalimat seperti "perempuan itu harus kuat", "ibu pasti bisa menghadapi semuanya", atau "jangan terlalu baper" kerap terdengar dalam kehidupan sehari-hari.

Sekilas, ungkapan tersebut tampak sebagai bentuk motivasi. Namun, ketika kekuatan menjadi tuntutan yang harus selalu dipenuhi, perempuan dapat kehilangan ruang untuk mengungkapkan perasaan, kelelahan, maupun kesulitan yang mereka alami.

Akibatnya, banyak perempuan yang memendam tekanan emosional dalam waktu lama. Mereka berusaha terlihat baik-baik saja meskipun sebenarnya sedang menghadapi kecemasan, stres, kelelahan mental, bahkan depresi. Fenomena inilah yang membuat kesehatan mental perempuan menjadi isu yang semakin penting untuk dibahas dalam masyarakat modern.

Kesehatan Mental dan Pentingnya Perhatian terhadap Perempuan

Kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial yang memungkinkan seseorang menjalani kehidupan secara produktif, membangun hubungan yang sehat, serta mampu menghadapi tekanan hidup.

Kesehatan mental yang baik tidak berarti seseorang selalu merasa bahagia, melainkan mampu mengelola emosi, beradaptasi dengan perubahan, dan menghadapi tantangan secara sehat.

Perempuan memiliki pengalaman hidup yang berbeda dibandingkan laki-laki. Berbagai faktor biologis, psikologis, dan sosial dapat memengaruhi kondisi mental mereka.

Perubahan hormon, kehamilan, persalinan, tekanan sosial, diskriminasi gender, hingga kekerasan berbasis gender merupakan beberapa faktor yang dapat meningkatkan kerentanan perempuan terhadap gangguan kesehatan mental.

Dalam banyak kasus, perempuan juga lebih sering menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan dirinya sendiri. Mereka terbiasa menjadi pendengar, perawat, dan penopang bagi orang-orang di sekitarnya.

Namun, ketika kebutuhan emosional mereka sendiri terabaikan, kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental dalam jangka panjang.

Beban Ganda dan Tekanan Peran Sosial

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi perempuan masa kini adalah beban ganda. Banyak perempuan harus menjalankan berbagai peran sekaligus dalam waktu yang bersamaan.

Mereka bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi juga tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak.

Setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor, tidak sedikit perempuan yang masih harus memasak, membersihkan rumah, membantu anak belajar, hingga mengurus berbagai kebutuhan keluarga lainnya. Aktivitas yang terus-menerus dilakukan tanpa jeda dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental.

Selain itu, masyarakat sering memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap perempuan. Mereka diharapkan menjadi pekerja yang profesional, ibu yang sempurna, pasangan yang perhatian, anak yang berbakti, serta anggota masyarakat yang aktif. Ketika tidak mampu memenuhi salah satu ekspektasi tersebut, perempuan sering merasa bersalah atau menganggap dirinya gagal.

Perasaan bersalah yang terus-menerus dapat menjadi sumber stres yang serius. Banyak perempuan akhirnya memaksakan diri untuk terus bekerja dan memenuhi tuntutan meskipun tubuh dan pikirannya sudah merasa lelah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko burnout atau kelelahan emosional yang berkepanjangan.

Tekanan Standar Kesempurnaan di Era Digital

Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Melalui berbagai platform digital, seseorang dapat melihat kehidupan orang lain hanya dalam hitungan detik. Sayangnya, tidak semua informasi yang ditampilkan mencerminkan kenyataan yang sesungguhnya.

Banyak perempuan melihat unggahan mengenai karier yang sukses, tubuh ideal, rumah tangga yang harmonis, hingga gaya hidup yang tampak sempurna. Tanpa disadari, mereka mulai membandingkan kehidupannya sendiri dengan apa yang dilihat di media sosial.

Padahal, sebagian besar konten yang dibagikan merupakan momen terbaik dari kehidupan seseorang. Tidak semua kesulitan, kegagalan, atau masalah ditampilkan kepada publik.

Namun, karena terus terpapar standar yang tampak sempurna, banyak perempuan merasa dirinya kurang baik, kurang cantik, kurang sukses, atau kurang bahagia dibandingkan orang lain.

Fenomena ini dapat memicu rendahnya rasa percaya diri, kecemasan sosial, dan perasaan tidak puas terhadap diri sendiri. Dalam beberapa kasus, tekanan untuk memenuhi standar kecantikan tertentu bahkan dapat memengaruhi kesehatan fisik dan psikologis seseorang.

Fenomena Burnout pada Perempuan

Burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat stres yang berlangsung dalam waktu lama. Saat ini, burnout menjadi salah satu masalah yang banyak dialami perempuan, terutama mereka yang harus menjalankan berbagai tanggung jawab sekaligus.

Gejala burnout dapat berupa kehilangan motivasi, mudah marah, sulit berkonsentrasi, merasa tidak bersemangat, gangguan tidur, hingga munculnya perasaan putus asa. Seseorang yang mengalami burnout sering merasa bahwa apa pun yang dilakukannya tidak pernah cukup baik.

Perempuan yang mengalami burnout cenderung tetap memaksakan diri untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan orang lain. Mereka khawatir dianggap lemah jika mengakui bahwa dirinya sedang kelelahan. Padahal, mengabaikan kondisi tersebut dapat memperburuk kesehatan mental dan memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.

Stigma terhadap Gangguan Kesehatan Mental

Meskipun kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental mulai meningkat, stigma masih menjadi tantangan yang besar. Banyak perempuan enggan mencari bantuan karena takut dianggap lemah atau tidak mampu menghadapi masalah.

Tidak sedikit yang memilih menyimpan masalahnya sendiri karena khawatir mendapatkan penilaian negatif dari lingkungan sekitar. Mereka berusaha tersenyum dan terlihat baik-baik saja meskipun sebenarnya sedang mengalami tekanan emosional yang berat.

Stigma tersebut membuat banyak kasus gangguan kesehatan mental tidak terdeteksi sejak dini. Padahal, seperti halnya penyakit fisik, gangguan kesehatan mental memerlukan perhatian dan penanganan yang tepat. Semakin cepat seseorang mendapatkan dukungan, semakin besar peluang untuk pulih dan kembali menjalani kehidupan secara sehat.

Pentingnya Dukungan dari Lingkungan

Kesehatan mental bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Dukungan dari keluarga, pasangan, teman, dan rekan kerja memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis perempuan.

Mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan empati, serta menghargai perasaan seseorang merupakan bentuk dukungan sederhana yang dapat memberikan dampak besar. Perempuan membutuhkan ruang yang aman untuk mengekspresikan perasaan tanpa takut dianggap lemah atau berlebihan.

Di lingkungan kerja, perusahaan juga dapat berkontribusi dengan menciptakan budaya kerja yang sehat, memberikan fleksibilitas kerja, serta menyediakan layanan konseling bagi karyawan yang membutuhkan. Sementara itu, institusi pendidikan dapat meningkatkan edukasi mengenai kesehatan mental agar generasi muda lebih memahami pentingnya menjaga kesejahteraan psikologis.

Merawat Diri sebagai Bentuk Kepedulian

Banyak perempuan terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain sehingga lupa memperhatikan dirinya sendiri. Padahal, merawat diri atau self-care bukanlah tindakan egois. Sebaliknya, self-care merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.

Merawat diri dapat dilakukan melalui berbagai cara sederhana, seperti beristirahat yang cukup, menjaga pola makan, berolahraga secara rutin, menjalankan hobi, meluangkan waktu untuk relaksasi, serta membangun hubungan sosial yang positif.

Selain itu, mencari bantuan profesional seperti psikolog atau konselor juga merupakan langkah yang bijaksana ketika menghadapi masalah yang sulit ditangani sendiri.

Perempuan perlu memahami bahwa mereka tidak harus selalu kuat setiap saat. Tidak ada yang salah dengan merasa lelah, menangis, atau meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan. Mengakui keterbatasan diri merupakan bagian dari proses menjaga kesehatan mental yang sehat.

Membangun Kesadaran Masyarakat tentang Kesehatan Mental Perempuan

Upaya menjaga kesehatan mental perempuan memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah, institusi pendidikan, media, organisasi masyarakat, dan keluarga perlu bekerja sama dalam meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya kesehatan mental.

Kampanye edukasi, layanan konseling yang mudah diakses, serta lingkungan yang mendukung dapat membantu perempuan memperoleh bantuan yang mereka butuhkan. Selain itu, masyarakat juga perlu mengubah cara pandang bahwa perempuan harus selalu kuat dan mampu menghadapi segala hal sendirian.

Kesadaran bahwa setiap individu memiliki batas kemampuan dan kebutuhan emosional merupakan langkah penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih peduli terhadap kesehatan mental.

Di balik berbagai pencapaian dan peran yang dijalankan, perempuan masa kini menghadapi tekanan yang tidak sedikit. Tuntutan untuk selalu kuat, produktif, dan sempurna sering kali membuat mereka mengabaikan kondisi mental mereka sendiri. Beban ganda, tekanan media sosial,

Stigma kesehatan mental, serta ekspektasi sosial yang tinggi dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis perempuan secara signifikan. Sudah saatnya masyarakat memahami bahwa perempuan tidak harus selalu kuat setiap saat. Mereka juga memiliki hak untuk merasa lelah, sedih, kecewa, dan membutuhkan bantuan.

Kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian penting dari kualitas hidup yang harus dijaga. Dengan dukungan lingkungan yang lebih peduli dan terbuka, perempuan dapat menjalani kehidupannya dengan lebih sehat, bahagia, dan bermakna. (*) 

Editor : Adinda Putri Sefiana
#kemajuan teknologi #kesehatan mental perempuan #umm malang