Sejak beberapa tahun lalu, kemunculan Generative AI (Gen AI) menjadi isu kontroversial di berbagai bidang termasuk dunia pendidikan. Awalnya, Gen AI ditolak oleh berbagai institusi pendidikan karena dianggap melemahkan kemampuan berpikir, menganalisis, dan menulis para peserta didik. Seiring berjalannya waktu, dunia pendidikan mulai melunak.
Mereka yang awalnya melarang total berubah menjadi mengizinkan untuk memanfaatkan secara bijak. Bahkan, tahun 2024, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi telah menerbitkan buku panduan penggunaan Gen AI, khususnya untuk pembelajaran di perguruan tinggi.
Baca Juga: Membedah Hakikat dan Tanggung Jawab Sejati Anggota Parlemen Bersama Subadianto
Dengan adanya legalitas tersebut, pengggunaan Gen AI di dunia akademik menjadi semakin tidak terbendung. Mulai dari penggunaan Gen AI untuk membuat kerangka tulisan, teman diskusi (brainstorming), merangkum jurnal, penerjemah akademis, sampai dijadikan tutor untuk membantu menyederhanakan konsep-konsep rumit. Peserta didik tidak perlu menunggu waktu berhari-hari hanya untuk mencari beberapa informasi.
Gen AI siap memberikan jawaban dalam hitungan detik. Namun demikian, posisi Gen AI adalah sebagai suatu alat bantu, bukan pengganti otak mahasiswa, sehingga apa pun yang dihasilkan dari Gen AI sudah sewajarnya untuk dibaca ulang dan dicek kebenaraannya.
Gen AI ibarat pisau bermata dua. Selain efektif membantu meringankan tugas, teknologi ini juga berpotensi disalahgunakan untuk melanggar aturan di dunia pendidikan.
Salah satu contohnya adalah tugas dan esai yang dikerjakan seluruhnya oleh Gen AI tanpa ada kontribusi pemikiran dari mahasiswa. Padahal, Gen AI seharusnya diposisikan sebagai jembatan untuk memperdalam pemahaman konsep, bukan sebagai jalan pintas yang mematikan nalar logis.
Baca Juga: Dari Ijazah Gibran ke Pilkades Trenggalek: Ketika “Sederajat” Menjadi Persoalan Hukum
Selain itu, kemungkinan munculnya pelanggaran lain yang tidak disengaja adalah adanya halusinasi oleh Gen AI. Hal ini terjadi saat Gen AI memberikan jawaban yang tidak sesuai fakta, tidak logis, atau benar-benar rekaan.
Namun, jawaban tersebut disajikan dengan sangat meyakinkan dan percaya diri seolah-olah jawabannya benar. Sebagai contoh, Gen AI bisa memberikan referensi palsu, membuat tautan URL fiktif, atau mengarang jurnal ilmiah yang sebenarnya tidak pernah ada.
Bahkan, Gen AI bisa mengarang peristiwa dan memanipulasi cerita seorang tokoh di masa lalu dengan mencampuradukkan lini masa sejarah. Oleh karena itu, penggunaan Gen AI untuk tugas dan esai harus disertai dengan sikap kritis dan bertanggung jawab.
Ketergantungan yang terlalu besar pada Gen AI dikhawatirkan dapat mengikis kemampuan berpikir kritis serta kepekaan analisis pada generasi muda.
Oleh karena itu, Gen AI sebaiknya tidak diposisikan sebagai mesin penjawab saja, namun sebagai mitra diskusi. Dengan demikian, untuk menjawab tugas dan esai tetaplah isi kepala mahasiswa yang memegang kendali. Karena bagaimanapun, dari sisi kedalaman pemahaman dan proses berpikir, cara paling bagus untuk mengerjakan tugas dan esai tentunya adalah mengerjakan dengan pikiran sendiri.
Namun, cara ini memiliki keterbatasan yaitu memerlukan waktu yang sangat lama dan memberi beban berpikir yang sangat tinggi kepada otak untuk melakukan analisis dan menyusun argumen.
Agar pengerjaan tugas dan esai menjadi lebih mudah, mungkin bisa dikombinasikan tiga cara. Ketiganya adalah berpikir menggunakan otak sendiri, mencari jawaban lewat mesin pencari (Google), dan menggunakan Gen AI.
Mesin pencari Google bisa digunakan untuk mencari referensi karena sumbernya bisa lebih dipercaya. Dengan metode ini, mahasiswa diarahkan untuk banyak membaca, membandingkan sumber, memilah data, dan memutuskan referensi mana yang akan digunakan dan referensi mana yang akan dieliminasi.
Sedangkan Gen AI digunakan untuk brainstorming, merangkum referensi, menyusun kerangka tulisan, menerjemahkan, dan penyuntingan. Otak digunakan terus sepanjang proses pengerjaan tugas dan esai, karena untuk menyeleksi referensi dan brainstorming tetap diperlukan pemikiran dari mahasiswa sendiri. (*)
Editor : Muhammad Fadli Ardiansyah
Sumber : RADAR TRENGGALEK