TRENGGALEKJENGGELEK - Sains antariksa kini menjadi fokus utama dalam riset teknologi di Indonesia, khususnya memantau perubahan cuaca antariksa..
Salah satu sorotan penting adalah pengembangan sistem pemantauan cuaca antariksa yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Antariksa.
Menurut Rizal Suryana, Peneliti Ahli Muda Bidang Ionosfer, cuaca antariksa mencakup fenomena alam seperti badai matahari, aktivitas geomagnetik, dan gangguan ionosfer.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca 4–10 Juli 2025:Hujan Lebat dan Angin Kencang, Bagaimana Jawa Timur?
Meskipun terjadi di luar angkasa, dampaknya sangat nyata terhadap kehidupan manusia, khususnya dalam sistem komunikasi dan teknologi berbasis GPS.
“Di luar angkasa, badai yang terjadi adalah badai energi bermuatan dari matahari yang dampaknya bisa terasa hingga ke teknologi yang kita gunakan sehari-hari,” jelas Rizal.
Badai matahari dengan intensitas tinggi dapat memicu gangguan geomagnetik dan ionosferik. Akibatnya, sistem Global Positioning System (GPS) dapat kehilangan akurasi.
Baca Juga: Spirit Sufistik di Era Teknologi: Keseimbangan antara Produktivitas dan Kedamaian Batin
Ini berdampak pada aktivitas sehari-hari seperti pemesanan ojek online, layanan pengiriman makanan berbasis aplikasi, dan navigasi transportasi darat dan laut.
Selain itu, sistem operasi satelit juga sangat rentan. Gangguan ini dapat menghambat fungsi komunikasi, pemetaan, dan observasi cuaca Bumi.
Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah Callisto berbasis Software Defined Radio (SDR).
Baca Juga: Failover System: Teknologi Anti-Downtime untuk Layanan Digital Skala Besar
Alat ini mampu menangkap frekuensi dari semburan matahari secara real-time. Callisto memungkinkan pemantauan intensif terhadap intensitas semburan matahari dengan biaya relatif murah dan efisien.
“Teknologi ini lebih murah dan penggunaannya bisa dikuasai secara penuh,” imbuh Rizal.
BRIN juga tengah membangun teleskop canggih di Observatorium Nasional Timau, Nusa Tenggara Timur.
Fasilitas ini difungsikan untuk mengamati benda-benda langit serta satelit buatan yang melintas di orbit Bumi.
Langkah ini menjadi bagian dari program strategis Indonesia dalam mengembangkan eksplorasi antariksa dan pemanfaatan data observasi Bumi untuk mendukung pembangunan nasional. ****
Editor : Dharaka R. Perdana