Trenggaleknjenggelek - Saat teknologi satelit seperti Starlink semakin populer, banyak yang lupa bahwa data internet tak cuma soal kecepatan, tapi juga soal arah dan tujuan. Pertanyaan pentingnya: ke mana data kita pergi saat menggunakan internet dari luar angkasa?
Internet berbasis satelit bekerja dengan cara memantulkan sinyal dari bumi ke satelit orbit rendah, lalu kembali ke stasiun bumi.
Nah, jika layanan ini berasal dari perusahaan asing yang tidak memiliki pusat data di Indonesia maka besar kemungkinan data pengguna akan melintasi batas negara, bahkan benua.
Apa Bahayanya?
Inilah yang disebut dengan cross-border data flow, alias lalu lintas data lintas negara. Di permukaan, ini terlihat seperti efisiensi jaringan.
Namun secara geopolitik, ini adalah pintu masuk bagi pengawasan asing. Negara asal satelit bisa secara legal atau diam-diam mengakses metadata pengguna, pola trafik, hingga konten komunikasi.
Hal ini bukan teori konspirasi. Dalam dokumen bocoran Edward Snowden, terungkap bahwa badan intelijen asing telah lama memanfaatkan infrastruktur internet global untuk memata-matai warga negara lain, termasuk melalui satelit komunikasi.
Indonesia Masih Lemah?
Sayangnya, Indonesia belum punya mekanisme kontrol data satelit seketat Uni Eropa, yang sudah mengatur soal penyimpanan lokal (data localization) dan akses server asing.
Di tanah air, data dari internet satelit kemungkinan besar langsung keluar negeri tanpa disaring atau diamankan oleh sistem dalam negeri.
Jika ini dibiarkan, maka potensi kebocoran data pribadi, bisnis, bahkan komunikasi strategis menjadi sangat tinggi.
Bayangkan instansi pemerintah, rumah sakit, atau sekolah memakai internet satelit lalu semua aktivitas digitalnya “terpantau” dari luar. (sun)