Trenggaleknjenggelek - Kalau pernah kesal gara-gara susah menemukan tombol unsubscribe di email, selamat! Kamu baru saja menjadi korban dark patterns.
Istilah ini dipopulerkan oleh Harry Brignull, seorang UX designer, untuk menggambarkan desain antarmuka yang sengaja dibuat menipu atau memaksa pengguna melakukan sesuatu tanpa sadar.
Dark patterns bukan sekadar “desain jelek”. Mereka adalah strategi halus—kadang licik—yang dimainkan perusahaan untuk keuntungan bisnis.
Jenis-Jenis Dark Patterns yang Sering Ditemui
- Roach Motel
Mudah masuk, susah keluar. Contoh klasik: daftar akun cuma butuh 10 detik, tapi hapus akun bisa bikin kamu frustrasi setengah hari. - Sneak into Basket
Pernah checkout online, eh tiba-tiba ada tambahan barang di keranjang? Itu dia trik “selundupan” belanja digital. - Confirmshaming
Trik ini bikin kamu merasa bersalah kalau menolak. Misalnya tombol “Tidak, saya tidak mau hemat uang”. Duh, psikologi murahan tapi efektif. - Forced Continuity
Trial gratis seminggu, tapi kartu kredit sudah diminta di awal. Begitu lupa membatalkan, saldo rekening pun terpotong otomatis. - Disguised Ads
Iklan yang menyamar jadi tombol “Download” atau “Next”. Banyak korban salah klik dan berakhir dengan file yang tak diinginkan.
Kenapa Dark Patterns Efektif?
Kunci utamanya ada di psikologi manusia. Dark patterns memanfaatkan:
- Bias kognitif (misalnya rasa takut ketinggalan atau FOMO),
- Kebiasaan scrolling cepat,
- Keengganan membaca detail,
- Ketergantungan pada kemudahan digital.
- Hasilnya? Pengguna cenderung klik dulu, mikir belakangan.
Dark patterns ada di mana-mana, dari e-commerce sampai aplikasi streaming. Solusinya? Latih diri untuk membaca detail, jangan tergesa-gesa klik, dan dorong regulasi digital yang lebih adil.
Karena di dunia online, pepatah lama tetap berlaku: “Kalau kamu tidak membayar produk, kemungkinan besar kamulah produknya.” (sun)
Editor : Mahsun Nidhom