Trenggaleknjenggelek - Bagi generasi 2000-an, nama Nokia 7610 jelas tak asing. Dijuluki “Nokia ketupat” karena desainnya yang unik.
Ponsel ini sempat jadi simbol gaya hidup sekaligus bukti bahwa Nokia dulu adalah raja tanpa tanding.
Kini, Nokia kembali merilis Nokia 7610 versi Android dengan desain yang tetap mengingatkan kita pada nostalgia masa lalu.
Namun pertanyaan besarnya: apakah sekadar nostalgia cukup untuk menembus pasar smartphone modern?
Nostalgia Bukan Jaminan
Strategi “menghidupkan kembali ponsel jadul” bukan baru. Motorola pernah mencoba dengan Razr lipat, BlackBerry sempat bangkit dengan Android.
Bahkan Samsung memainkan kartu nostalgia lewat Galaxy Z Flip yang menyerupai ponsel clamshell lawas.
Masalahnya, pasar smartphone saat ini sudah padat. Nokia tertinggal jauh dari pemain besar seperti Samsung, Apple, hingga brand Tiongkok seperti Xiaomi, Oppo, dan Realme.
Ada tiga hal yang membuat kebangkitan Nokia lewat 7610 tidak mudah:
- Ekosistem Android yang keras: pengguna kini mencari lebih dari sekadar desain. Mereka butuh kamera canggih, chipset kuat, baterai awet.
- Harga vs Value: di kelas menengah, kompetisi sudah berdarah-darah. Jika Nokia hanya jual nostalgia, sulit menyaingi value Xiaomi atau Realme.
- Inovasi minim: jika hanya mengandalkan bentuk ketupat, tanpa fitur pembeda yang signifikan, produk ini bisa sekadar jadi gimmick.
Meski berat, Nokia masih punya modal: brand legacy dan loyalitas sebagian pengguna lama.
Jika bisa menggabungkan desain ikonik dengan fitur modern (misalnya kamera kelas flagship, baterai gahar, atau sistem operasi Android murni tanpa bloatware), mungkin saja Nokia 7610 Android bisa jadi kejutan.
Tapi realistisnya, membangkitkan “kejayaan” di era smartphone sekarang adalah misi hampir mustahil.
Kembalinya Nokia 7610 memang bikin kita senyum nostalgia. Tapi di pasar Android yang sudah super kompetitif, nostalgia saja tidak cukup.
Nokia butuh lebih dari sekadar “ketupat”—mereka harus punya resep baru agar tak sekadar jadi bumbu cerita lama. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom