Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Depresiasi Mobil Listrik di Indonesia: Harga Bekas Turun Hingga 50% dalam 2 Tahun

Ichaa Melinda Putri • Minggu, 15 Februari 2026 | 12:50 WIB

Depresiasi Mobil Listrik di Indonesia: Harga Bekas Turun Hingga 50% dalam 2 Tahun
Depresiasi Mobil Listrik di Indonesia: Harga Bekas Turun Hingga 50% dalam 2 Tahun

TRENGGALEK NJENGGELEK-Pasar mobil listrik di Indonesia terus berkembang pesat, namun ternyata ada sisi yang perlu diperhatikan calon pembeli: resale value atau harga jual kembali yang masih belum stabil. Data terbaru menunjukkan bahwa beberapa mobil listrik mengalami depresiasi harga signifikan hanya dalam waktu dua hingga dua setengah tahun.

Contohnya, Hyundai Ioniq 5 tipe Signature Long Range yang saat baru dibanderol Rp846 juta, kini di pasar mobil bekas ditawarkan Rp460 juta. Artinya, dalam waktu sekitar 2,5 tahun, nilainya turun sekitar 55%. Demikian juga dengan Kia EV6 GTline, yang harga barunya mencapai Rp1,349 miliar, kini dibanderol Rp775 juta, turun 57,5% dalam periode yang sama.

Bahkan model lokal seperti Wooling EV Long Range mengalami tren serupa. Harga baru versi ini Rp299,5 juta, sedangkan harga bekas saat ini hanya Rp145 juta, turun sekitar 51,75%. Jika dibandingkan dengan mobil konvensional berbahan bakar bensin atau diesel, depresiasi mobil listrik jauh lebih tinggi. Mobil bensin biasanya hanya turun 15–25% di tahun pertama, dan 10–15% per tahun berikutnya.

Penyebab Harga Mobil Listrik Bekas Anjlok

Beberapa faktor memengaruhi rendahnya nilai jual kembali mobil listrik, antara lain:

  1. Tingginya biaya penggantian baterai – Konsumen khawatir umur baterai mobil listrik terbatas dan mahal jika perlu diganti.
  2. Perkembangan teknologi yang cepat – Model lama cepat ketinggalan, sehingga minat konsumen terhadap unit bekas menurun.
  3. Diskon besar pada mobil baru – Harga mobil listrik baru sering mendapat potongan besar, menekan harga mobil bekas.
  4. Pasar masih terbatas – Penjualan mobil listrik menurun signifikan pada September 2025, hanya 4.039 unit, turun 36,3% dibanding bulan sebelumnya.
  5. Keterbatasan layanan purna jual – Akses layanan servis baterai dan perawatan EV masih terbatas di beberapa daerah.

Meski depresiasi tinggi, mobil listrik tetap menarik bagi konsumen yang ingin berkontribusi pada pengurangan emisi dan mendapatkan teknologi kendaraan ramah lingkungan terbaru. Namun, calon pembeli disarankan mempertimbangkan potensi kehilangan nilai investasi sebelum membeli mobil listrik baru.

Dengan kondisi ini, pasar mobil listrik di Indonesia masih dalam fase transisi. Seiring bertambahnya infrastruktur, layanan purna jual, dan kesadaran konsumen, nilai jual kembali diharapkan akan semakin stabil ke depannya.

Editor : Ichaa Melinda Putri
#depresiasi EV #mobil listrik bekas #Kia EV6 #Hyundai Ioniq 5 #harga jual kembali mobil listrik #Wooling EV