TRENGGALEK NJENGGELEK-Test ride motor listrik Sprinto kali ini dilakukan dari Ciledug, Tangerang menuju Bogor dengan rute akhir Kopinako Jati. Perjalanan ini menjadi pembuktian nyata performa dan daya tahan baterai motor listrik Sprinto saat digunakan boncengan dengan total beban sekitar 120 kilogram.
Pengujian dimulai dengan kondisi baterai 100 persen dan odometer di angka 1.018 km. Dengan dua penumpang—pengendara 70 kg dan pembonceng 50 kg—uji jalan ini sekaligus menguji klaim jarak tempuh serta respons akselerasi motor listrik Sprinto yang dibanderol sekitar Rp26 jutaan tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju Bogor, berbagai mode berkendara dicoba, mulai dari Comfort, Sport, hingga Boost untuk melihat karakter tenaga dan konsumsi baterainya.
Konsumsi Baterai: 49 Km Tersisa 29 Persen
Memasuki kawasan Parung dan Citraland Nawang, motor sudah menempuh sekitar 24 km dengan sisa baterai 68 persen. Perjalanan berlanjut hingga jarak 35 km dan baterai tersisa 48 persen.
Saat tiba di kawasan Yasmin, Bogor, odometer menunjukkan 1.067 km atau berarti sudah menempuh 49 km dari titik awal. Sisa baterai tercatat 29 persen.
Artinya, dalam kondisi boncengan 120 kg dan kombinasi penggunaan mode berkendara, motor listrik Sprinto menghabiskan sekitar 71 persen baterai untuk jarak 49 km.
Melihat estimasi tersebut, pengendara memutuskan untuk melakukan pengisian daya di dealer Indomobil Yasmin Bogor sebelum melanjutkan perjalanan ke Kopinako.
Fast Charging 35 Ampere, 30 Menit Penuh
Sprinto mendukung fast charging 35 ampere yang tersedia di jaringan dealer Indomobil. Pengisian dilakukan menggunakan wall charger khusus yang terpasang di dealer.
Pengisian dari 29 persen hingga 100 persen disebut memakan waktu kurang dari 45 menit. Bahkan dalam pengujian kali ini, baterai terisi penuh hanya dalam waktu sekitar setengah jam.
Fasilitas fast charging ini tersedia untuk umum dan dapat digunakan 24 jam di dealer tersebut. Keunggulan ini menjadi nilai tambah signifikan, terutama untuk pengguna yang sering melakukan perjalanan antarkota.
Performa dan Mode Berkendara
Selama perjalanan, karakter tenaga motor listrik Sprinto cukup terasa berbeda di tiap mode.
Mode Comfort dinilai paling cocok untuk kondisi macet atau kecepatan rendah karena tarikan lebih halus dan tidak menghentak. Sebaliknya, jika menggunakan mode Sport atau Boost di kecepatan rendah, motor terasa agak “nyentak” dan kurang nyaman.
Namun saat jalan mulai lengang, mode Boost menunjukkan karakter asli Sprinto. Akselerasi terasa spontan dan enteng. Kecepatan sempat menyentuh kisaran 78 km/jam dengan mudah.
Bodi ramping dan bobot ringan membuat motor terasa lincah saat selap-selip di kemacetan. Bahkan saat melibas tanjakan menuju Kopinako dengan kondisi hujan dan boncengan, performanya masih dinilai aman dan responsif.
Total Jarak Tempuh dan Sisa Baterai
Setelah melakukan pengisian daya penuh di Bogor, perjalanan dilanjutkan hingga tiba di Kopinako Jati.
Odometer akhir menunjukkan angka 1.085 km. Artinya, total perjalanan dari titik awal mencapai 67 km.
Menariknya, setibanya di lokasi tujuan, baterai masih tersisa 64 persen. Dengan kombinasi data sebelum dan sesudah pengisian, estimasi realistis jarak tempuh motor listrik Sprinto saat boncengan dua orang berada di kisaran 80 km.
Angka ini lebih rendah dari klaim pabrikan 110 km, namun masih tergolong wajar mengingat beban 120 kg serta penggunaan mode Boost di beberapa kesempatan.
Kelebihan dan Kekurangan
Dari pengujian ini, terdapat sejumlah catatan penting.
Kelebihan utama motor listrik Sprinto adalah bobotnya yang ringan, akselerasi responsif, serta dukungan fast charging yang sangat membantu perjalanan jarak menengah.
Motor ini juga nyaman untuk jarak dekat maupun menengah dan tetap stabil saat boncengan.
Namun ada beberapa catatan. Suspensi belakang terasa agak keras, baik saat sendiri maupun berboncengan. Selain itu, pemilihan mode berkendara perlu disesuaikan kondisi jalan agar tidak terasa menghentak di kecepatan rendah.
Layak Jadi Pilihan?
Dengan harga sekitar Rp26 jutaan, performa yang responsif, serta dukungan fast charging yang luas, motor listrik Sprinto bisa menjadi opsi menarik di segmen skuter listrik perkotaan.
Untuk penggunaan harian dalam kota hingga perjalanan antarkota jarak menengah dengan perencanaan charging yang tepat, Sprinto terbukti cukup mumpuni.
Uji jalan Tangerang–Bogor ini menunjukkan bahwa motor listrik bukan lagi sekadar kendaraan komuter jarak pendek, tetapi mulai siap untuk mobilitas yang lebih luas.
Editor : Ichaa Melinda Putri