TRENGGALEK NJENGGELEK - Balapan Le Mans 24 Jam bukan sekadar adu cepat di lintasan.
Ajang legendaris yang sudah digelar sejak 1923 ini menjadi simbol ketahanan mobil dan mental pembalap selama 24 jam penuh tanpa henti.
Tidak heran jika Le Mans 24 Jam disebut sebagai salah satu balapan mobil paling bergengsi dan tertua di dunia.
Berbeda dengan balapan pada umumnya yang hanya berlangsung puluhan lap, Balapan Le Mans 24 Jam bisa melahap ratusan putaran dalam sehari semalam.
Fokusnya bukan hanya siapa tercepat, tetapi siapa yang paling tangguh, baik dari sisi mesin, strategi tim, maupun stamina pembalap.
Ajang ini pertama kali digagas oleh Georges Durand dan Charles Faroux setelah pameran otomotif di Paris tahun 1922.
Mereka ingin menciptakan balapan yang tak sekadar menguji kecepatan, melainkan juga daya tahan mobil produksi pabrikan.
Dari ide tersebut lahirlah Grand Prix d’Endurance de 24 Heures yang kini dikenal luas sebagai Balapan Le Mans 24 Jam.
Sejarah Awal dan Pemenang Perdana
Edisi perdana digelar pada 26–27 Mei 1923 dengan 33 mobil dari 17 pabrikan berbeda.
Setiap mobil dikendarai dua pembalap secara bergantian. Balapan dimulai pukul 16.00 dan berakhir di waktu yang sama keesokan harinya.
Pemenang pertama adalah André Lagache dan René Léonard. Keduanya sukses menyelesaikan 128 lap, unggul empat lap dari pesaing terdekat.
Sejak saat itu, Le Mans berkembang menjadi ajang pembuktian teknologi otomotif global.
Empat Kelas dalam Satu Sirkuit
Salah satu keunikan Balapan Le Mans 24 Jam adalah sistem multi-kelas. Empat kelas berbeda berlomba bersamaan dalam satu sirkuit yang sama, menciptakan strategi kompleks dan duel lintas kategori.
1. LMH (Le Mans Hypercar)
Ini adalah kelas tertinggi, sebelumnya dikenal sebagai LMP1. Mobil di kelas ini merupakan prototype murni yang dibangun khusus untuk balapan, bukan berbasis mobil produksi massal.
Berat minimum mobil mencapai 1.030 kg dengan tenaga maksimum sekitar 671 hp. Ban dipasok oleh Michelin dan nomor panel berwarna merah.
2. LMP2 (Le Mans Prototype 2)
Kelas di bawah Hypercar ini menggunakan sasis dan mesin yang ditentukan regulator.
Berat minimum 930 kg dengan mesin Gibson V8 4,2 liter bertenaga 600 hp. Tangki bahan bakar berkapasitas 75 liter, dan nomor panel berwarna biru.
3. LMGTE Pro
Berbasis mobil produksi massal jenis Grand Touring (GT). Pembalapnya profesional dengan spesifikasi mesin turbo atau naturally aspirated. Nomor panel berwarna hijau.
4. LMGTE Am
Spesifikasinya mirip kelas Pro, namun kategori pembalap lebih rendah. Nomor panel berwarna oranye.
Format ini menjadikan Le Mans sebagai “four in one race” yang sarat taktik dan manajemen risiko.
Rekor dan Fakta Unik
Balapan Le Mans 24 Jam menyimpan sejumlah rekor mencengangkan. Salah satunya terjadi pada 1927, ketika selisih jarak antara juara pertama dan kedua mencapai hampir 350 kilometer, margin terbesar dalam sejarah ajang ini.
Rekor kecepatan juga tercatat lebih dari 400 km/jam di lintasan lurus Mulsanne yang panjangnya sekitar 5,8 km. Catatan tersebut dibukukan oleh Roger Dorchy pada 1988.
Sementara rekor lap tercepat diraih pada 2017 oleh Kamui Kobayashi dengan waktu 3 menit 14,791 detik menggunakan Toyota TS050 Hybrid.
Tradisi start Le Mans juga sempat unik. Pembalap dulu berlari menuju mobilnya sebelum memulai balapan. Namun, di era modern, mereka langsung duduk di kokpit demi faktor keselamatan.
Kiprah Pembalap Indonesia
Indonesia pun pernah mencatatkan sejarah di Balapan Le Mans 24 Jam. Sean Gelael tampil di kategori LMP2 bersama timnya dan menjadi salah satu unggulan.
Selain itu, pembalap senior Andrew Haryanto turun di kelas LMGTE Am. Ia mengendarai Porsche 911 RSR-19 dan bersaing dengan tim-tim papan atas dunia.
Kehadiran pembalap Indonesia di ajang legendaris ini menjadi bukti bahwa talenta Tanah Air mampu bersaing di level internasional.
Lebih dari Sekadar Balapan
Le Mans 24 Jam bukan hanya tontonan, tetapi laboratorium teknologi otomotif. Berbagai inovasi mesin, aerodinamika, hingga efisiensi bahan bakar lahir dari kompetisi ini dan kemudian diterapkan pada mobil produksi massal.
Tak heran jika hingga kini Balapan Le Mans 24 Jam tetap menjadi magnet bagi pabrikan besar dunia.
Di sinilah reputasi, teknologi, dan sejarah dipertaruhkan dalam satu balapan ekstrem selama 24 jam nonstop.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan