JAKARTA – Wuling Air EV Lite 300 kembali jadi sorotan setelah pengakuan jujur seorang pemilik yang sudah memakainya hampir tiga bulan. Bukan soal keluhan fatal, melainkan rasa “nyesel” karena tidak membeli mobil listrik ini lebih cepat. Alasannya sederhana: penghematan biaya operasional yang disebut bisa mencapai 10 kali lipat dibanding mobil bensin.
Dani, pemilik Wuling Air EV Lite 300, membeli mobil listrik mungil ini pada akhir Desember dengan harga Rp175 juta. Ia mengaku awalnya membeli mobil tersebut untuk kebutuhan istrinya mengantar anak sekolah. Namun setelah digunakan rutin, justru perhitungan ekonominya yang membuatnya terkejut.
“Kalau ditanya nyesel enggak beli mobil ini? Nyesel sih… nyesel kenapa enggak dari dulu,” ujarnya.
Pilih Baru karena Garansi Baterai
Dani mengaku sempat mempertimbangkan unit bekas varian Long Range yang harganya di bawah Rp200 jutaan. Namun ia akhirnya memilih unit baru varian Lite 300 karena faktor garansi baterai.
Menurutnya, ada kekhawatiran jika membeli unit bekas maka garansi baterai bisa tidak berlaku. Sebagai pengguna awam kendaraan listrik, ia merasa lebih aman membeli baru agar mendapat perlindungan penuh, terutama untuk komponen baterai yang menjadi jantung mobil listrik.
Secara fitur, ia tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan dengan varian Long Range. Kebutuhannya sederhana: mobil untuk dalam kota, antar-jemput anak, dan belanja harian.
Biaya Operasional Turun Drastis
Inilah poin utama yang membuatnya puas dengan Wuling Air EV Lite 300. Sebelumnya, ia menggunakan mobil bensin harian yang menghabiskan sekitar Rp2 juta per bulan hanya untuk bahan bakar.
Dalam setahun, biaya bensin saja bisa mencapai Rp24 juta. Ditambah pajak tahunan sekitar Rp4,5 juta dan servis rutin dua kali setahun sekitar Rp6–7 juta, total pengeluaran operasional bisa menyentuh Rp35 juta per tahun.
Bandingkan dengan mobil listrik ini.
Biaya listrik untuk pengisian daya hanya sekitar Rp200 ribu per bulan atau Rp2,4 juta per tahun. Servis berkala disebut hanya sekitar Rp300 ribu sekali datang. Pajak tahunan pun jauh lebih ringan, sekitar Rp300 ribu di tahun pertama dan lebih rendah di tahun berikutnya.
Jika dihitung kasar, total biaya operasional tahunan mobil listrik ini hanya sekitar Rp3–4 juta. Artinya, penghematan bisa lebih dari Rp30 juta per tahun dibanding mobil bensin sebelumnya.
Cocok untuk Dalam Kota
Dari sisi penggunaan, Dani mengaku mobil ini sangat praktis untuk area perkotaan. Dimensinya kecil sehingga mudah bermanuver dan parkir.
Meski tampak mungil dari luar, kabinnya dinilai cukup lega untuk keluarga kecil. Untuk kebutuhan dalam kota, jarak tempuh 300 km dari varian Lite 300 sudah lebih dari cukup.
Salah satu pengalaman uniknya adalah saat kesulitan mencari parkir di lokasi ramai. Ia menemukan slot parkir khusus kendaraan listrik yang tersedia charger (SPKLU) dan kosong. Sambil parkir, ia sekaligus mengisi daya selama dua jam.
Namun, bukan berarti tanpa kekurangan.
Kekurangan: Rasa Berkendara dan Kenyamanan
Ia mengakui sensasi berkendara terasa seperti “mobil mainan”. Handling memang ringan, tetapi suspensi dinilai kurang nyaman dan terasa body roll. Posisi setir juga tidak bisa diatur tilt maupun telescopic, sehingga kurang fleksibel untuk perjalanan jauh.
“Kalau buat luar kota mungkin pegal. Cocoknya memang buat dalam kota,” ujarnya.
Meski begitu, ia tidak terlalu mempermasalahkan kekedapan kabin atau fitur tambahan. Baginya, fungsi utama sebagai kendaraan harian sudah terpenuhi.
Tetap Pilih yang Lebih Murah
Menariknya, saat ditanya soal versi facelift terbaru yang harganya sekitar Rp184 jutaan, ia tetap memilih unit yang sudah dibelinya. Menurutnya, peningkatan hanya bersifat kosmetik dan tidak terlalu signifikan secara fitur.
Baginya, selisih harga Rp9 jutaan lebih baik dihemat karena fungsi kendaraan tetap sama.
Kisah ini menambah daftar testimoni positif terhadap mobil listrik mungil dari Wuling Motors ini. Di tengah naiknya harga BBM dan biaya servis kendaraan konvensional, Wuling Air EV Lite 300 menjadi alternatif rasional untuk mobilitas harian.
Bagi Dani, keputusan beralih ke mobil listrik bukan sekadar ikut tren, melainkan langkah finansial yang masuk akal. Dan rasa “nyesel” yang ia maksud bukan karena kecewa—melainkan karena merasa terlambat berhemat.
Editor : Ichaa Melinda Putri