JAKARTA – Tes tanjak BYD Atto 1 di kawasan Trawas, Prigen, Pandaan, Jawa Timur, menjadi sorotan setelah muncul keluhan bahwa mobil listrik ini disebut hampir tak kuat menanjak menuju sebuah vila. Namun, pengujian ulang membuktikan hasil berbeda. Dalam tes tanjak BYD Atto 1 tersebut, mobil justru mampu melibas tanjakan dengan relatif mudah.
Tes tanjak BYD Atto 1 dilakukan di jalur dengan kemiringan sekitar 15 derajat. Bagi pengemudi di wilayah Surabaya dan sekitarnya, rute menuju Trawas memang dikenal memiliki beberapa titik tanjakan curam. Karena itu, uji coba ini cukup relevan untuk calon pembeli yang sering bepergian ke daerah pegunungan.
Awalnya, muncul cerita bahwa BYD Atto 1 sempat merayap sangat pelan dan terasa seperti kehabisan tenaga saat menanjak di jalur yang sama. Hal itu memunculkan pertanyaan: benarkah mobil listrik mungil ini kurang bertenaga untuk medan menanjak?
Skenario Pengujian: Normal vs Sport
Pengujian dilakukan dalam dua skenario. Pertama, mobil langsung melaju tanpa berhenti hingga puncak tanjakan. Kedua, mobil sengaja dihentikan di tengah tanjakan, lalu kembali dijalankan untuk melihat kemampuan start di medan curam.
Pengaturan awal menggunakan drive mode Normal, regenerative braking standar, AC menyala pada level rendah, serta stability control aktif. Total bobot penumpang sekitar 337 kilogram—mewakili empat orang dewasa.
Pada skenario pertama, BYD Atto 1 mampu menanjak tanpa tanda-tanda kehilangan tenaga (power loss). Akselerasi memang tidak agresif, tetapi cukup stabil hingga mencapai ujung tanjakan.
Skenario kedua menjadi ujian sesungguhnya. Mobil dihentikan total di tengah tanjakan, lalu pedal akselerator diinjak kembali. Awalnya terasa sedikit berat, namun setelah traksi didapat, mobil perlahan merayap naik tanpa kendala berarti.
Mode Sport Lebih Responsif
Pengujian berikutnya dilakukan dengan drive mode Sport. Hasilnya terasa lebih responsif sejak awal. Dalam skenario tanpa berhenti, mobil melaju lebih enteng dan cepat mencapai puncak.
Saat diuji berhenti di tengah tanjakan dengan mode Sport, karakter yang muncul hampir sama seperti mode Normal, hanya saja respons pedal terasa lebih sigap. Setelah momen awal yang sedikit berat, mobil kembali menanjak dengan lancar.
Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tes tanjak BYD Atto 1 di kemiringan 15 derajat tidak menunjukkan masalah signifikan, baik di mode Normal maupun Sport.
Faktor Penting: Traksi Ban
Pengujian ini juga menegaskan satu hal penting: kemampuan menanjak tidak hanya bergantung pada tenaga motor listrik, tetapi juga traksi ban. Seberapa kuat ban mencengkeram permukaan jalan sangat menentukan keberhasilan mobil melewati tanjakan.
Motor listrik memiliki karakter torsi instan, sehingga secara teori lebih unggul dalam start di tanjakan dibanding mobil bensin konvensional. Namun jika traksi kurang optimal—misalnya permukaan jalan licin atau ban kurang mencengkeram—mobil tetap bisa kesulitan.
Dalam tes ini, tidak ditemukan gejala roda selip berlebihan. Setelah traksi didapat, mobil langsung bergerak stabil ke atas.
Relevan untuk Calon Pembeli
Uji tanjak seperti ini penting bagi konsumen yang tinggal atau sering bepergian ke daerah perbukitan. Spesifikasi di atas kertas sering kali tidak cukup menggambarkan performa riil di lapangan.
Dengan bobot penumpang 337 kg—mendekati simulasi lima orang dewasa—BYD Atto 1 terbukti masih sanggup melewati tanjakan 15 derajat tanpa kendala berarti. Artinya, untuk kebutuhan harian hingga perjalanan ke daerah pegunungan ringan, mobil ini tergolong aman.
Secara keseluruhan, hasil tes tanjak BYD Atto 1 di Trawas mematahkan anggapan bahwa mobil listrik entry-level ini lemah saat menghadapi tanjakan. Baik dalam mode Normal maupun Sport, performanya dinilai memadai.
Bagi calon pembeli kendaraan listrik yang khawatir soal performa di medan menanjak, hasil pengujian ini bisa menjadi referensi tambahan sebelum memutuskan pembelian.
Editor : Ichaa Melinda Putri