BANDUNG – Tes nanjak BYD Atto 1 menuju Lembang kembali jadi perbincangan setelah sebuah uji jalan dilakukan dari Braga Heritage hingga kawasan camping Tangkal Pinus, Cikole. Perjalanan ini bukan sekadar touring biasa, melainkan pembuktian langsung performa BYD Atto 1 Dynamic saat melibas tanjakan panjang khas Bandung Utara.
Tes nanjak BYD Atto 1 ini dimulai dari kondisi baterai 100 persen dengan trip meter direset dari nol. Jarak tempuh menuju lokasi camping diperkirakan sekitar 25–30 kilometer, namun mayoritas rutenya berupa tanjakan. Bahkan, rombongan melewati tanjakan curam yang dikenal warganet sebagai “Tanjakan Spongebob”.
Sejak meninggalkan pusat Kota Bandung, kemacetan akhir pekan sudah terasa. Lima kilometer pertama bahkan memakan waktu hampir satu jam. Namun, ujian sesungguhnya baru dimulai ketika memasuki kawasan Dago dan jalur alternatif menuju Lembang.
Torsi Instan Jadi Andalan
Dalam kondisi drive mode normal, BYD Atto 1 sudah menunjukkan karakter khas mobil listrik: torsi instan tanpa jeda. Setiap kali pedal gas diinjak, tenaga langsung tersalurkan tanpa delay seperti pada mobil bermesin bensin.
Beberapa titik tanjakan mengharuskan kendaraan melambat karena polisi tidur atau kendaraan lain di depan. Namun setelah pedal diinjak kembali, mobil dengan mudah kembali merayap naik. Bahkan saat harus menyusul kendaraan di tanjakan, akselerasinya terasa ringan.
Pengemudi juga sempat mencoba mode Sport untuk mendapatkan respons lebih agresif. Hasilnya, mobil terasa semakin enteng saat menanjak, terutama ketika membutuhkan akselerasi cepat untuk menyalip kendaraan lain.
“Kalau mobil listrik itu justru enak di tanjakan karena torsinya instan,” begitu kesan yang muncul selama perjalanan.
Lewati Tanjakan Curam Tanpa Drama
Salah satu momen paling menantang terjadi saat melewati tanjakan yang cukup terjal dan sempat membuat kendaraan di depan mengeluarkan asap tebal. Namun BYD Atto 1 tetap mampu menjaga momentum hanya dengan injakan gas seperempat hingga setengah pedal.
Tidak ada gejala kehilangan tenaga signifikan. Bahkan saat kecepatan turun karena kemacetan atau tikungan sempit, mobil masih mampu kembali naik dengan stabil.
Fitur creeping mode juga membantu saat menghadapi kondisi stop and go di tanjakan. Saat pedal gas dilepas, mobil tidak langsung meluncur mundur drastis, melainkan tertahan sejenak sehingga pengemudi lebih percaya diri.
Karakter ini menjadi nilai tambah dibanding beberapa kendaraan lain yang lebih mudah mundur ketika berhenti di tanjakan curam.
Konsumsi Baterai: 24 Persen untuk 23,5 Km
Bagian menarik dari tes nanjak BYD Atto 1 ini adalah data konsumsi energi. Setibanya di Tangkal Pinus, jarak tempuh tercatat 23,5 kilometer. Namun baterai yang terpakai mencapai 24 persen.
Artinya, dalam kondisi full tanjakan, kemacetan panjang, dan penggunaan mode Sport, setiap 1 persen baterai hanya menempuh sekitar 1 kilometer. Angka ini tentu lebih boros dibanding pemakaian dalam kota yang relatif datar.
Namun kondisi tersebut masih dianggap wajar mengingat medan yang didominasi tanjakan panjang dan gaya berkendara yang cukup agresif.
Sebagai gambaran, jalur menuju Lembang memang terkenal memiliki elevasi signifikan. Perjalanan dua jam lebih untuk jarak tak sampai 25 kilometer juga menunjukkan beratnya kondisi lalu lintas akhir pekan.
Cocok untuk Touring Ringan?
Setelah tiba di lokasi camping, mobil langsung diparkir di dekat tenda. Fitur Vehicle to Load (V2L) pun rencananya akan dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik ringan selama berkemah.
Dari hasil perjalanan ini, dapat disimpulkan bahwa BYD Atto 1 mampu menghadapi rute menanjak menuju Lembang tanpa kendala berarti. Tenaga cukup, akselerasi responsif, dan kontrol tetap stabil meski membawa penumpang serta barang camping.
Memang, konsumsi baterai meningkat signifikan di jalur ekstrem. Namun untuk kebutuhan wisata pegunungan ringan, performanya masih tergolong memadai.
Tes nanjak BYD Atto 1 ini sekaligus menjawab keraguan sebagian orang soal kemampuan mobil listrik di medan berat. Dengan perencanaan daya yang tepat dan pemahaman karakter kendaraan, mobil listrik entry-level pun ternyata bisa diajak “belusukan” ke kawasan hutan pinus Bandung Utara.
Editor : Ichaa Melinda Putri