JAKARTA - Tren mudik Ramadan naik motor listrik mulai dilirik para rider. Salah satunya dilakukan konten kreator Mas Rang yang menjajal perjalanan Jakarta menuju Jawa Tengah menggunakan Polytron Fox 500.
Perjalanan mudik Ramadan naik motor listrik ini dilakukan bersama sang istri, Mbak Nindi. Mereka berangkat dari Jagakarsa, Jakarta Selatan, dengan tujuan awal Blitar, Jawa Timur. Namun etape pertama difokuskan menyusuri jalur Pantura hingga Pekalongan.
Berbeda dengan motor bensin yang mudah menemukan SPBU, mudik Ramadan naik motor listrik menuntut perencanaan matang, terutama dalam menentukan titik pengisian daya di SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum).
Baca Juga: Review Motor Listrik Uinfly T90, Harga Rp7 Jutaan Tembus 66 Km/Jam, Bagasi 27 Liter Bikin Kaget!
Start dari Jakarta, Andalkan Mode Eco
Mas Rang mengawali perjalanan dengan baterai 100 persen. Mode berkendara yang dipilih adalah Drive atau Eco untuk menjaga efisiensi daya. Dalam 6 kilometer pertama, baterai turun menjadi 97 persen.
Memasuki wilayah Bekasi hingga Karawang, konsumsi daya mulai terasa lebih cepat. Saat jarak tempuh menyentuh 60 kilometer, baterai sudah tersisa 30 persen. Faktor bobot berboncengan serta kondisi lalu lintas Pantura yang padat ikut memengaruhi konsumsi energi.
Menariknya, saat baterai menyentuh 20 persen, sistem otomatis mengunci motor di mode Eco. Kecepatan dibatasi sekitar 60 km/jam demi menjaga sisa jarak tempuh tetap aman hingga SPKLU terdekat.
“Kalau sudah 20 persen, enggak bisa pindah ke mode sport. Dipaksa hemat,” ujar Mas Rang dalam perjalanannya.
Baca Juga: Tes GPS Garmin Forerunner 55 vs Forerunner 165: Selisih Meteran, Ini Fakta yang Jarang Dibahas
Deg-Degan 5 Persen Menuju SPKLU
Momen paling menegangkan terjadi saat baterai tinggal 5 persen di kawasan Klari, Karawang. Dengan sisa jarak sekitar 2 kilometer menuju SPKLU, motor masih bisa melaju pelan di kisaran 20–40 km/jam.
Beruntung, mereka tiba tepat waktu di lokasi pengisian. Pengalaman pertama mengisi daya menggunakan sistem token SPLU sempat membuat biaya kurang efisien. Untuk sekali pengisian, mereka mengisi Rp20 ribu karena sistem token tidak bisa mengembalikan sisa saldo.
Padahal, dari nol hingga penuh, Polytron Fox 500 hanya menghabiskan sekitar 2 kWh atau setara kurang lebih Rp6.000 tergantung tarif listrik.
Aplikasi PLN Mobile Jadi Andalan
Dalam perjalanan ini, Mbak Nindi mengandalkan aplikasi PLN Mobile untuk mencari titik SPKLU terdekat. Aplikasi tersebut menampilkan lokasi pengisian yang terintegrasi dengan Google Maps.
Selain itu, aplikasi Polytron EV juga membantu memantau kondisi motor secara real time. Mulai dari sisa baterai, temperatur, hingga lokasi kendaraan dapat diakses langsung dari ponsel.
Polytron bahkan menyediakan panduan rute mudik dalam aplikasinya, seperti Jakarta–Bandung, Jakarta–Cirebon, Jakarta–Jogja hingga Jakarta–Surabaya, lengkap dengan titik pengisian daya.
Singgah di Cirebon dan Brebes
Setelah Karawang, perjalanan dilanjutkan ke Cirebon. Tiba menjelang waktu berbuka puasa, mereka kembali mengisi daya di SPKLU PLN UP3 Cirebon.
Di lokasi ini tersedia berbagai tipe charger, mulai dari sistem barcode, token, hingga koin. Fasilitasnya pun terbilang lengkap dengan musala dan area istirahat.
Perjalanan berlanjut hingga Brebes, Jawa Tengah. Dengan baterai tersisa sekitar 15 persen, pengisian kembali dilakukan sebelum melanjutkan perjalanan malam hari.
Biaya pengisian di Brebes tercatat sekitar Rp6.000 untuk mengisi dari 15 persen hingga penuh.
Jarak Aman 70 Kilometer Saat Berboncengan
Dari pengalaman menyusuri Pantura, Mas Rang menyimpulkan bahwa jarak aman Polytron Fox 500 saat berboncengan berada di kisaran 70 kilometer per sekali charge.
“Kalau goncengan plus barang, idealnya 70 kilometer sudah harus cari SPKLU lagi,” jelasnya.
Keunggulan yang dirasakan selama perjalanan adalah fitur cruise control. Fitur ini memungkinkan motor melaju stabil tanpa perlu menarik gas terus-menerus, sehingga mengurangi rasa pegal di tangan saat melintasi jalur lurus Pantura.
Istirahat Nyaman di PLN Pekalongan
Etape malam berakhir di PLN Pekalongan. Di luar dugaan, fasilitas yang tersedia sangat nyaman. Tersedia ruang ber-AC, toilet bersih, bahkan area istirahat yang memungkinkan pemudik beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
“Rasanya kayak istirahat di hotel,” ungkap Mas Rang.
Fenomena ini menunjukkan kolaborasi serius antara produsen motor listrik dan PLN dalam mendukung ekosistem kendaraan listrik nasional.
Lebih Murah dari Bensin?
Sepanjang perjalanan Jakarta hingga Pekalongan, biaya pengisian daya rata-rata berkisar Rp6.000–Rp8.000 per sesi, tergantung metode pembayaran dan sisa baterai.
Jika dibandingkan motor bensin untuk jarak serupa, biaya listrik jelas lebih hemat. Namun, waktu pengisian yang memakan 1–2 jam menjadi faktor yang harus diperhitungkan.
Mudik Ramadan naik motor listrik memang bukan soal kecepatan, tetapi soal manajemen energi dan perencanaan rute. Dengan persiapan matang, perjalanan tetap aman, nyaman, dan ramah di kantong.
Editor : Divka Vance Yandriana