JAKARTA - Mudik Bandung Sukabumi naik motor listrik sejauh 131 kilometer bukan lagi hal mustahil. Seorang rider membuktikan perjalanan lintas kota itu tetap aman dan hemat, meski hanya mengandalkan motor listrik standar dengan tiga baterai original.
Perjalanan mudik Bandung Sukabumi naik motor listrik ini dimulai pukul 05.00 pagi dari Bandung Selatan menuju Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Total jarak tempuh sekitar 131–135 kilometer dengan rute Balai Endah, Mohammad Toha, Jalan Soekarno Hatta, Cimahi, Padalarang, Cianjur, hingga Sukabumi Kota.
Dengan kondisi baterai 99 persen saat berangkat, rider sudah memperhitungkan satu kali pengisian daya di Cianjur. Maklum, jalur menuju Sukabumi dikenal banyak tanjakan yang cukup menguras baterai.
Andalkan Tiga Baterai Volta
Motor yang digunakan masih standar pabrikan dengan dinamo 1.500 watt. Namun untuk mengantisipasi jarak tempuh, ia membawa tiga baterai original Volta berkapasitas 23 Ah per unit.
Dua baterai dipasang paralel, sementara satu baterai disimpan di deck. Total kapasitas mencapai 69 Ah. Dalam kondisi normal, satu baterai mampu menempuh 35–40 kilometer. Artinya, tiga baterai bisa menjangkau sekitar 110–120 kilometer.
“Untuk jarak 131 kilometer jelas harus ngecas dulu, rencananya di Cianjur,” ujarnya.
Ia juga membawa charger 30 ampere guna mempercepat waktu pengisian. Dari kondisi hampir habis hingga penuh, durasi charging sekitar 2–3 jam. Namun biasanya baterai tidak pernah dipakai sampai 0 persen demi menjaga kesehatan sel.
Flyover Kopo hingga Raja Mandala
Pukul 05.30, baterai tersisa 84 persen saat melintasi Jalan Soekarno Hatta menuju Flyover Kopo. Infrastruktur ini memangkas waktu tempuh 5–15 menit dibanding jalur lama.
Pukul 06.00, ia sudah tiba di Flyover Cimindi dengan sisa baterai 77 persen. Lalu lintas mulai padat, terutama di kawasan pasar tumpah menuju Rajamandala.
Ruas Rajamandala sendiri dikenal sebagai jalur bersejarah yang dulu disebut Tol Gope, diklaim sebagai jalan tol terpendek di Indonesia dengan panjang sekitar 200 meter.
Tepat pukul 07.45, ia tiba di Cianjur dengan sisa baterai 38 persen. Angka ini sesuai estimasi awal.
Baca Juga: 5 Alasan Garmin Forerunner 55 Masih Dipakai di 2025, Harganya Kini di Bawah Rp2 Juta
Isi Daya di PLN UP3 Cianjur
Sebelum menuju lokasi pengisian, ia mengecek ketersediaan SPKLU melalui aplikasi PLN Mobile. Fitur ini penting untuk memastikan charger tidak sedang digunakan.
Pengisian dilakukan di SPKLU PLN UP3 Cianjur yang menyediakan tipe charger Type 2 dan CCS2. Fasilitasnya lengkap, mulai dari ruang tunggu ber-AC, sofa, camilan, minuman, hingga musala dan toilet.
“Hitung-hitung istirahat juga karena lagi puasa,” katanya.
Setelah pengisian selesai, baterai kembali penuh. Biaya charging disebut hanya ribuan rupiah.
Tanjakan Gekbrong Ujian Baterai
Dari Cianjur menuju perbatasan Sukabumi di kawasan Gekbrong, jalan didominasi tanjakan panjang. Konsumsi baterai pun meningkat.
Setibanya di Gekbrong pukul 10.15, baterai turun dari 100 persen menjadi sekitar 80 persen. Namun setelah melewati Sukalarang, kondisi jalan menurun sehingga konsumsi daya lebih stabil.
Memasuki Kota Sukabumi pukul 10.30, lalu lintas cukup padat karena aktivitas pasar dan pusat perbelanjaan.
Sekitar pukul 11.00, rider akhirnya tiba di Cibadak, Kabupaten Sukabumi dengan selamat. Sisa baterai tercatat masih 65 persen.
Biaya Hemat, Perawatan Minim
Untuk perjalanan sejauh 131 kilometer, hanya dibutuhkan satu kali pengisian daya di Cianjur dengan biaya sekitar Rp6.000-an.
Ia mengaku sudah lebih dari satu tahun menggunakan motor listrik sebagai kendaraan harian. Penghematan bahan bakar mencapai Rp25.000–Rp30.000 per hari dibanding motor bensin.
Selain itu, motor listrik tidak memerlukan servis rutin seperti ganti oli. Perawatan relatif lebih sederhana dan murah.
Meski demikian, ia mengakui ada kekurangan, terutama tenaga tanjakan yang tidak sekuat motor bensin serta jarak tempuh baterai standar yang terbatas. Namun hal itu bisa disiasati dengan menambah baterai dan menggunakan charger berdaya lebih besar.
Mudik Bandung Sukabumi naik motor listrik ini menjadi bukti bahwa kendaraan listrik bukan hanya cocok untuk dalam kota, tetapi juga mampu menempuh perjalanan antarkota dengan perencanaan yang matang.
Editor : Divka Vance Yandriana