JAKARTA - Mudik Cikarang–Wangon naik motor listrik kini bukan sekadar wacana. Seorang YouTuber, Om Nana, membuktikan perjalanan lintas provinsi menggunakan motor listrik tetap aman asal tahu titik pengisian daya atau SPKLU di sepanjang jalur.
Perjalanan mudik Cikarang–Wangon naik motor listrik ini dilakukan saat momen Lebaran 2025. Start dari Cikarang Utara, Om Nana menempuh jalur selatan via Purwakarta, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Majenang hingga finis di Wangon, Kabupaten Banyumas.
Motor yang digunakan adalah Polytron Fox R, dengan strategi pengisian daya di beberapa checkpoint PLN dan customer service Polytron di kota-kota besar.
Checkpoint 1: PLN Purwakarta
Dari Cikarang, Om Nana memilih jalur Kosambi agar lebih ringkas menuju Purwakarta. Ia sengaja menggunakan mode S (speed) untuk memangkas waktu tempuh.
Sekitar 60 kilometer pertama, ia tiba di checkpoint pertama di sekitar Bundaran Air Mancur Sri Baduga, Purwakarta. Meski baterai masih di kisaran 30 persen, ia tetap mengisi daya sebagai persiapan menanjak ke Bandung.
Menariknya, Om Nana menggunakan dua charger sekaligus dengan sistem “joiner”, menggabungkan charger 10 ampere dan 20 ampere menjadi total 30 ampere agar proses charging lebih cepat.
Kendala Tanjakan dan Engine Panas
Perjalanan Purwakarta–Bandung menjadi ujian berat. Tanjakan panjang membuat dinamo panas hingga muncul peringatan engine.
Solusinya sederhana, motor didiamkan 1–5 menit sampai suhu turun. Ia pun mengubah strategi berkendara, tidak lagi memaksakan mode S sepanjang jalan.
“Mode D cukup untuk jalan landai. Mode S hanya untuk nanjak,” ujarnya.
Karena khawatir baterai tidak cukup, ia sempat mengisi ulang di PLN Padalarang sebelum lanjut ke Bandung.
Baca Juga: 5 Alasan Garmin Forerunner 55 Masih Dipakai di 2025, Harganya Kini di Bawah Rp2 Juta
Charging Gratis 40 Amp di CS Polytron Bandung
Salah satu alasan Om Nana mengejar Bandung adalah fasilitas fast charging 40 amp gratis di CS Polytron.
Dengan arus sebesar itu, baterai terisi jauh lebih cepat dibanding charger pribadinya. Fasilitasnya juga lengkap, mulai dari ruang tunggu nyaman hingga musala.
Setelah penuh, perjalanan dilanjutkan ke Garut.
Checkpoint 3: PLN Limbangan Garut
Di Garut, Om Nana kembali mengisi daya di PLN Limbangan. Ia menjelaskan perbedaan dua sistem pembayaran di SPKLU: token biasa yang hangus jika tidak terpakai, dan sistem kWh yang bisa refund ke saldo bila ada sisa.
Biaya rata-rata pengisian berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000 per sesi, tergantung kebutuhan daya.
Malam hari, ia beristirahat di Tasikmalaya sebelum melanjutkan perjalanan keesokan paginya.
Checkpoint 4: PLN Ciamis
Rencana awal charging di CS Polytron Tasikmalaya batal karena masih tutup libur Lebaran. Ia pun mengalihkan tujuan ke PLN Ciamis.
Dengan sisa baterai 45 persen, perjalanan masih aman. Setelah pengisian selesai, ia melanjutkan perjalanan ke Majenang.
Checkpoint 5: PLN Majenang
Checkpoint terakhir sebelum finis berada di PLN Majenang, Cilacap. Di sini Om Nana kembali mengisi baterai hingga penuh sebelum melanjutkan 16 kilometer terakhir menuju Wangon.
Perjalanan sempat diguyur hujan, namun tidak menghambat laju motor listriknya.
Total Biaya dan Evaluasi
Sepanjang rute Cikarang–Wangon, Om Nana melakukan lima kali pengisian daya di berbagai SPKLU. Estimasi biaya per sesi berkisar Rp5.000–Rp10.000, bahkan beberapa titik gratis seperti di CS Polytron.
Artinya, total biaya charging untuk ratusan kilometer perjalanan lintas Jawa Barat hingga Jawa Tengah ini relatif jauh lebih murah dibanding motor bensin.
Namun ada catatan penting:
-
Hindari memaksa mode S di tanjakan panjang.
-
Perhatikan suhu dinamo dan baterai.
-
Manfaatkan aplikasi PLN Mobile untuk cek ketersediaan SPKLU.
-
Gunakan waktu charging untuk istirahat agar perjalanan lebih aman.
Mudik Cikarang–Wangon naik motor listrik ini membuktikan bahwa kendaraan listrik mampu menjangkau rute lintas kota bahkan lintas provinsi, selama perencanaan matang dan manajemen baterai dilakukan dengan tepat.
Episode berikutnya, Om Nana berencana melanjutkan perjalanan dari Wangon menuju Dieng. Tantangan tanjakan ekstrem pun sudah menanti.
Editor : Divka Vance Yandriana