JAKARTA - Fenomena mobil Cina di Indonesia makin tak terbendung. Dari mobil listrik hingga plug-in hybrid, merek-merek asal Tiongkok kini bukan sekadar alternatif murah, tetapi sudah jadi arus utama. Namun satu pertanyaan klasik tetap muncul: seberapa awet dan reliable mobil Cina setelah dipakai bertahun-tahun?
Pengalaman penggunaan mobil Cina selama lima tahun menjadi gambaran menarik. Salah satunya datang dari unit Wuling Cortez Turbo dan mobil listrik mungil Wuling Air EV (dikenal juga sebagai Wuling RV). Keduanya sudah dipakai cukup lama, bahkan sempat “disiksa”, dan akhirnya masuk bengkel untuk evaluasi kondisi.
Di tengah gempuran produk baru seperti Chery Tiggo 8 CSH dengan teknologi plug-in hybrid, serta pendatang baru seperti VinFast VF3 dan JAC J5, menarik melihat bagaimana kondisi mobil Cina generasi awal setelah pemakaian nyata.
Baca Juga: Simple One Tembus 300 KM! Motor Listrik Buatan India Ini Cuma Rp20 Jutaan, Top Speed 100 Km/Jam
Lima Tahun Dipakai, Kaki-Kaki Jadi Sorotan
Wuling Cortez Turbo yang dipakai selama lima tahun terbilang masih utuh. Mesin tidak bermasalah besar. Namun sektor kaki-kaki mengalami beberapa perbaikan. Hal ini sebenarnya masih wajar untuk mobil berusia lima tahun, apalagi digunakan di jalanan Indonesia yang kondisinya beragam.
Masalah kaki-kaki pada mobil unibody memang berbeda dengan mobil ladder frame seperti Toyota Innova generasi lama yang terkenal tangguh. Stabilitas dan karakter bantingan berbeda. Karena itu, ekspektasi ketahanan pun harus realistis.
Namun yang lebih menarik adalah pengalaman dengan Wuling Air EV yang sudah menempuh 17 ribu kilometer. Mobil listrik mungil ini sempat mengalami setir narik ke kiri, velg peang, hingga rack steer oblak.
Velg Peang dan Rack Steer Oblak di 17.000 Km
Saat dicek di bengkel, roda belakang kiri dan kanan terdeteksi bergoyang saat diputar. Setelah diperiksa lebih lanjut, ditemukan velg bagian dalam sudah peang. Diduga kuat karena sering menghantam trotoar.
Selain itu, rack steer atau sistem kemudi mengalami keausan. Komponen gigi di dalamnya mulai longgar sehingga menimbulkan bunyi saat melintasi jalan rusak. Solusinya dilakukan servis rack steer dan penyetelan ulang.
Bagian rem juga menjadi perhatian. Keempat piringan cakram ternyata tidak rata, membuat pedal rem terasa dalam dan sedikit bergetar saat diinjak. Bengkel melakukan proses bubut untuk meratakan kembali permukaan cakram.
Baca Juga: Komparasi Tailing GF80L vs Opero Star R3 Lit, Mana Sepeda Listrik Terbaik di Harga Rp9 Jutaan?
Menariknya, bearing roda yang sempat dicurigai bermasalah ternyata masih dalam kondisi baik. Suara yang muncul lebih disebabkan oleh velg peang dan kondisi ban.
Biaya Spare Part Ternyata Terjangkau
Satu hal yang cukup melegakan adalah harga suku cadang. Disebutkan bahwa spare part Wuling Air EV relatif murah dan mudah didapat karena populasinya cukup banyak di Indonesia.
Inilah salah satu keuntungan mobil dengan penjualan tinggi. Ketersediaan part melimpah, harga lebih kompetitif, dan opsi bengkel semakin luas. Bahkan untuk komponen seperti rack steer, masih bisa diperbaiki tanpa harus langsung mengganti satu set unit baru.
Mobil Listrik Paling Value for Money?
Pertanyaan berikutnya: apakah mobil Cina, khususnya mobil listrik, benar-benar value for money?
Jawabannya sederhana: untuk urusan efisiensi biaya, mobil listrik termurah sering kali jadi pilihan paling masuk akal. Tanpa biaya ganti oli mesin dan dengan konsumsi energi jauh lebih murah dibanding bensin, pengeluaran rutin bisa ditekan signifikan.
Namun ada faktor besar yang memengaruhi depresiasi, yakni baterai dan kompetisi harga. Baterai mobil listrik umumnya memiliki garansi hingga delapan tahun atau sekitar 120.000–200.000 km. Nilai mobil listrik cenderung turun seiring mendekati akhir masa garansi baterai.
Di sisi lain, kompetisi merek Cina yang agresif membuat harga mobil baru terus ditekan. Ketika model baru hadir dengan teknologi lebih canggih dan harga lebih murah, nilai mobil lama otomatis terkoreksi.
Saat pertama diluncurkan, Wuling Air EV dibanderol sekitar Rp300 jutaan. Kini, karena kompetisi, harga pasarnya turun signifikan. Apalagi dengan hadirnya model baru seperti JAC J5 yang sempat dibanderol sekitar Rp250 jutaan untuk unit terbatas.
Masih Layak Dipakai?
Meski mengalami beberapa masalah kaki-kaki dan velg, secara keseluruhan Wuling Air EV yang diuji masih layak pakai. Setelah perbaikan, setir kembali lurus, bunyi hilang, dan bantingan terasa seperti baru.
Kesimpulannya, mobil Cina bukan lagi sekadar eksperimen pasar. Dalam pemakaian lima tahun, performanya cukup baik dengan catatan perawatan tetap dilakukan. Untuk mobil listrik, faktor harga dan biaya operasional masih menjadi daya tarik utama.
Soal awet atau tidak, jawabannya kembali pada cara pakai. Jika sering menghantam trotoar, mobil Jepang pun bisa rusak. Namun jika dirawat dengan baik, mobil Cina saat ini sudah jauh lebih matang dibanding generasi awalnya.
Editor : Divka Vance Yandriana