Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Terungkap! Tes Jarak Tempuh Wuling Air EV Jakarta-Bandung, Benarkah Bisa Tembus 300 Km Sekali Cas?

Divka Vance Yandriana • Selasa, 24 Februari 2026 | 20:05 WIB

Tes jarak tempuh Wuling Air EV Jakarta-Bandung, benarkah bisa tembus 300 km? Ini hasil real dan sisa baterainya.
Tes jarak tempuh Wuling Air EV Jakarta-Bandung, benarkah bisa tembus 300 km? Ini hasil real dan sisa baterainya.

JAKARTA - Tes jarak tempuh Wuling Air EV kembali jadi sorotan. Mobil listrik mungil andalan Wuling Motors itu diklaim mampu melaju hingga 300 kilometer dalam kondisi baterai penuh. Namun, bagaimana jika dipakai perjalanan luar kota dengan medan menanjak seperti rute Jakarta-Bandung?

Pengujian kali ini dilakukan dengan rute dari Pasar Minggu, Jakarta menuju Bandung, Jawa Barat. Perjalanan dimulai dengan kapasitas baterai sekitar 91 persen. Pada layar panel instrumen, estimasi jarak tempuh (range) menunjukkan angka 273 kilometer—sedikit di bawah klaim maksimal 300 km.

Sejak awal, pengemudi langsung mengubah mode berkendara dari Sport ke Eco untuk menjaga efisiensi daya. Mode Eco diklaim mampu menekan konsumsi baterai agar lebih hemat, terutama untuk perjalanan jarak jauh.

Baca Juga: Tes Wuling Air EV Long Range Tangerang-Bandung, Ternyata Nyampe! Biaya Cuma Rp80 Ribu, Hemat 90 Persen dari Mobil Bensin

Range Turun Bertahap, Seberapa Akurat?

Saat baterai menunjukkan 90 persen, estimasi jarak tempuh berada di kisaran 270 kilometer. Artinya, setiap 10 persen baterai setara kurang lebih 30 kilometer perjalanan. Namun angka ini tentu bergantung pada gaya berkendara dan kondisi jalan.

Mobil listrik memang dikenal lebih boros ketika dipacu dalam kecepatan tinggi. Semakin dalam pedal akselerator ditekan, semakin besar daya listrik yang tersedot. Karena itu, kecepatan dijaga di kisaran 70–80 km/jam, terutama saat masuk jalan tol.

Memasuki Tol Layang MBZ, suspensi dan kenyamanan mulai diuji. Dengan ukuran ban relatif kecil (12 inci), guncangan di jalan beton cukup terasa. Suspensi tergolong empuk, namun travel pendek membuat getaran lebih terasa dibanding mobil dengan roda lebih besar. Meski begitu, untuk ukuran city car listrik, kenyamanan masih dalam batas wajar.

Baca Juga: PLTN Indonesia Kembali Digagas, Kasus Radiasi Serpong dan Cikande Jadi Alarm Kesiapan Nuklir Nasional

Medan Tanjakan Cipularang Jadi Ujian Sesungguhnya

Tantangan utama datang saat memasuki ruas tanjakan di Tol Cipularang. Pada kondisi menanjak, daya yang dibutuhkan meningkat signifikan. Power usage dijaga di kisaran 9–10 kW agar baterai tidak terkuras terlalu cepat.

Di tanjakan panjang, kecepatan bahkan turun ke 47–50 km/jam. Maklum, mobil diisi tiga penumpang dewasa dengan bobot tubuh cukup berat. Beban tambahan jelas memengaruhi performa dan efisiensi energi.

Setelah menempuh sekitar 100 kilometer, baterai tersisa sekitar 59 persen. Artinya, untuk perjalanan 100 km dibutuhkan kurang lebih 31–37 persen daya, tergantung kontur jalan. Selisih antara estimasi awal dan realisasi juga terlihat, dengan perbedaan sekitar 30 kilometer dari range yang tertera saat start.

Baca Juga: Motor Listrik Indomobil Cutie Meluncur di IMS 2026, Harga Mulai Rp15 Juta Sudah Dapat Baterai, Imut tapi Fitur Lengkap!

Pengujian ini membuktikan bahwa klaim jarak tempuh 300 km memang bisa tercapai dalam kondisi ideal, terutama penggunaan dalam kota yang relatif datar. Namun untuk rute Jakarta-Bandung yang didominasi tanjakan dan turunan, konsumsi daya lebih besar.

AC Dingin Banget, Tapi Tak Pengaruhi Konsumsi Signifikan

Menariknya, penggunaan AC tidak memberikan dampak signifikan terhadap penurunan range. Pendingin kabin terasa sangat dingin bahkan di setelan rendah. Baik AC menyala maupun mati, indikator estimasi jarak tidak menunjukkan perubahan drastis.

Ini berbeda dengan beberapa mobil listrik lain yang biasanya mengalami pengurangan range saat AC aktif. Dalam pengujian ini, efisiensi tetap relatif stabil.

Tiba di Bandung, Sisa Baterai Berapa?

Setibanya di Bandung, baterai tersisa 32 persen dengan estimasi jarak tempuh 96 kilometer. Total perjalanan yang ditempuh sekitar 139 kilometer dan menghabiskan kurang lebih 58 persen kapasitas baterai.

Artinya, jika berangkat dari 100 persen penuh, mobil ini secara realistis bisa menempuh sekitar 170–200 kilometer untuk rute berat seperti Jakarta-Bandung. Angka tersebut masih tergolong wajar untuk mobil listrik perkotaan.

Pengisian ulang kemudian dilakukan menggunakan fasilitas charging 7 kW. Dari posisi 30 persen menuju penuh diperkirakan memakan waktu sekitar tiga jam. Mobil ini belum mendukung fast charging 50 kW tanpa adaptor tambahan.

Cocok untuk Dalam Kota, Masih Aman ke Luar Kota?

Secara keseluruhan, tes jarak tempuh Wuling Air EV membuktikan mobil ini memang dirancang untuk penggunaan urban. Dimensi kompak, radius putar kecil, serta efisiensi tinggi di kecepatan rendah menjadi keunggulan utama.

Namun bukan berarti tak bisa dipakai ke luar kota. Dengan perencanaan matang, memastikan titik charging tersedia, serta tidak memaksakan baterai hingga batas minimal, perjalanan antarkota seperti Jakarta-Bandung tetap memungkinkan.

Kesimpulannya, klaim 300 km bukan sekadar gimmick. Angka tersebut bisa tercapai dalam kondisi ideal. Tapi untuk medan berat dan kecepatan tol, pengguna sebaiknya realistis dan memberi margin baterai lebih demi keamanan perjalanan.

Editor : Divka Vance Yandriana
#mobil listrik #harga mobil listrik #Wuling Air EV