Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Setahun Pakai Wuling Air EV, Odometer 27.273 Km: Ini Daftar Kerusakan, Biaya Pajak, dan Fakta Harga Jual Anjlok

Divka Vance Yandriana • Selasa, 24 Februari 2026 | 20:10 WIB

Setahun pakai Wuling Air EV, ini daftar kerusakan, pajak murah, hingga fakta harga jual bekas yang turun drastis.
Setahun pakai Wuling Air EV, ini daftar kerusakan, pajak murah, hingga fakta harga jual bekas yang turun drastis.

JAKARTA - Pengalaman setahun memakai Wuling Air EV akhirnya diungkap secara terbuka. Mobil listrik mungil produksi Wuling Motors ini sudah menempuh 27.273 kilometer. Pemilik membeberkan apa saja kerusakan yang muncul, biaya pajak tahunan, hingga realita pahit soal harga jual kembali.

Dalam pemakaian lebih dari satu tahun, mobil ini tergolong jarang dipakai perjalanan jauh. Fungsinya lebih banyak untuk kebutuhan harian karena dinilai sangat irit. Namun, bukan berarti tanpa kendala.

Salah satu poin yang langsung disorot adalah pajak tahunan yang sangat murah. Untuk mobil listrik ini, pajak yang dibayarkan hanya sekitar Rp143 ribu dan tidak terkena pajak progresif, meski pemilik masih memiliki kendaraan lain. Biaya ini tentu menjadi daya tarik utama mobil listrik dibanding kendaraan konvensional.

Baca Juga: Seharian Keliling Bandung Pakai Wuling Air EV, Berani Nanjak ke Dusun Bambu? Sisa Baterai Bikin Melongo!

Pernah Rusak Gara-Gara Fast Charging Aftermarket

Masalah pertama muncul akibat penggunaan fast charging aftermarket berdaya 7.000 watt. Dampaknya cukup serius: mobil sempat tidak bisa diisi daya (charging). Untungnya, saat itu unit masih dalam masa garansi sehingga perbaikan dilakukan tanpa biaya.

Sejak kejadian tersebut, pemilik memilih menggunakan charger standar bawaan dan tidak lagi memakai fast charging tambahan. Langkah ini diambil untuk menghindari kerusakan serupa terulang.

Hal ini menjadi catatan penting bagi pemilik mobil listrik, khususnya Wuling Air EV, agar berhati-hati menggunakan perangkat charging di luar rekomendasi pabrikan.

Baca Juga: Mudik Bandung Sukabumi Naik Motor Listrik 131 Km, Cuma Sekali Ngecas di Cianjur dan Biaya Ribuan!

Pelek Gampang Meleot, Ganti Ring 14 Malah Bergetar

Keluhan berikutnya datang dari sektor kaki-kaki. Pelek kaleng bawaan disebut mudah meleot. Bahkan bukan hanya satu kasus, teman pemilik juga mengalami hal serupa. Akibat pelek tidak lagi senter, getaran muncul saat mobil berjalan.

Sempat mencoba mengganti velg ring 14, namun hasilnya kurang memuaskan. Timbul suara dengung dan getaran tambahan. Akhirnya, velg dikembalikan ke ukuran ring 12, meski bukan pelek asli bawaan pabrik. Ban sendiri masih menggunakan spesifikasi asli.

Masalah lain yang sempat muncul adalah bunyi “grodok-grodok” di area kaliper rem. Setelah dicek, ternyata ada bagian yang kendor. Solusinya cukup sederhana: dilakukan pelumasan dan pengencangan ulang. Bunyi sempat hilang, namun di jalan kasar kini mulai muncul lagi suara jeduk-jeduk ringan dari area kaki-kaki.

Baca Juga: Zen ES5 Extended Range Resmi Diumumkan, Motor Listrik Hybrid 300 KM dengan Konsumsi BBM 1,5 L/100 KM Bikin Penasaran

Rawan Overheat Saat Tanjakan Berat

Pengalaman kurang menyenangkan juga dirasakan saat mobil dipakai menanjak dengan beban berat. Dalam kondisi jalan merayap dan muatan penuh, sistem sempat mengalami overheat dan otomatis berhenti untuk mendinginkan komponen.

Fenomena ini beberapa kali terjadi, terutama saat perjalanan ke daerah pegunungan seperti Puncak. Artinya, mobil listrik kecil seperti ini memang lebih cocok untuk penggunaan dalam kota ketimbang rute berat dan tanjakan panjang.

Kenyamanan kursi belakang juga menjadi catatan. Penumpang belakang disebut mudah merasa mual saat perjalanan jauh. Faktor dimensi kecil dan suspensi pendek diduga menjadi penyebabnya.

Irit Banget untuk Harian, Tapi Harga Jual Jatuh

Di balik berbagai kekurangan tersebut, pemilik tetap mengakui keunggulan utama mobil listrik ini: efisiensi biaya operasional. Untuk pemakaian harian dalam kota, konsumsi energi sangat hemat dibanding mobil bensin.

Namun ada satu kenyataan yang cukup pahit, yakni harga jual kembali yang anjlok. Di pasar mobil bekas, unit yang dulu dibeli di kisaran Rp300 jutaan kini ditawarkan di angka Rp200 jutaan. Penurunannya tergolong drastis dalam waktu relatif singkat.

Kondisi ini membuat banyak calon pembeli berpikir ulang. Pasar mobil listrik bekas juga belum terlalu likuid karena sebagian masyarakat masih ragu, terutama terkait usia baterai dan biaya perawatan jangka panjang.

Sebagai perbandingan, kini telah hadir model yang lebih besar seperti Wuling BinguoEV yang menawarkan dimensi lebih lega dan tampilan lebih premium. Namun bagi pemilik Wuling Air EV, menjual unit lama bukan pilihan menarik karena depresiasinya terlalu dalam.

Mobil Listrik Bukan untuk Cari Untung Jual Kembali

Dari pengalaman ini, ada satu kesimpulan penting: membeli mobil listrik sebaiknya bukan dengan mindset investasi atau mencari harga jual tinggi di masa depan. Mobil listrik lebih cocok dibeli untuk dipakai jangka panjang.

Dengan garansi baterai yang kini bahkan ditawarkan seumur hidup pada model tertentu, pemilik disarankan menggunakan kendaraan sampai benar-benar maksimal masa pakainya.

Meski kecil dan punya sejumlah kekurangan, pengalaman menjadi early adopter mobil listrik tetap memberi kepuasan tersendiri. Sensasi berkendara senyap, biaya operasional rendah, dan pajak murah menjadi nilai plus yang sulit diabaikan.

Setahun lebih bersama Wuling Air EV, pemilik mengaku tidak menyesal. Hanya saja, jika mempertimbangkan resale value, konsumen harus siap dengan konsekuensinya.

Editor : Divka Vance Yandriana
#mobil listrik #harga mobil listrik #Wuling Air EV