JAKARTA - Sejarah bom nuklir menjadi salah satu bab paling kelam dalam peradaban modern. Senjata ini bukan sekadar alat perang, melainkan simbol kehancuran total yang mampu memusnahkan sebuah kota hanya dalam hitungan detik. Dari Proyek Manhattan hingga tragedi Hiroshima dan Nagasaki, dunia dipaksa menyaksikan bagaimana sains berubah menjadi mesin pemusnah massal.
Sejarah bom nuklir bermula pada 1938 ketika ilmuwan Jerman menemukan fisi nuklir—proses pembelahan atom uranium yang melepaskan energi luar biasa besar. Penemuan ini memicu kekhawatiran global, terutama di Amerika Serikat. Albert Einstein dan Leo Szilard memperingatkan Presiden Franklin D. Roosevelt bahwa Nazi Jerman berpotensi mengembangkan senjata super dahsyat.
Peringatan itu melahirkan Proyek Manhattan, program rahasia Amerika Serikat yang resmi berjalan pada 1942. Lebih dari 130 ribu orang terlibat dalam proyek ambisius ini, termasuk ilmuwan besar seperti J. Robert Oppenheimer dan Enrico Fermi.
Baca Juga: Smartwatch City Jungle Neo GPS Disorot, Murah tapi Bikin Curiga? Ini Hasil Uji Jujur dari Reviewer
Uji Coba Trinity dan Lahirnya Era Nuklir
Pada 16 Juli 1945, uji coba pertama bom atom dilakukan di New Mexico dalam eksperimen bernama Trinity. Ledakan berkekuatan 20 kiloton TNT itu menjadi ledakan nuklir pertama di dunia. Oppenheimer, menyaksikan dahsyatnya ledakan, mengutip kitab suci Hindu: “Kini aku menjadi kematian, penghancur dunia.”
Meski Jerman telah menyerah, perang di Pasifik masih berkecamuk. Presiden Harry S. Truman menghadapi keputusan besar: menggunakan bom atom atau melanjutkan perang konvensional yang diperkirakan menelan ratusan ribu korban.
Keputusan itu akhirnya diambil.
Baca Juga: Honda Brio Kembali Jadi Raja City Car, Mengalahkan BYD Atto 1: Lincah, Irit, dan Harga Kompetitif
Hiroshima: Kota yang Lenyap dalam Sekejap
Pada 6 Agustus 1945, bom atom “Little Boy” dijatuhkan di Hiroshima. Ledakan setara 15 kiloton TNT itu menghancurkan kota dalam sekejap. Suhu di pusat ledakan mencapai ribuan derajat Celsius. Sekitar 80 ribu orang tewas seketika, dan hingga akhir 1945 korban meninggal diperkirakan mencapai 140 ribu jiwa akibat luka bakar dan radiasi.
Tiga hari kemudian, 9 Agustus 1945, bom plutonium “Fat Man” dijatuhkan di Nagasaki dengan kekuatan sekitar 22 kiloton TNT. Sekitar 74 ribu orang meninggal hingga akhir tahun itu. Dua tragedi ini menjadi penanda berakhirnya Perang Dunia II sekaligus membuka era nuklir.
Perlombaan Senjata Nuklir Dimulai
Alih-alih berhenti, sejarah bom nuklir justru memasuki bab baru: perlombaan senjata nuklir. Uni Soviet menguji bom atom pertamanya pada 1949. Dunia pun memasuki era Perang Dingin.
Teknologi berkembang pesat. Pada 1952, Amerika Serikat menguji bom hidrogen pertama dengan kekuatan 10 megaton—ratusan kali lebih kuat dari bom Hiroshima. Uni Soviet menyusul pada 1953.
Puncak unjuk kekuatan terjadi pada 1961 ketika Soviet meledakkan Tsar Bomba, bom nuklir terbesar sepanjang sejarah dengan kekuatan sekitar 50 megaton TNT. Ledakan ini begitu dahsyat hingga gelombang kejutnya memecahkan kaca sejauh ratusan kilometer.
Baca Juga: AI Jadi Senjata Baru? Drone “Elang vs Merpati” China Picu Kekhawatiran AS
Selain Amerika Serikat dan Soviet, Inggris, Prancis, dan Cina ikut memiliki senjata nuklir. Dunia kian tegang.
Upaya Pengendalian dan Traktat NPT
Kengerian dampak radiasi dan ancaman kehancuran global memicu gerakan anti-nuklir. Pada 1963, ditandatangani Perjanjian Pelarangan Uji Coba Nuklir Parsial yang melarang uji coba di atmosfer.
Kemudian pada 1968 lahir Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT), yang bertujuan mencegah penyebaran senjata nuklir. Lima negara diakui sebagai pemilik resmi, sementara negara lain sepakat tidak mengembangkan senjata serupa.
Namun, India, Pakistan, dan Israel berada di luar NPT. Korea Utara bahkan keluar dari perjanjian dan melakukan uji coba nuklir pada 2006. Hingga kini, ancaman nuklir belum sepenuhnya sirna.
Mengapa Nuklir Tak Pernah Digunakan Lagi?
Sejak 1945, tidak ada lagi bom nuklir yang dijatuhkan dalam perang. Salah satu alasannya adalah konsep Mutually Assured Destruction (MAD)—jika satu negara menyerang, balasan akan menghancurkan keduanya.
Selain itu, tekanan moral dan hukum internasional membuat penggunaan nuklir dianggap sebagai tindakan biadab karena dampaknya yang tak pandang bulu terhadap warga sipil.
Sejarah bom nuklir menjadi pengingat bahwa kemajuan sains tanpa kendali etika dapat membawa umat manusia ke ambang kehancuran. Lebih dari 80 tahun setelah Hiroshima dan Nagasaki, dunia masih hidup di bawah bayang-bayang senjata paling mematikan yang pernah diciptakan manusia.
Editor : Divka Vance Yandriana