Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

DeepSeek AI China Guncang Dunia: Saingi ChatGPT, Picu Perang Teknologi dan Saham Rontok di AS

Divka Vance Yandriana • Selasa, 24 Februari 2026 | 21:30 WIB

DeepSeek AI China saingi ChatGPT, picu perang teknologi AS-Tiongkok dan bikin saham raksasa semikonduktor anjlok.
DeepSeek AI China saingi ChatGPT, picu perang teknologi AS-Tiongkok dan bikin saham raksasa semikonduktor anjlok.

JAKARTADeepSeek AI China mendadak menjadi sorotan global setelah diklaim mampu menyaingi bahkan melampaui performa ChatGPT buatan Amerika Serikat. Kemunculan platform kecerdasan buatan ini tak hanya memicu perdebatan teknologi, tetapi juga mengguncang pasar saham dan memperkeruh perang dagang dua raksasa dunia.

Dalam beberapa bulan terakhir, DeepSeek AI China disebut sebagai simbol kebangkitan teknologi Negeri Tirai Bambu. Di tengah pembatasan ekspor chip canggih dari Amerika Serikat, perusahaan AI asal Tiongkok itu justru berhasil menghadirkan model kecerdasan buatan dengan efisiensi tinggi dan biaya jauh lebih murah.

Tak heran, kemunculan DeepSeek AI China langsung menjadi ancaman serius bagi dominasi perusahaan teknologi Barat yang selama ini menguasai pasar global AI.

Baca Juga: Garmin Forerunner 165 vs Coros Pace 3, Selisih Rp51 Ribu! Mana Smartwatch Lari Terbaik

Dikembangkan di Tengah Sanksi

DeepSeek dikembangkan oleh perusahaan yang dipimpin Liang Wenfeng. Platform ini dirancang berbasis machine learning dengan kemampuan analisis data real time, integrasi lintas sistem, hingga auto machine learning yang memungkinkan pengembangan tanpa pengodean intensif.

Yang mengejutkan, pengembangannya disebut hanya menggunakan chip kelas menengah seperti Nvidia H800S—bukan chip tercanggih yang selama ini dianggap syarat mutlak melatih model AI besar.

Keberhasilan tersebut menjadi tamparan bagi kebijakan pembatasan ekspor semikonduktor Amerika Serikat. Sebelumnya, Washington memperketat penjualan chip canggih untuk membatasi pengembangan AI di Tiongkok.

Baca Juga: 5 Smartwatch 2 Jutaan Terbaik 2026, Bukan Murahan! Ini Rekomendasi Paling Akurat Buat Kesehatan dan Olahraga

Namun hasilnya justru sebaliknya. DeepSeek muncul sebagai bukti bahwa inovasi tak selalu bergantung pada perangkat keras paling mahal.

Saham Raksasa Teknologi Anjlok

Dampak kemunculan DeepSeek langsung terasa di pasar modal global. Sejumlah perusahaan teknologi besar mengalami penurunan harga saham signifikan.

ASML dilaporkan kehilangan sekitar 6,5 persen nilai sahamnya.
Siemens Energy bahkan disebut anjlok hingga 20 persen.
Sementara Nvidia juga mengalami penurunan sekitar 17 persen.

Analis menilai gejolak ini dipicu kekhawatiran investor bahwa dominasi teknologi Amerika dalam industri AI mulai terancam.

Baca Juga: Review BYD Atto 1 dari POV Perempuan: Terjual 22.500 Unit, Mobil Listrik Compact Ini Cocok Buat Harian dan Anti Ribet!

Regulasi dan Kekhawatiran Politik

Meski mendapat pujian atas efisiensi dan performanya, DeepSeek juga memicu kekhawatiran geopolitik. Platform ini berada di bawah regulasi ketat otoritas dunia maya Tiongkok, yaitu Cyberspace Administration of China (CAC).

Pada 2023, CAC mengeluarkan regulasi yang mewajibkan perusahaan teknologi mengembangkan AI yang selaras dengan ideologi Partai Komunis Tiongkok dan nilai sosialisme.

Kondisi ini memicu kekhawatiran negara-negara Barat bahwa AI dapat menjadi instrumen pengaruh politik global jika disalahgunakan.

Sejumlah pengamat menilai DeepSeek bukan sekadar produk teknologi, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang Tiongkok dalam memperluas pengaruh ekonomi dan digitalnya.

Perang Teknologi Makin Memanas

Sebagai respons atas kemajuan AI Tiongkok, pemerintah Amerika Serikat mempertimbangkan pembatasan tambahan terhadap perusahaan-perusahaan AI asal China. Tidak hanya chip canggih, pembatasan juga berpotensi diperluas ke akses cloud, model AI Barat, hingga infrastruktur pelatihan.

Di sisi lain, Tiongkok tak tinggal diam. Beijing memperketat pengawasan ekspor mineral penting seperti germanium, galium, dan antimon—komponen vital dalam industri semikonduktor dan teknologi militer.

Langkah saling balas ini mempertegas bahwa persaingan tak lagi sekadar dagang, melainkan perang teknologi yang berdampak luas terhadap ekonomi global.

Babak Baru Rivalitas Global

Kemunculan DeepSeek AI China menandai babak baru rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok. Jika sebelumnya persaingan fokus pada manufaktur dan perdagangan, kini medan tempur bergeser ke kecerdasan buatan dan semikonduktor.

Tiongkok membuktikan bahwa pembatasan teknologi tidak otomatis menghentikan inovasi. Sebaliknya, tekanan justru mendorong pengembangan solusi alternatif yang lebih efisien.

Namun tantangan tetap besar. Perlambatan ekonomi domestik, meningkatnya utang, serta ketegangan geopolitik bisa mempengaruhi laju ekspansi teknologi China ke depan.

Satu hal yang pasti, DeepSeek telah mengubah peta persaingan global AI. Dunia kini menyaksikan bukan hanya adu kecanggihan algoritma, tetapi juga pertarungan pengaruh dan dominasi teknologi yang menentukan arah ekonomi digital masa depan.

Editor : Divka Vance Yandriana
#AS vs China #china #teknologi china