Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

2026 Jadi Titik Balik: Teknologi China Diam-Diam Operasi, Dominasi AS di Chip dan AI Mulai Tergerus

Divka Vance Yandriana • Selasa, 24 Februari 2026 | 21:35 WIB

China diam-diam operasikan teknologi chip dan AI baru di 2026. Dominasi AS tergerus, dunia terbelah dua blok teknologi global.
China diam-diam operasikan teknologi chip dan AI baru di 2026. Dominasi AS tergerus, dunia terbelah dua blok teknologi global.

JAKARTA – Awal 2026 menjadi momen yang mengejutkan dunia teknologi global. Bukan karena peluncuran produk besar atau konferensi internasional, melainkan karena sesuatu yang nyaris tak diumumkan secara terbuka: China diam-diam mulai mengoperasikan teknologi strategis yang selama ini hanya dianggap rumor.

Langkah senyap ini langsung memicu perhatian di Washington dan kalangan pertahanan Amerika Serikat. Selama satu dekade terakhir, AS meyakini bahwa sanksi teknologi—terutama pembatasan ekspor chip dan mesin litografi canggih—akan memperlambat laju inovasi China.

Namun asumsi tersebut kini dipertanyakan.

Baca Juga: Garmin Forerunner 165 vs Coros Pace 3, Selisih Rp51 Ribu! Mana Smartwatch Lari Terbaik

Strategi “Jalan Memutar” Teknologi Chip

Dalam industri semikonduktor, AS dan sekutunya selama ini menguasai teknologi manufaktur paling canggih, termasuk mesin extreme ultraviolet (EUV) yang diproduksi oleh ASML.

Sanksi yang diberlakukan Washington membatasi akses China terhadap chip kelas atas dari perusahaan seperti Nvidia serta teknologi desain dan perangkat lunak manufaktur Barat.

Alih-alih menabrak tembok tersebut, China memilih membangun pendekatan alternatif. Mereka mengembangkan metode manufaktur chip yang tidak bergantung pada EUV dan rantai pasok Barat. Hasilnya mungkin tidak sepenuhnya menyamai chip tercanggih dunia, tetapi dinilai cukup untuk kebutuhan strategis nasional—mulai dari AI militer hingga pusat data dalam negeri.

Baca Juga: 5 Smartwatch 2 Jutaan Terbaik 2026, Bukan Murahan! Ini Rekomendasi Paling Akurat Buat Kesehatan dan Olahraga

Langkah ini mengurangi ketergantungan terhadap Taiwan dan pemasok Barat, sekaligus mengikis salah satu instrumen kontrol utama AS.

AI: Fokus Militer dan Strategis

Jika di Barat AI berkembang pesat pada sektor komersial—chatbot, asisten virtual, hingga otomatisasi bisnis—China disebut mengarahkan pengembangan AI pada kepentingan strategis negara.

AI digunakan untuk simulasi perang, optimasi logistik militer, analisis geopolitik, serta pengambilan keputusan dalam skenario krisis. Pendekatan ini didukung regulasi yang dikendalikan oleh Cyberspace Administration of China, yang memberi ruang eksperimen lebih luas dibanding sistem Barat yang lebih ketat secara etika dan hukum.

Di sisi lain, Amerika menghadapi dilema internal antara inovasi dan regulasi. Perdebatan etika, keamanan data, dan tata kelola AI memperlambat sinkronisasi antara pemerintah dan sektor swasta.

Baca Juga: Review BYD Atto 1 dari POV Perempuan: Terjual 22.500 Unit, Mobil Listrik Compact Ini Cocok Buat Harian dan Anti Ribet!

Energi dan Material: Senjata Ekonomi Baru

Persaingan tidak berhenti pada chip dan AI. China juga memperkuat kontrol atas rantai pasok mineral langka (rare earth) dan mengembangkan baterai generasi baru seperti solid-state.

Penguasaan material ini berdampak luas: dari kendaraan listrik hingga sistem persenjataan dan pusat data. Dengan mengamankan sumber daya lebih awal, China tidak hanya memproduksi teknologi, tetapi juga memiliki posisi tawar dalam menentukan akses global terhadap komponen penting.

Sebaliknya, AS masih bergantung pada sistem rantai pasok global yang kompleks dan terkadang rapuh.

Dunia Terbelah Dua Blok Teknologi

Tahun 2026 menandai fase baru: teknologi-teknologi strategis tidak lagi berada di laboratorium, tetapi telah aktif digunakan dan memengaruhi keseimbangan global.

Dunia perlahan terbelah menjadi dua blok teknologi—blok Barat dan blok China. Standar perangkat keras, perangkat lunak, AI, hingga infrastruktur internet mulai berbeda arah.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, situasi ini menghadirkan peluang sekaligus risiko. Akses teknologi dengan biaya lebih murah dari China bisa mempercepat pembangunan, namun ketergantungan baru juga berpotensi membawa konsekuensi geopolitik.

Akhir Era Dominasi Tunggal?

Selama beberapa dekade, Amerika Serikat berdiri sebagai kekuatan dominan dalam teknologi global. Namun 2026 menunjukkan bahwa dominasi tersebut tidak lagi absolut.

Pertanyaan kini bukan hanya siapa yang paling canggih, melainkan siapa yang paling siap beradaptasi dalam persaingan sistemik jangka panjang.

Sejarah menunjukkan Amerika kerap bangkit saat tertekan. Namun dengan China yang semakin mandiri dalam chip, AI, energi, dan material, peta kekuatan global memasuki babak baru.

Teknologi kini bukan sekadar inovasi—melainkan instrumen kekuasaan. Dan dunia sedang menyaksikan perubahan keseimbangan yang mungkin akan menentukan arah geopolitik dekade mendatang.

Editor : Divka Vance Yandriana
#AI militer China #teknologi global #AS China