JAKARTA - Jetank drone beranak China dipastikan segera memasuki fase penting dalam pengembangannya. Pesawat tanpa awak berukuran raksasa ini dijadwalkan menjalani penerbangan perdana pada akhir Juni 2025 setelah perakitan struktur bodinya rampung.
Jetank drone beranak China pertama kali diperkenalkan dalam Pameran Dirgantara Internasional China ke-15 tahun lalu. Sejak kemunculannya, sistem UAV (unmanned aerial vehicle) ini langsung menyedot perhatian dunia karena konsepnya yang multifungsi dan kapasitas angkutnya yang tidak biasa.
Dengan spesifikasi yang diumumkan, Jetank drone beranak China digadang-gadang menjadi salah satu drone tempur paling serbaguna dalam pengembangan industri pertahanan Negeri Tirai Bambu saat ini.
Baca Juga: Garmin Forerunner 165 vs Coros Pace 3, Selisih Rp51 Ribu! Mana Smartwatch Lari Terbaik
Spesifikasi Raksasa dan Daya Jelajah 7.000 Km
Secara dimensi, Jetank memiliki panjang 16,35 meter dengan bentang sayap mencapai 25 meter. Bobot lepas landas maksimumnya menyentuh 16 ton, dengan kemampuan membawa muatan hingga 6 ton.
Drone ini ditenagai mesin turbofan yang memungkinkannya terbang hingga ketinggian 15.000 meter. Kecepatan maksimumnya diklaim mencapai 700 kilometer per jam. Untuk kategori UAV, angka tersebut tergolong impresif.
Tak hanya cepat dan besar, Jetank juga dirancang untuk misi jarak jauh. Daya tahannya lebih dari 12 jam dengan jangkauan operasional hingga 7.000 kilometer. Artinya, drone ini mampu menjalankan misi lintas wilayah tanpa perlu sering kembali ke pangkalan.
Delapan Titik Senjata dan Rudal Jelajah
Salah satu keunggulan utama Jetank terletak pada delapan titik keras (hardpoints) di tubuhnya. Titik ini memungkinkan pemasangan berbagai jenis persenjataan.
Mulai dari bom berpemandu berbobot 1.000 kilogram, rudal udara ke udara, udara ke darat, anti-kapal, hingga rudal jelajah. Fleksibilitas ini membuat Jetank dapat disesuaikan dengan berbagai skenario tempur, baik ofensif maupun defensif.
Lebih jauh lagi, bagian bawah bodi dirancang dengan modul serang isomerisme. Modul ini memungkinkan drone membawa berbagai jenis muatan tambahan, termasuk ratusan rudal jelajah mini atau UAV kecil.
Konsep “drone beranak” merujuk pada kemampuannya membawa dan melepaskan drone-drone kecil saat berada di udara. Strategi ini dapat digunakan untuk membanjiri pertahanan lawan, melakukan pengintaian tambahan, atau menyerang dari berbagai arah sekaligus.
Sistem Elektronik dan Daya Tahan Tinggi
Selain kekuatan serang, Jetank juga disebut dibekali sistem peperangan elektronik. Kemampuan ini memungkinkan drone mengganggu radar lawan dan meningkatkan peluang bertahan di medan konflik modern yang sarat sistem pertahanan udara.
Kemungkinan integrasi sistem gangguan radar dan perlindungan terhadap rudal menjadi faktor penting dalam meningkatkan survivabilitas. Dalam perang modern, kemampuan mengacaukan sistem deteksi musuh sering kali sama pentingnya dengan daya hancur senjata.
Dengan kapasitas angkut yang besar, Jetank juga berpotensi membawa sistem senjata energi terarah atau perangkat khusus untuk mengganggu sistem pemandu rudal lawan. Walau detail teknisnya belum diungkap sepenuhnya, spekulasi ini memperkuat citranya sebagai UAV strategis.
Tidak Hanya Militer, Bisa untuk Misi Kemanusiaan
Menariknya, pengembang menyebut Jetank tidak hanya dirancang untuk misi tempur. Fleksibilitas muatan membuatnya dapat digunakan dalam operasi penyelamatan darurat atau misi kemanusiaan.
Dalam situasi bencana alam, drone berkapasitas besar ini bisa mengangkut logistik dalam jumlah signifikan ke wilayah yang sulit dijangkau. Dengan daya jelajah ribuan kilometer dan durasi terbang lebih dari 12 jam, operasionalnya dinilai efisien untuk distribusi bantuan cepat.
Sinyal Kuat Ambisi Industri Pertahanan China
Kehadiran Jetank menegaskan ambisi besar China dalam mengembangkan teknologi drone militer canggih. Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing memang agresif memperluas portofolio UAV, baik untuk pengintaian, serangan presisi, maupun peperangan elektronik.
Jika uji terbang pada Juni 2025 berjalan lancar, Jetank berpotensi memperkuat posisi China dalam peta persaingan industri pertahanan global. Drone beranak dengan muatan 6 ton dan jangkauan 7.000 kilometer bukan sekadar proyek eksperimental, tetapi simbol lompatan teknologi.
Kini dunia menunggu hasil penerbangan perdananya. Apakah Jetank benar-benar akan menjadi game changer dalam strategi udara modern, atau sekadar demonstrasi kekuatan teknologi? Jawabannya akan terlihat dalam waktu dekat.
Editor : Divka Vance Yandriana