Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Penjualan Mobil Listrik di Indonesia Anjlok Awal 2026, BYD Tergeser Honda Brio, Masalah Charger Jadi Biang Kerok

Natasha Eka Safrina • Selasa, 24 Februari 2026 | 22:20 WIB

Penjualan mobil listrik di Indonesia turun awal 2026. BYD tergeser Honda Brio, masalah charger dan rumah jadi faktor utama.
Penjualan mobil listrik di Indonesia turun awal 2026. BYD tergeser Honda Brio, masalah charger dan rumah jadi faktor utama.

JAKARTA – Demam kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) sempat melanda Indonesia sepanjang 2025. Penjualan mobil listrik di Indonesia melonjak tajam setelah produsen asal Tiongkok menawarkan EV dengan harga jauh lebih terjangkau dibandingkan era sebelum 2020. Namun memasuki awal 2026, euforia itu mulai mereda. Penurunan penjualan, khususnya pada merek terlaris, menjadi sinyal bahwa pasar EV nasional belum sepenuhnya matang.

Sebelum 2020, mobil listrik identik dengan kendaraan kalangan atas. Harga EV saat itu masih berada di kisaran Rp600 jutaan, membuatnya sulit dijangkau masyarakat luas. Situasi berubah drastis pada 2025 ketika pabrikan Tiongkok seperti BYD mulai menjual EV di rentang harga Rp100–200 jutaan. Kondisi ini mendorong rasa penasaran publik dan membuat penjualan mobil listrik di Indonesia melejit signifikan.

Lonjakan tersebut bahkan mencetak sejarah baru. Untuk pertama kalinya, mobil buatan Tiongkok berhasil menjadi mobil terlaris di Indonesia. BYD sempat memimpin pasar dan digadang-gadang mampu membungkam dominasi pabrikan Jepang. Namun kejayaan itu ternyata singkat. Hanya dalam satu bulan, posisi BYD langsung melorot tiga tingkat dan kini harus puas berada di bawah mobil konvensional seperti Honda Brio.

Baca Juga: Melalui Program BRI Peduli, BRI Branch Office Trenggalek Salurkan 7.142 Paket Sembako untuk Masyarakat Kurang Mampu

Masalah Utama EV: Bukan Harga, tapi Pengisian Daya

Pertanyaan besar pun muncul: mengapa penjualan BYD dan EV lainnya turun drastis? Jawabannya bukan pada harga atau teknologi, melainkan pada faktor paling mendasar, yakni pengisian daya. Mobil listrik membutuhkan proses charging yang jauh lebih lama dibandingkan mengisi bensin. SPKLU masih terbatas, sementara solusi paling ideal adalah memasang wall charger di rumah.

Masalahnya, memasang wall charger memerlukan biaya tambahan dan tidak praktis bagi mereka yang tinggal di rumah sewa atau kontrakan. Fakta di lapangan menunjukkan, mayoritas masyarakat usia produktif Indonesia belum memiliki rumah sendiri. Kondisi ini membuat keputusan membeli EV menjadi tidak realistis bagi sebagian besar konsumen.

Situasi makin rumit bagi penghuni apartemen. Meski beberapa apartemen sudah menyediakan SPKLU, jumlahnya sangat terbatas, biasanya hanya 3–5 unit. Jika dibandingkan dengan jumlah penghuni, fasilitas tersebut jelas tidak memadai dan menimbulkan kerepotan tersendiri.

Baca Juga: Review Lengkap Wuling Air EV Long Range, Mobil Listrik Termurah di Indonesia: Irit Rp160 per Km, Nyaman tapi Lemah di Akselerasi

Data Penjualan BYD Merosot Tajam

Data distribusi menunjukkan penurunan yang cukup mencolok. Pada Januari 2026, BYD Atto 3 hanya terdistribusi sebanyak 3.361 unit. Angka ini berada di bawah Honda Brio yang mencatatkan distribusi 3.672 unit. Padahal pada periode Oktober hingga Desember 2025, total distribusi BYD mencapai 22.582 unit dengan rata-rata bulanan 4.500–8.000 unit.

Penurunan ini sejalan dengan kondisi global. BYD mengakui penjualan mereka di Tiongkok anjlok hingga 30 persen. Bahkan pihak manajemen menyebut keunggulan teknologi BYD kini tidak lagi terlalu signifikan dibandingkan para pesaing, menandakan pasar EV semakin kompetitif dan brutal.

Persaingan EV Makin Ganas, Hybrid Mulai Mengintai

Awal 2026 juga ditandai dengan masuknya pemain baru seperti Geely EX2 yang menawarkan fitur lebih lengkap dengan harga serupa BYD, meski insentif EV sudah dicabut. Kondisi ini membuat segmen EV Rp100–200 jutaan menjadi arena persaingan yang sangat keras. Telat inovasi sedikit saja, produk bisa langsung tenggelam.

Di sisi lain, narasi kendaraan hybrid mulai menguat. Beberapa pabrikan, termasuk Chery, memprediksi era hybrid akan semakin dominan dan EV murni berpotensi melemah. Hal ini memperbesar keraguan konsumen yang masih menimbang kepraktisan penggunaan sehari-hari.

Baca Juga: Review Lengkap Wuling Air EV Long Range, Mobil Listrik Termurah di Indonesia: Irit Rp160 per Km, Nyaman tapi Lemah di Akselerasi

EV Belum Sepenuhnya Diterima Pasar

Meski penetrasi EV di Indonesia tergolong cepat, penerimaannya masih terbelah. Ada yang menilai EV lebih efisien dan ramah lingkungan, namun tak sedikit yang menganggapnya merepotkan. Selama masalah charging belum terpecahkan—baik melalui fast charging ekstrem atau sistem battery swap—penjualan mobil listrik di Indonesia diprediksi masih akan bergerak fluktuatif.

Dengan kondisi ekonomi yang belum merata dan kepemilikan rumah yang rendah, EV tampaknya masih membutuhkan waktu panjang untuk benar-benar menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia.

Editor : Natasha Eka Safrina
#BYD Indonesia #Penjualan Mobil Listrik