JAKARTA - Sejarah Steve Jobs dan Apple selalu menarik untuk diulas. Kisah pendiri Apple ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang ambisi, kegagalan, pengkhianatan, hingga kebangkitan yang mengubah dunia.
Sejarah Steve Jobs dan Apple bermula dari sebuah garasi sederhana di California pada era 1970-an. Bersama sahabatnya, Steve Wozniak, Jobs merintis komputer rumahan yang kemudian dikenal sebagai Apple I.
Film biografi berjudul Jobs menggambarkan perjalanan penuh dinamika tersebut. Mulai dari masa kuliah Jobs yang tak selesai, pencarian spiritual ke India, hingga perjuangannya membangun Apple dari nol.
Baca Juga: Gotong Royong Perbaiki Jalan Kabupaten yang Rusak Parah
Dari Kampus ke Garasi
Pada 1974, Steve Jobs tercatat sebagai mahasiswa di Reed College. Namun, ia memutuskan keluar karena merasa biaya kuliah terlalu mahal dan tak ingin membebani orang tuanya. Meski drop out, Jobs tetap mengikuti beberapa kelas, termasuk kaligrafi—yang kelak memengaruhi desain tipografi komputer Apple.
Setelah kembali dari perjalanan spiritual ke India, Jobs bekerja di perusahaan video game Atari. Di sana, ia dikenal cerdas tetapi sulit diajak bekerja sama. Bersama Wozniak, ia kemudian mengembangkan komputer rumahan di garasi rumah orang tuanya.
Nama “Apple” terinspirasi dari studio rekaman The Beatles, Apple Records. Dari sinilah Apple Computer lahir.
Baca Juga: BYD Atto 1 Resmi Dijual Rp195 Juta, Mobil Listrik Pintu Lengkap Ini Bikin LCGC Bensin Terancam
Apple I dan Awal Perjuangan
Komputer pertama mereka, Apple I, hanya berupa papan sirkuit (board) tanpa casing, monitor, atau keyboard. Seorang pemilik toko komputer bernama Paul Terrell tertarik memesan 50 unit, tetapi meminta produk dalam bentuk lebih lengkap.
Bermodalkan kemampuan lobi dan negosiasi Jobs, mereka berhasil meyakinkan investor dan mulai memproduksi Apple II. Produk ini sukses besar dan menjadi titik balik kejayaan Apple di akhir 1970-an.
Investor besar seperti Mike Markkula menyuntikkan dana ratusan ribu dolar untuk pengembangan Apple II. Perusahaan pun berkembang pesat hingga melantai di bursa saham.
Konflik Internal dan Terdepak dari Apple
Kesuksesan Apple tak lepas dari konflik internal. Jobs yang visioner sekaligus perfeksionis sering berselisih dengan dewan direksi. Ia juga berseteru dengan CEO yang direkrutnya sendiri, John Sculley.
Proyek Macintosh menjadi ambisi besar Jobs. Namun, pemasaran yang tak sesuai target dan kenaikan harga produk membuat posisi Jobs semakin terpojok. Dewan direksi akhirnya lebih memilih Sculley dibanding Jobs.
Ironisnya, perusahaan yang ia dirikan justru menyingkirkannya. Pada 1985, Steve Jobs resmi keluar dari Apple.
Bangkit Lewat NeXT
Tak menyerah, Jobs mendirikan perusahaan baru bernama NeXT. Meski tak sebesar Apple, NeXT sukses mengembangkan teknologi perangkat lunak yang kelak menjadi fondasi sistem operasi modern Apple.
Sementara itu, Apple tanpa Jobs mengalami penurunan performa. Produk kurang inovatif, harga saham merosot, dan perusahaan nyaris bangkrut.
Akhirnya, Apple mengakuisisi NeXT pada 1997 dan meminta Jobs kembali memimpin perusahaan.
Comeback dan Kebangkitan Apple
Kembalinya Jobs menjadi titik balik sejarah Steve Jobs dan Apple. Ia merombak struktur manajemen, memangkas proyek tak produktif, dan mengembalikan visi perusahaan: menciptakan produk inovatif yang mengubah dunia.
Di bawah kepemimpinannya, Apple meluncurkan berbagai produk revolusioner, mulai dari iMac, iPod, hingga iPhone. Filosofi “Think Different” menjadi identitas baru perusahaan.
Jobs pernah berkata bahwa orang-orang yang cukup gila untuk berpikir bisa mengubah dunia adalah mereka yang benar-benar melakukannya. Kalimat itu menjadi refleksi perjalanan hidupnya.
Warisan Sang Visioner
Sejarah Steve Jobs dan Apple adalah cerita tentang keberanian mengambil risiko. Dari garasi kecil hingga menjadi perusahaan teknologi raksasa dunia, perjalanan ini sarat pelajaran tentang kepemimpinan, inovasi, dan keteguhan visi.
Meski Steve Jobs telah wafat pada 2011, warisannya tetap hidup dalam setiap produk Apple. Transformasi digital global tak bisa dilepaskan dari peran visioner yang pernah tersingkir dari perusahaannya sendiri—lalu kembali untuk menyelamatkannya.
Kisah ini bukan hanya tentang teknologi, melainkan tentang mimpi besar yang diperjuangkan tanpa kompromi.
Editor : Divka Vance Yandriana