Siapa yang tak kenal Apple? Brand teknologi asal Amerika Serikat ini dikenal lewat produk-produk premiumnya seperti iPhone, MacBook, hingga Apple Watch. Pada 2024, Apple kembali dinobatkan sebagai salah satu perusahaan paling bernilai di dunia dengan total aset mencapai ratusan miliar dolar AS. Namun, perjalanan Apple menuju puncak kejayaan tidak terjadi dalam semalam.
Awal Berdiri di Garasi
Apple didirikan pada 1 April 1976 oleh Steve Jobs, Steve Wozniak, dan Ronald Wayne di sebuah garasi di Palo Alto, California.
Sebelum mendirikan Apple, Steve Jobs sempat keluar dari Reed College setelah satu semester kuliah. Ia kemudian bekerja di Atari sebagai programmer video game. Di periode yang sama, Jobs juga melakukan perjalanan spiritual ke India untuk mempelajari Buddhisme—sebuah pengalaman yang membentuk pola pikir visionernya di kemudian hari.
Inspirasi untuk membuat komputer pribadi muncul ketika mikrokomputer Altair 8800 hadir di pasaran. Melihat peluang besar, Jobs mengajak Wozniak merancang komputer mereka sendiri.
Baca Juga: Hearing dengan IAI, Komisi IV DPRD Trenggalek Minta Penyederhanaan Proses Perizinan Apotek
Apple I dan Pengorbanan Awal
Untuk membiayai produksi, Jobs menjual mobil Volkswagen miliknya, sementara Wozniak menjual kalkulator HP. Dari sinilah lahir Apple I, komputer rakitan yang dijual tanpa monitor, keyboard, maupun casing.
Mereka berhasil menjual 50 unit Apple I ke toko komputer The Byte Shop dengan harga 666,66 dolar per unit. Namun, keterbatasan modal membuat mereka harus berutang ke pemasok komponen demi memenuhi pesanan.
Tak lama setelah perusahaan berdiri, Ronald Wayne memutuskan menjual 10% sahamnya hanya dengan 800 dolar—keputusan yang kini dianggap sebagai salah satu penyesalan terbesar dalam sejarah bisnis teknologi.
Kesuksesan Apple II dan Ekspansi
Pada 1977, Apple meluncurkan Apple II yang tampil lebih lengkap dan siap pakai. Produk ini sukses besar dan menjadikan Apple sebagai salah satu perusahaan komputer dengan pertumbuhan tercepat saat itu.
Memasuki awal 1980-an, Apple merilis Apple III dan kemudian Lisa—komputer pertama dengan graphical user interface (GUI). Meski Lisa gagal secara komersial karena harga mahal, konsep GUI terbukti menjadi masa depan industri komputer.
Baca Juga: Terungkap! Pajak Mobil Listrik BYD M6 Ternyata Nol Rupiah, Ini Plus Minusnya Setelah Dipakai Sepekan
Konflik Internal dan Kepergian Jobs
Perbedaan visi antara Steve Jobs dan CEO yang direkrutnya dari Pepsi, John Sculley, memicu konflik internal. Pada 1985, Jobs akhirnya keluar dari Apple dan mendirikan perusahaan baru bernama NeXT.
Ironisnya, Apple justru mengalami penurunan performa tanpa Jobs. Hingga akhirnya pada 1997, Apple mengakuisisi NeXT senilai 430 juta dolar dan membawa Jobs kembali ke perusahaan yang ia dirikan.
Era Kebangkitan: iMac hingga iPhone
Setahun setelah kembali, Jobs meluncurkan iMac (1998) yang terjual lebih dari 800 ribu unit dalam lima bulan pertama. Inovasi terus berlanjut dengan hadirnya iPod (2001) dan platform musik digital iTunes.
Puncaknya terjadi pada 2007 ketika Apple memperkenalkan iPhone. Smartphone layar sentuh ini merevolusi industri ponsel global dan menjadi salah satu produk paling sukses sepanjang sejarah teknologi.
Kesuksesan berlanjut lewat peluncuran iPad pada 2010 yang membuka era baru tablet modern.
Pergantian Kepemimpinan
Pada 2011, Steve Jobs wafat akibat kanker pankreas. Kepemimpinan Apple kemudian diambil alih oleh Tim Cook, yang sebelumnya telah menjabat sebagai eksekutif senior.
Di bawah Tim Cook, Apple tetap tumbuh secara finansial dan memperluas ekosistem produknya, termasuk menghadirkan asisten virtual Siri dan merilis Apple Watch pada 2016.
Mengapa Apple Disukai?
Sejak awal, Apple dikenal mengutamakan kualitas, desain premium, dan pengalaman pengguna (user experience). Strategi branding sebagai produk eksklusif juga membuat Apple memiliki citra mewah dan berbeda dari kompetitor.
Apple berani mematok harga tinggi demi mendukung riset dan pengembangan yang masif. Filosofi ini sudah tertanam sejak era Steve Jobs dan terus dipertahankan hingga kini.
Dari sebuah garasi kecil di California hingga menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia, kisah Apple adalah cerita tentang visi besar, inovasi tanpa kompromi, dan keberanian mengambil risiko.