JAKARTA - Isu soal kekurangan motor listrik kembali ramai dibahas setelah sebuah media nasional mengulas lima poin utama yang dianggap menjadi kelemahan kendaraan listrik roda dua. Mulai dari jarak tempuh terbatas hingga isu baterai berbahan logam langka, perdebatan soal motor listrik vs motor bensin kembali mencuat.
Namun, benarkah kekurangan motor listrik tersebut sepenuhnya menjadi alasan untuk tidak beralih ke kendaraan ramah lingkungan? Berikut ulasan lengkapnya.
Jarak Tempuh Terbatas, Fakta atau Persepsi?
Salah satu kekurangan motor listrik yang paling sering disorot adalah jarak tempuhnya yang dinilai lebih pendek dibanding motor bensin. Jika dibandingkan pada harga setara, motor bensin memang unggul dalam hal jarak.
Sebagai gambaran, motor bensin di kelas Rp30 jutaan seperti Honda PCX mampu menempuh jarak hingga 300 kilometer dalam kondisi tangki penuh. Sementara motor listrik di rentang harga serupa rata-rata hanya mampu menempuh sekitar 100 kilometer dalam sekali pengisian baterai.
Di kelas Rp15 jutaan, motor bensin seperti Honda Revo bahkan bisa mencapai 150 kilometer per tangki. Sedangkan motor listrik dengan harga setara umumnya hanya mampu menjangkau 60 kilometer untuk satu baterai.
Meski demikian, keterbatasan ini dinilai tidak terlalu bermasalah bagi pengguna harian. Untuk kebutuhan pulang-pergi kerja atau aktivitas dalam kota, jarak 60–120 kilometer dinilai cukup. Bahkan banyak pengemudi ojek online yang kini beralih ke motor listrik.
Waktu Pengisian Lebih Lama
Kekurangan motor listrik berikutnya adalah waktu pengisian baterai yang lebih lama dibanding mengisi bensin. Jika mengisi bensin hanya butuh beberapa menit, pengisian baterai bisa memakan waktu 4–5 jam untuk baterai lithium.
Untuk motor listrik yang masih menggunakan baterai tipe aki kering, waktu pengisian bahkan bisa mencapai 8–12 jam.
Baca Juga: iPhone 14 Pro vs iPhone 15 di 2026: Mana Lebih Worth It Dibeli, Layar 120Hz atau USB-C?
Namun, dari sisi biaya, pengisian baterai tergolong sangat hemat. Biaya listrik untuk sekali pengisian penuh hanya berkisar Rp3.000 hingga Rp4.000. Selain itu, proses pengisian tidak perlu ditunggu. Pengguna cukup mencolokkan charger dan meninggalkannya hingga penuh.
Beberapa perangkat tambahan seperti timer pemutus arus otomatis juga bisa digunakan untuk mencegah overcharge saat lupa mencabut charger.
Benarkah Biaya Awal Lebih Mahal?
Isu biaya awal yang mahal juga masuk dalam daftar kekurangan motor listrik. Namun faktanya, saat ini terdapat puluhan model motor listrik yang mendapatkan subsidi pemerintah sebesar Rp7 juta.
Dengan subsidi tersebut, banyak motor listrik yang dibanderol di bawah Rp10 juta. Bahkan beberapa model dijual di kisaran Rp7 jutaan setelah potongan subsidi.
Jika dibandingkan dengan motor bensin baru, harga tersebut relatif kompetitif. Motor bensin termurah seperti Honda Revo Fit berada di kisaran Rp16 jutaan, sementara motor matik entry level seperti Honda BeAT dijual sekitar Rp18 jutaan.
Selain harga beli yang kompetitif, biaya operasional motor listrik juga lebih rendah. Pengguna tidak perlu mengganti oli, tidak ada biaya tune-up rutin, serta pajak tahunan lebih murah.
Ketergantungan Infrastruktur Pengisian
Ketersediaan infrastruktur pengisian daya juga kerap disebut sebagai kekurangan motor listrik. Untuk motor listrik sistem charge, pengguna memang perlu memastikan akses ke colokan listrik atau Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU).
Namun, charger motor listrik umumnya menggunakan colokan listrik standar rumah tangga dengan daya relatif kecil. Artinya, pengguna bisa mengisi daya di rumah atau di lokasi umum yang memiliki stop kontak.
Sementara untuk motor listrik dengan sistem swap battery, ketersediaan stasiun penukaran baterai menjadi faktor penting. Di kota besar seperti Jakarta, fasilitas ini relatif mudah ditemukan. Namun di daerah tertentu, pengguna perlu memastikan ketersediaannya sebelum membeli.
Isu Produksi Baterai dan Logam Langka
Poin terakhir yang sering dibahas adalah penggunaan lithium dan kobalt dalam produksi baterai motor listrik. Kedua material tersebut memang termasuk sumber daya yang tidak terbarukan.
Meski demikian, tujuan utama penggunaan kendaraan listrik adalah mengurangi emisi gas buang dan polusi udara. Dalam jangka panjang, kendaraan listrik dinilai tetap lebih ramah lingkungan dibanding kendaraan berbahan bakar fosil.
Sejumlah studi global juga menunjukkan bahwa emisi total kendaraan listrik, termasuk proses produksi baterainya, tetap lebih rendah dibanding kendaraan bensin sepanjang masa pakainya.
Kesimpulan
Dari lima poin yang sering disebut sebagai kekurangan motor listrik, sebagian besar memang memiliki dasar fakta. Namun, banyak di antaranya bersifat relatif tergantung kebutuhan pengguna.
Untuk penggunaan harian dalam kota, motor listrik bisa menjadi alternatif hemat dan ramah lingkungan. Terlebih dengan adanya subsidi pemerintah dan biaya operasional yang rendah, daya tarik motor listrik di Indonesia diprediksi terus meningkat.
Keputusan akhirnya kembali pada kebutuhan dan pola penggunaan masing-masing konsumen.
Editor : Natasha Eka Safrina