JAKARTA – Perdebatan soal Tesla Autopilot dan Full Self-Driving (FSD) masih terus bergulir di kalangan pengguna mobil listrik. Banyak yang mengira keduanya adalah sistem yang sama. Padahal, Tesla Autopilot dan Full Self-Driving dirancang untuk fungsi yang berbeda, baik dari sisi kemampuan, harga, hingga tingkat otonominya.
Tesla Autopilot dan Full Self-Driving sama-sama dikembangkan oleh Tesla, Inc.. Namun, keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam hal fitur, visualisasi, serta tingkat intervensi pengemudi. Bagi calon pengguna atau pemilik Tesla, memahami perbedaan ini penting sebelum memutuskan upgrade.
Tesla Autopilot: Standar, Gratis, Level 2
Tesla Autopilot merupakan fitur standar yang sudah terpasang di setiap mobil Tesla tanpa biaya tambahan. Sistem ini berada di Level 2 otonomi, yang berarti pengemudi tetap wajib mengawasi dan memegang setir.
Secara fungsi, Autopilot bekerja layaknya enhanced cruise control. Fitur utamanya terdiri dari Traffic-Aware Cruise Control dan Autosteer.
Traffic-Aware Cruise Control memungkinkan mobil menjaga kecepatan sesuai kendaraan di depan. Jika mobil depan melambat, Tesla akan ikut melambat. Jika kendaraan di depan mempercepat atau pindah jalur, mobil akan kembali ke kecepatan yang telah ditentukan.
Baca Juga: Sepeda Listrik Goda GD 1666 Harga 6 Jutaan, Desain Elegan, Bisa Kredit DP Rp75 Ribu, Layak Dibeli?
Sementara Autosteer membantu menjaga mobil tetap di tengah jalur dan mengikuti tikungan jalan tol secara otomatis. Namun, sistem ini tidak dapat mengganti jalur sendiri. Jika pengemudi ingin pindah jalur, Autosteer akan nonaktif dan harus diaktifkan kembali setelah manuver selesai.
Visualisasi pada Autopilot tergolong sederhana. Layar hanya menampilkan garis jalur, kendaraan sekitar, dan objek dasar seperti cone. Pada jalan kota, sistem bisa menampilkan lampu lalu lintas, tetapi Autopilot tidak akan berhenti untuk lampu merah atau rambu stop.
Dengan kata lain, Autopilot paling efektif digunakan di jalan tol. Jika penggunaan mobil didominasi perjalanan highway, sistem ini sudah mencakup sekitar 90 persen kebutuhan berkendara semi-otomatis.
Baca Juga: Motor Listrik Murah Rp3 Jutaan! Winplay D75 Punya NFC, Top Speed 47 Km/Jam dan Muat 3 Orang
Full Self-Driving (FSD): Lebih Canggih, Berbayar
Berbeda dengan Autopilot, Full Self-Driving atau FSD adalah paket tambahan berbayar. Di Amerika Serikat, FSD ditawarkan dengan skema langganan sekitar 99 dolar per bulan atau pembelian penuh seharga 8.000 dolar.
FSD dikategorikan sebagai sistem Level 3 otonomi. Artinya, mobil dapat melakukan sebagian besar tugas mengemudi sendiri dengan intervensi minimal. Meski begitu, pengawasan tetap diperlukan melalui kamera kabin yang memantau perhatian pengemudi.
Visualisasi FSD jauh lebih detail. Layar menampilkan hampir semua objek yang terdeteksi, mulai dari kendaraan, pejalan kaki, rambu, hingga garis marka kompleks.
Fitur tambahan FSD meliputi:
-
Navigate on Autopilot: Mobil bisa berpindah jalur sendiri di jalan tol, masuk-keluar tol, dan mengikuti rute navigasi.
-
Traffic Light and Stop Sign Control: Mobil dapat melambat dan berhenti di lampu merah maupun rambu stop.
-
City Street Driving: Sistem mampu menangani persimpangan dan belokan di jalan perkotaan.
-
Auto Park: Parkir paralel maupun tegak lurus secara otomatis.
-
Summon dan Smart Summon: Mobil bisa keluar dari parkiran sendiri atau menghampiri pemiliknya tanpa ada orang di dalam kabin.
Dalam penggunaan sehari-hari, FSD memungkinkan mobil keluar dari parkir, mengikuti rute navigasi hingga ke tujuan, bahkan melakukan perjalanan kota dengan intervensi minim.
Mana yang Lebih Worth It?
Pertanyaan utama: apakah upgrade ke FSD layak?
Jika pengguna lebih sering berkendara di jalan tol, Tesla Autopilot sebenarnya sudah sangat memadai. Fitur cruise control adaptif dan Autosteer mencakup mayoritas kebutuhan perjalanan jarak jauh.
Namun, bagi pengguna dengan mobilitas tinggi di perkotaan dan ingin pengalaman teknologi berkendara masa depan, FSD menawarkan kenyamanan tambahan yang signifikan.
Tetap perlu dicatat, FSD masih dianggap sebagai perangkat lunak yang terus dikembangkan. Selain itu, lisensinya umumnya tidak bisa dipindahkan ke mobil baru jika kendaraan lama dijual.
Pada akhirnya, pilihan kembali pada pola penggunaan dan preferensi masing-masing pengguna. Yang jelas, Tesla Autopilot dan Full Self-Driving membuktikan bahwa evolusi kendaraan listrik bukan hanya soal baterai, tetapi juga revolusi sistem mengemudi otomatis.
Editor : Divka Vance Yandriana