JAKARTA – Memilih sepeda motor di rentang harga Rp30-40 juta memang menjadi dilema tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Di satu sisi, ada gairah untuk tampil beda dengan desain Retro Modern. Namun di sisi lain, "jiwa mendang-mending" seringkali menjadi pemenang dalam pengambilan keputusan. Salah satu korbannya adalah Yamaha XSR 155.
Sejak diluncurkan pada akhir 2019, Yamaha XSR 155 hadir sebagai oase bagi pecinta motor kustom yang enggan repot membangun motor dari nol. Namun, memasuki tahun ketujuh perjalanannya, populasi motor ini di jalanan masih tergolong langka. Mengapa motor yang secara visual "ganteng maksimal" ini justru kurang diminati pasar massal?
Faktor Harga dan Psikologi 'Mendang-Mending'
Salah satu ganjalan terbesar Yamaha XSR 155 adalah label harganya. Saat ini, motor tersebut dibanderol di kisaran Rp39 jutaan OTR Jakarta. Angka ini menjadikannya salah satu motor 155cc termahal di kelasnya.
Bagi rata-rata konsumen Indonesia, uang Rp39 juta adalah "angka keramat". Dengan menambah sedikit saja, konsumen sudah bisa memboyong Yamaha NMAX Turbo atau Aerox yang sedang hype. Jika melirik pasar motor bekas, budget tersebut sudah cukup untuk menebus Yamaha XMAX 250 atau bahkan Yamaha R25 silinder ganda. Inilah yang membuat XSR 155 terjepit di antara fungsionalitas matik bongsor dan prestise motor sport fairing.
Momentum Peluncuran yang Kurang Pas
Secara historis, Yamaha dinilai sedikit terlambat. Tren motor kustom dan Retro Klasik di Indonesia mencapai puncak kejayaannya pada tahun 2018. Saat itu, semua orang berlomba merombak motor harian mereka menjadi Japstyle atau Scrambler.
Yamaha XSR 155 baru muncul di penghujung tahun 2019, tepat sebelum pandemi COVID-19 melanda dunia. Kondisi ekonomi yang tidak stabil membuat orang menahan diri untuk membeli motor hobi. Akibatnya, angka penjualan yang sempat menyentuh 2.000 unit per bulan di awal peluncuran, sulit dipertahankan di tahun-tahun berikutnya.
Spesifikasi Gahar dalam Bodi 'Kopong'
Di atas kertas, XSR 155 adalah monster di kelasnya. Menggendong mesin yang sama dengan Yamaha R15—4 tak, SOHC 4 valves dengan VVA—motor ini menghasilkan tenaga 14,2 kW dan torsi 14,7 Nm. Dengan bobot hanya 134 kg (lebih ringan 3 kg dari R15), XSR 155 secara teoritis memiliki power-to-weight ratio yang lebih baik.
Namun, bagi pecinta estetika klasik, mesin modern 155cc ini menyisakan masalah visual: kekopongan. Berbeda dengan rivalnya, Kawasaki W175, yang menggunakan mesin berpendingin udara yang tampak padat dan "jadul" banget, mesin XSR 155 yang mungil di tengah rangka Deltabox yang lebar sering dikritik kurang berisi.
[Tabel Perbandingan Harga dan Cc] | Model | Kapasitas Mesin | Harga (Mulai Dari) | | :--- | :--- | :--- | | Yamaha XSR 155 | 155cc (VVA) | Rp 39 Jutaan | | Kawasaki W175 | 177cc | Rp 32 - 36 Jutaan |
Posisi Berkendara: Antara Sport dan Santai
Kritik lain tertuju pada ergonomi. Meski bergaya retro, posisi berkendara XSR 155 terasa cukup agresif, mirip dengan motor Naked Sport. Hal ini dianggap ambigu oleh sebagian orang; mereka ingin tampilan klasik yang rileks, namun justru mendapatkan sensasi berkendara yang cukup menantang punggung.
Kesimpulan: Motor Bahan yang Sempurna
Meski "kurang laku" secara volume dibanding NMAX, Yamaha XSR 155 tetaplah primadona di pasarnya sendiri. Bagi mereka yang tidak peduli dengan komentar "mendang-mending", motor ini adalah basis kustom paling sempurna.
Bawaan pabriknya sudah dibekali suspensi Upside Down dan rangka yang kokoh. Sedikit sentuhan pada ban dan pemotongan spakbor belakang yang sering dianggap mengganggu desain, motor ini bisa langsung berubah menjadi Cafe Racer atau Scrambler yang sangat berkelas. Yamaha mungkin sadar bahwa motor ini tidak ditujukan untuk menjadi "kacang goreng", melainkan sebagai bukti eksistensi mereka di segmen premium-retro yang eksklusif.
Editor : Natasha Eka Safrina