JAKARTA - Review McLaren Senna kembali mencuri perhatian publik otomotif Tanah Air. Hypercar legendaris ini bukan mobil biasa. Hanya 500 unit diproduksi di dunia, dan salah satu unit dengan spesifikasi paling tinggi kini berada di Indonesia.
Review McLaren Senna kali ini terasa spesial karena mobil tersebut digunakan sebagai kendaraan harian pengganti Lamborghini Revuelto yang sempat mengalami insiden. Alih-alih memilih SUV atau MPV sebagai mobil pengganti, sang pemilik justru memilih hypercar ekstrem ini.
McLaren Senna sendiri merupakan bagian dari Ultimate Series pabrikan Inggris, McLaren. Nama “Senna” diambil dari legenda Formula 1 asal Brasil, Ayrton Senna, yang meraih tiga gelar juara dunia bersama McLaren pada era 1980-an hingga awal 1990-an.
Hypercar 500 Unit dengan Spek “Rata Kanan”
Unit yang direview ini merupakan model tahun 2020 dengan spesifikasi tertinggi. Hampir seluruh panel menggunakan exposed carbon fiber. Bahkan kap depan—yang nilainya disebut mencapai Rp 2 miliar saat appraisal asuransi—dibuat full carbon.
Warna yang digunakan bukan warna standar, melainkan MSO (McLaren Special Operations). Livery kuningnya memiliki efek glitter halus, dipadukan dengan nuansa British Racing Green yang ikonik sebagai identitas mobil Inggris.
Setiap McLaren Senna memiliki nomor produksi khusus dari total 500 unit dunia. Unit ini juga telah diasuransikan secara penuh dengan skema gabungan beberapa perusahaan asuransi karena nilainya yang sangat tinggi.
Mesin 4.0L V8 Twin Turbo 800 HP
Secara teknis, McLaren Senna berbasis dari McLaren 720S, tetapi hampir seluruh komponennya direkayasa ulang demi performa lintasan. Mesin 4.000 cc V8 twin turbo menghasilkan tenaga 800 PS yang disalurkan ke roda belakang melalui transmisi dual-clutch 7-percepatan.
Akselerasi 0-100 km/jam hanya 2,8 detik. Top speed mencapai 335 km/jam. Untuk jarak 402 meter (quarter mile), mobil ini menuntaskannya dalam 9,9 detik.
Bobotnya pun sangat ringan, sekitar 1.190 kilogram—lebih ringan dari beberapa hot hatch modern. Konstruksi monocoque karbon dan minimnya fitur kenyamanan menjadi kunci rasio power-to-weight ekstrem.
Fokus pada Downforce, Bukan Fashion
Desain McLaren Senna kerap disebut tidak konvensional. Namun setiap lekukan dibuat demi fungsi aerodinamika. Mobil ini mampu menghasilkan downforce lebih dari 800 kg pada kecepatan tinggi.
Wing belakang berukuran masif tidak hanya berfungsi menambah tekanan ke bawah, tetapi juga bertindak sebagai air brake saat pengereman keras. Suspensi dan setelan sasis sepenuhnya diarahkan untuk performa sirkuit.
Bagian depan bukan bagasi, melainkan ruang pendinginan radiator. Panelnya dibuka dengan sistem tekan khusus tanpa tuas konvensional. Semua serba fungsional.
Interior Minimalis, Sensasi Maksimal
Masuk ke kabin, nuansa mobil balap sangat terasa. Jok full carbon tanpa pengaturan elektrik. Semua demi memangkas bobot. Panel kontrol utama ditempatkan di plafon, termasuk tombol starter dan mode berkendara.
Mode Race membuat mobil merendah drastis, merespons lebih agresif, dan mengubah tampilan instrumen menjadi minimalis seperti mobil balap. Launch control tersedia dan bekerja cerdas mengatur traksi roda belakang.
Uniknya, pintu memiliki tiga panel kaca—termasuk bagian bawah—untuk visibilitas maksimal saat melibas tikungan di sirkuit.
Sensasi Berkendara: Seperti 1.000 HP
Meski di atas kertas tenaganya 800 HP, sensasi berkendara terasa jauh lebih brutal. Akselerasi meningkat progresif tanpa kehilangan tenaga di putaran atas. Respons turbo sangat instan, hampir tanpa lag.
Handling-nya digambarkan seolah mobil bisa “membaca pikiran” pengemudi. Tidak ada delay saat setir diputar. Perpindahan gigi terasa halus namun tetap agresif.
Suspensi tetap terasa keras bahkan di mode comfort. Wajar, karena DNA utamanya adalah track car, bukan grand tourer.
Layak Menyandang Nama Senna
Nama Senna bukan sekadar label. Mobil ini dibuat sebagai penghormatan kepada Ayrton Senna, yang wafat akibat kecelakaan di Sirkuit Imola pada 1 Mei 1994. Warisannya di dunia balap membuat McLaren menciptakan hypercar dengan filosofi performa murni tanpa elektrifikasi.
Berbeda dari McLaren P1 yang menggunakan sistem hybrid, McLaren Senna kembali ke akar mesin pembakaran internal murni.
Harga saat baru mendekati Rp 30 miliar. Di Indonesia, kabarnya hanya ada empat unit. Unit yang direview ini termasuk spesifikasi tertinggi.
Bagi kolektor dan pecinta performa sejati, McLaren Senna bukan sekadar mobil. Ia adalah mesin lintasan berpelat nomor, simbol penghormatan terhadap salah satu pembalap terbaik sepanjang masa.
Editor : Divka Vance Yandriana