Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Pakai Yadea 8S Pro Selama 2 Tahun, Begini Biaya, Masalah, dan Pengalaman Aslinya

Divka Vance Yandriana • Selasa, 3 Maret 2026 | 19:30 WIB

Review Yadea 8S Pro setelah 2 tahun pakai. Biaya listrik Rp50 ribu per bulan, upgrade baterai lithium bikin jarak tempuh tembus 100 km.
Review Yadea 8S Pro setelah 2 tahun pakai. Biaya listrik Rp50 ribu per bulan, upgrade baterai lithium bikin jarak tempuh tembus 100 km.

JAKARTA – Banyak orang masih ragu menggunakan motor listrik untuk kebutuhan harian. Namun pengalaman pemilik Yadea 8S Pro selama dua tahun ini bisa jadi gambaran nyata soal biaya, performa, hingga perawatan jangka panjang.

Motor ini awalnya dibeli seharga Rp23,9 juta dan mendapat subsidi Rp7 juta serta promo tambahan Rp1 juta. Total harga yang dibayar saat itu sekitar Rp15,9 juta.

Baca Juga: Review Polytron Fox R: Harga Murah Rp20 Jutaan, Top Speed 97 Km/Jam, Tapi Ada Biaya Sewa Baterai Rp200 Ribu per Bulan

Alasan Memilih Yadea 8S Pro

Salah satu alasan utama memilih motor ini adalah karena saat itu distribusinya masih ditangani oleh Indomobil, sehingga dianggap aman dari sisi jaringan servis.

Selain itu, bagasinya tergolong luas. Helm half face, jas hujan, charger, hingga laptop 13 inci masih bisa masuk. Untuk penggunaan komuter, kapasitas ini menjadi nilai tambah.

Baca Juga: Prediksi Motor Baru Honda 2026: Vario 160 Street, CBR250R A-Clutch hingga Airblade 160 Siap Guncang Pasar

Pengalaman Pakai Baterai SLA

Awalnya motor ini menggunakan baterai SLA (Sealed Lead Acid). Dalam kondisi baru, jarak tempuh maksimal sekitar 70 km dengan bobot pengendara dan penggunaan normal.

Namun karakter baterai SLA mulai terasa setelah kapasitas turun di bawah 50 persen. Performa menjadi lebih lambat dan tarikan terasa berat. Pada bulan ke-15, baterai bahkan terdeteksi kembung dan diganti baru di bulan ke-16 dalam masa garansi.

Meski sempat diganti SLA baru, performa tetap tidak sebaik saat awal pembelian.

Baca Juga: Daftar Handphone Gaming Murah Terbaik 2026, Ada ROG hingga Snapdragon 8 Gen 3 Harga Masuk Akal

Upgrade ke Baterai Lithium LFP

Pada bulan ke-22, pemilik memutuskan mengganti baterai ke jenis lithium LFP 72V 45Ah dengan biaya sekitar Rp7,5 juta.

Hasilnya cukup signifikan. Dalam mode hemat (mode 1), perjalanan 38 km dari rumah ke kantor masih menyisakan sekitar 68 persen baterai. Artinya, secara teori jarak tempuh bisa menembus 100 km jika digunakan dengan gaya berkendara santai.

Di mode 2 dengan top speed sekitar 62–63 km/jam, sisa baterai setelah 38 km berada di kisaran 59–60 persen.

Performa juga jauh lebih stabil dibanding SLA. Meski baterai berkurang, tenaga tidak turun drastis seperti sebelumnya.

Biaya Listrik Bulanan

Dengan tarif listrik rumah 3.500 VA sekitar Rp1.699 per kWh, konsumsi listrik per bulan tercatat 50–60 kWh.

Jika dikonversi, total biaya sekitar Rp100 ribu per bulan. Namun karena sebagian pengisian dilakukan di kantor, biaya pribadi yang dikeluarkan hanya sekitar Rp50 ribuan per bulan.

Untuk pengisian daya, charger standar 6 ampere membutuhkan sekitar 5 menit per 1 persen baterai.

Biaya Servis dan Perawatan

Selama dua tahun pemakaian:

Masalah umum yang dialami meliputi bunyi pada komstir dan shockbreaker sejak awal pembelian. Komponen tersebut sempat diklaim dan diganti, namun karakter suspensi tetap terasa kurang nyaman dibanding motor konvensional baru.

Selain itu, sablon tombol di setang kiri cepat memudar dan klakson bawaan dianggap terlalu kecil sehingga diganti model keong.

Kenyamanan Harian

Untuk penggunaan sendiri (tanpa boncengan), motor ini masih nyaman dipakai komuter 30–40 km per hari. Kelebihan utama motor listrik tetap terasa, yakni:

Namun posisi duduk dianggap kurang ergonomis, terutama untuk jarak jauh. Motor ini dinilai kurang nyaman jika sering dipakai berboncengan.

Kesimpulan Setelah 2 Tahun

Setelah dua tahun pemakaian, motor ini masih layak digunakan untuk kebutuhan harian, terutama setelah upgrade ke baterai lithium.

Namun untuk pembeli baru, disarankan langsung memilih motor listrik yang sejak awal sudah menggunakan baterai lithium, bukan SLA. Dari sisi daya tahan, performa, dan efisiensi jangka panjang, lithium jauh lebih unggul.

Motor listrik cocok untuk komuter dengan jarak 20–40 km per hari, terutama jika tersedia akses charging di rumah atau kantor. Kendala terbesar justru terjadi saat listrik padam dan baterai belum terisi penuh.

Secara keseluruhan, pengalaman dua tahun ini menunjukkan bahwa motor listrik bisa menjadi solusi hemat untuk mobilitas harian, dengan catatan memahami jenis baterai dan pola penggunaan sejak awal.

Editor : Divka Vance Yandriana
#Yadea #baterai lithium #review motor listrik