Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Mito, Brand Lokal Legendaris yang Pernah Mendominasi Pasar Ponsel Indonesia Kini Berubah Haluan

Divka Vance Yandriana • Rabu, 4 Maret 2026 | 12:55 WIB

Mito, brand lokal legendaris Indonesia, pernah dominasi pasar ponsel kini fokus elektronik rumah tangga dan inovasi terjangkau.
Mito, brand lokal legendaris Indonesia, pernah dominasi pasar ponsel kini fokus elektronik rumah tangga dan inovasi terjangkau.

JAKARTA – Nama Mito pernah menjadi raja di pasar ponsel lokal Indonesia. Dari tahun 2006 hingga puncak kejayaannya sekitar 2012–2015, Mito berhasil merebut hati masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah, dengan ponsel murah, inovatif, dan mudah dijangkau. Kini, nama yang dulunya lekat di telinga konsumen Indonesia ini jarang terdengar. Apa yang membuat Mito tumbang, dan bagaimana nasibnya sekarang?

Awal Mula dan Strategi Mito

Mito lahir pada 2006 di bawah naungan PT Maju Express Indonesia. Brand ini hadir untuk mengisi celah pasar ponsel di Indonesia yang saat itu masih didominasi merek asing mahal seperti Nokia, Sony Ericsson, Motorola, dan Siemens. Saat smartphone baru mulai merambah pasar, banyak konsumen masih memilih ponsel basic untuk menelepon dan SMS. Melihat peluang ini, Mito menghadirkan perangkat fitur ponsel yang terjangkau dengan inovasi khas, salah satunya TV analog, yang kemudian menjadi ciri ikonik brand tersebut.

Selain TV analog, Mito juga menawarkan radio, pemutar MP3, dan dual SIM untuk menarik konsumen yang ingin memanfaatkan berbagai promo operator telekomunikasi. Strategi harga terjangkau ini didukung kerja sama dengan pemasok komponen dari Tiongkok dan jaringan distribusi yang luas, mulai dari toko besar hingga kios pasar tradisional, membuat produk Mito mudah ditemukan di seluruh pelosok Indonesia.

Baca Juga: 5 HP 1 Jutaan Terbaik 2025, Performa Ngebut dan Baterai Badak Mulai Rp1 Jutaan!

Masa Kejayaan dan Puncak Popularitas

Tahun 2012 menjadi titik balik penting. Kepercayaan konsumen terhadap produk lokal mulai tumbuh, dan Mito berhasil masuk jajaran tiga besar vendor ponsel lokal. Data IDC 2014 menunjukkan pangsa pasar gabungan brand lokal, termasuk Mito, Advance, Evercross, dan Smartfren, mencapai 23–25 persen. Pada masa itu, satu dari empat pengguna ponsel menggunakan perangkat lokal.

Momen sukses terbesar Mito datang lewat smartphone Mito A60 Fantasiu, yang dirancang untuk anak muda dengan harga terjangkau. Saat pertama diluncurkan, perangkat ini terjual 10.000 unit dalam sehari. Mito terus memperluas pasar dengan promosi besar-besaran, bundling dengan operator, dan membangun pabrik di Tangerang pada 2014 senilai Rp300 miliar untuk memproduksi ponsel secara mandiri. Kepercayaan global pun datang, saat Google menunjuk Mito sebagai mitra resmi Android One di Indonesia pada 2015.

Baca Juga: Rekomendasi 10 HP Terbaik Harga 1 Jutaan Maret 2026: Gaming Ngebut, Baterai Badak, Ada yang Layar AMOLED 144Hz!

Penurunan dan Tantangan yang Dihadapi

Namun, seiring cepatnya perkembangan smartphone, Mito mulai kesulitan beradaptasi. Konsumen menuntut spesifikasi lebih tinggi, ekosistem aplikasi lengkap, dan layanan software yang stabil. Serbuan brand Tiongkok seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo membuat pangsa pasar lokal menyusut drastis. Data IDC kuartal kedua 2018 mencatat Xiaomi menguasai 25 persen, Oppo 18 persen, Vivo 9 persen, sementara brand lokal hanya tersisa 6 persen.

Selain tekanan eksternal, Mito menghadapi masalah internal, termasuk minimnya inovasi dan fitur yang tidak relevan lagi, seperti TV analog. Regulasi TKDN 2017 yang menuntut kandungan lokal juga lebih menguntungkan pemain besar yang memiliki modal besar. Pergeseran pola distribusi ke e-commerce menambah kesulitan brand lokal untuk menjangkau konsumen baru.

Baca Juga: 7 HP 2 Jutaan Terbaik Lebaran 2026, Spek Rasa 3 Jutaan! Ada Baterai 7.000 mAh hingga Layar AMOLED 144Hz

Transformasi Menuju Era Baru

Kini, Mito perlahan meninggalkan industri smartphone dan mengalihkan fokus pada elektronik rumah tangga, seperti smart TV, speaker, dan rice cooker. Meskipun tidak lagi populer seperti dulu, Mito tetap menjadi contoh brand lokal yang pernah berinovasi, menghadirkan produk terjangkau, dan membangun loyalitas konsumen.

Perjalanan Mito mengajarkan satu hal penting di era teknologi: adaptasi adalah kunci. Brand yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tren dan ekspektasi konsumen akan tertinggal. Dengan transformasi ke elektronik rumah tangga, Mito berusaha tetap relevan, menghadirkan solusi teknologi terjangkau untuk masyarakat Indonesia.

Editor : Divka Vance Yandriana
#Ponsel Lokal #mito #brand lokal