JAKARTA – Mito, brand ponsel lokal yang sempat merajai pasar Indonesia, kini nyaris hilang dari dunia smartphone. Didirikan pada 2006 di bawah PT Maju Express Indonesia, Mito hadir dengan visi membuat teknologi handphone terjangkau dan mudah diakses masyarakat Indonesia. Di masa kejayaannya, brand ini menjadi pilihan utama konsumen kelas menengah ke bawah yang mencari ponsel murah namun tetap fungsional.
Kesuksesan Awal Mito
Sejak awal, Mito menyasar segmen menengah ke bawah. Saat itu, pasar Indonesia masih didominasi merek internasional seperti Nokia, Sony Ericsson, dan Motorola. Harga ponsel asing yang mahal membuat Mito membuka celah dengan menawarkan perangkat ramah kantong yang tetap memiliki fitur relevan. Salah satu inovasi paling ikonik adalah Mito 33, ponsel touchscreen pertama dengan layar lebar dan speaker ekstra besar, serta fitur multimedia lengkap.
Selain itu, Mito dikenal sering menggandeng magician terkenal seperti Deddy Corbuzier, Limbat, dan Romi Rafael sebagai brand ambassador antara 2010–2013. Strategi pemasaran ini menambah daya tarik Mito di pasar, menjadikan produk mereka mudah diingat dan digemari konsumen muda maupun dewasa. Harga ponsel Mito berkisar Rp200.000 hingga Rp1 juta, jauh lebih terjangkau dibandingkan merek internasional, dengan fitur dual SIM, radio FM, flashlight, dan kapasitas baterai besar hingga 2000 mAh.
Puncak Kejayaan di Era 2010-an
Pada era 2010-an, Mito menjadi salah satu merek ponsel terkemuka Indonesia. Produk seperti Mito 311 dan Mito 8600 menonjolkan speaker ekstra besar dan daya tahan baterai tinggi. Keberhasilan ini didukung jaringan distribusi yang merata, termasuk counter HP di pelosok Indonesia. Selain itu, kerjasama dengan operator lokal memastikan produk mereka mudah diakses oleh berbagai kalangan.
Baca Juga: Nostalgia Kejayaan Nokia: 13 HP Nokia Paling Hits Awal 2000-an Selain 3310, Mana Favoritmu?
Faktor utama kesuksesan Mito adalah pemahaman mendalam terhadap kebutuhan konsumen lokal, harga agresif, dan inovasi berkelanjutan. Kombinasi ini membuat Mito mampu menembus pasar yang sebelumnya dikuasai brand internasional mahal dan membangun basis konsumen yang loyal.
Ancaman dari Brand Ponsel Tiongkok
Namun, kesuksesan Mito tidak bertahan lama. Masuknya brand ponsel Tiongkok seperti Xiaomi, Oppo, Vivo, dan Huawei pada pertengahan hingga akhir 2010-an menjadi ancaman serius. Produk mereka menawarkan spesifikasi lebih tinggi, desain modern, kamera berkualitas, dan ekosistem aplikasi yang lengkap dengan harga kompetitif. Strategi pemasaran yang agresif melalui e-commerce dan media sosial membuat pangsa pasar Mito merosot drastis.
Selain tekanan eksternal, Mito juga menghadapi masalah internal. Produk seperti Mito Fantasi A300 dianggap kurang inovatif, spesifikasi rendah, dan desain monoton. Citra brand juga kalah bersaing karena dianggap “ponsel murahan”, sedangkan merek Cina membangun image modern dengan gaya hidup dan iklan atraktif.
Transformasi Bisnis Mito
Menghadapi persaingan yang semakin intens, Mito memutuskan untuk beralih dari bisnis ponsel ke peralatan rumah tangga, termasuk blender, rice cooker, dan smart TV. Perubahan fokus ini memanfaatkan infrastruktur distribusi dan pengalaman produksi yang sudah dimiliki. Mito berharap dapat menghadirkan produk rumah tangga yang inovatif, efisien, dan ramah lingkungan, sekaligus menciptakan nilai tambah yang lebih besar di pasar domestik.
Meskipun ponsel Mito kini nyaris hilang dari pasaran, beberapa model lama masih beredar di pasar HP bekas. Brand ini tetap dikenang sebagai pelopor ponsel lokal yang berhasil menghadirkan teknologi komunikasi terjangkau bagi jutaan masyarakat Indonesia. Kisah Mito menjadi pelajaran penting bahwa adaptasi dan inovasi adalah kunci bertahan di industri teknologi yang cepat berubah.
Editor : Divka Vance Yandriana