Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Mito Berubah Haluan: Dari Raja HP Lokal Indonesia ke Penguasa Elektronik Rumah Tangga

Divka Vance Yandriana • Rabu, 4 Maret 2026 | 13:10 WIB

Mito, brand lokal legendaris Indonesia, pernah dominasi pasar ponsel kini fokus elektronik rumah tangga dan inovasi terjangkau.
Mito, brand lokal legendaris Indonesia, pernah dominasi pasar ponsel kini fokus elektronik rumah tangga dan inovasi terjangkau.

JAKARTA – Nama Mito mungkin sudah jarang terdengar di dunia ponsel, tetapi brand yang dulu merajai pasar HP lokal Indonesia kini muncul di dapur konsumen sebagai produsen elektronik rumah tangga. Dari rice cooker, air fryer, hingga chopper, Mito membuktikan bahwa transformasi bisnis bisa menjadi strategi cerdas untuk tetap relevan di pasar yang terus berubah.

Awal Kejayaan Mito di Pasar HP

Mito resmi hadir di Indonesia pada 2006 melalui PT Maju Express Indonesia. Saat itu, pasar ponsel lokal masih terbuka lebar karena smartphone belum menjadi barang wajib dan brand internasional seperti Nokia, Sony Ericsson, dan Motorola menguasai segmen harga tinggi. Mito memanfaatkan celah ini dengan menghadirkan HP simpel, terjangkau, dan mudah diakses di counter-counter di berbagai kota. Strategi ini membuat Mito cepat dikenal masyarakat dan dalam beberapa tahun masuk jajaran tiga besar vendor ponsel lokal.

Mito rutin meluncurkan berbagai seri, mulai feature phone hingga smartphone awal berbasis Android, seperti Mito A200, A220, A78, tablet T500, hingga smartwatch S500. Produk-produk ini menawarkan harga ekonomis, fungsi sesuai kebutuhan, dan layanan servis yang mudah dijangkau, sehingga mampu menarik segmen menengah ke bawah yang sebelumnya kesulitan mengakses teknologi mobile.

Baca Juga: Infinix Note 50 Pro Plus 5G Siap Melibas Flagship Killer: Pakai Chipset Dimensity 8350 dan Lensa Periscope, Benarkah Lebih Sakti dari Xiaomi 14T?

Puncak Popularitas dan Tantangan Global

Puncak eksistensi Mito terjadi saat mereka terlibat dalam program Android One bersama beberapa merek lokal lainnya. Momen ini memberi validasi global dan meningkatkan pengalaman pengguna Android yang lebih bersih. Namun, perubahan landscape industri smartphone mulai terasa. Brand Tiongkok seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo masuk ke Indonesia dengan strategi agresif: spesifikasi tinggi, desain modern, harga kompetitif, serta distribusi masif melalui mall dan e-commerce.

Persaingan ini membuat segmen entry-level yang sebelumnya menjadi andalan Mito berubah menjadi medan perang yang sulit dimenangkan. Biaya inovasi dan produksi meningkat drastis, sementara konsumen menuntut update sistem, kamera terbaru, dan ekosistem aplikasi yang lebih lengkap. Mito yang berfokus pada harga murah dan fungsi dasar sulit mengejar laju kompetisi global ini.

Baca Juga: Gebrakan Pasar! 5 Rekomendasi HP 1 Jutaan Terbaik 2026: Ada Kamera Sony, Spek Gaming, hingga Jaringan 5G!

Strategi Transformasi: Fokus ke Elektronik Rumah Tangga

Menghadapi kenyataan itu, Mito memilih langkah berani: mundur dari bisnis smartphone dan mengalihkan fokus ke elektronik rumah tangga. Sekitar akhir 2010-an, brand ini mulai merilis rice cooker, air fryer, oven listrik, dispenser, hingga food chopper. Salah satu lini terkenal adalah Mitochiba, yang memanfaatkan citra nama Jepang untuk menanamkan kesan kualitas tinggi meski 100% produk Indonesia.

Berbeda dengan pasar smartphone yang cepat dan kompetitif, segmen elektronik rumah tangga memiliki siklus produk lebih panjang, persaingan lebih stabil, dan kebutuhan konsumen lebih fokus pada fungsi, daya tahan, dan harga terjangkau. Strategi ini membuat Mito tetap bisa memanfaatkan jaringan distribusi, pengalaman manufaktur, dan brand awareness yang masih tersisa.

Baca Juga: iQOO 15R Bikin Geger 2026! Snapdragon 8 Gen 5, Baterai 7.600 mAh, Harga Mulai Rp7,3 Juta

Posisi Mito Saat Ini

Hingga 2024–2025, divisi smartphone Mito secara fungsional sudah tidak ada. Situs resmi mereka tidak lagi menampilkan katalog HP, menandai perubahan penuh arah bisnis. Meski begitu, Mito tetap aktif di marketplace dan toko offline dengan produk rumah tangga, menjaga positioning harga terjangkau dan distribusi luas. Transformasi ini menunjukkan bahwa Mito tidak bangkrut atau menghilang, melainkan memilih jalur yang lebih realistis dan berkelanjutan.

Kisah Mito menjadi pelajaran penting bagi industri teknologi dan bisnis di Indonesia: kemampuan membaca tren pasar, beradaptasi, dan melakukan diversifikasi bisa menyelamatkan brand lokal dari kehancuran. Dari raja HP lokal yang pernah berjaya hingga penguasa elektronik rumah tangga, Mito membuktikan bahwa strategi bisnis yang cerdas kadang berarti tahu kapan harus mundur untuk menang di arena baru.

Editor : Divka Vance Yandriana
#transformasi bisnis #Ponsel Lokal #mito