JAKARTA - Motor listrik Indomobil EMotor Sprinto mulai menarik perhatian pecinta otomotif setelah resmi diperkenalkan di ajang GJAW 2025. Desain sporty serta performa responsif menjadi daya tarik utama skuter listrik ini. Namun, bagaimana performanya setelah dipakai dalam penggunaan harian?
Seorang pengguna yang telah mencoba Indomobil EMotor Sprinto selama lebih dari satu minggu membagikan pengalamannya setelah menempuh jarak hampir 300 kilometer. Pengujian tersebut dilakukan dalam aktivitas harian, termasuk perjalanan pulang-pergi kantor dengan jarak sekitar 80 kilometer per hari.
Dari pengalaman tersebut, Indomobil EMotor Sprinto dinilai memiliki sejumlah kelebihan yang menarik, tetapi juga menyimpan beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan calon pembeli.
Performa Responsif Jadi Nilai Plus
Salah satu keunggulan utama dari Indomobil EMotor Sprinto adalah performanya yang terasa responsif. Motor listrik ini menawarkan tarikan yang ringan dan cukup bertenaga, terutama saat menggunakan mode berkendara Boost.
Pengujian menunjukkan motor ini mampu mencapai kecepatan hingga sekitar 87 km/jam. Dengan tenaga tersebut, Sprinto dinilai mampu memberikan sensasi berkendara yang menyenangkan, bahkan saat digunakan oleh pengendara dengan bobot tubuh yang cukup berat.
Akselerasi yang responsif membuat motor ini terasa gesit saat digunakan di jalan perkotaan. Pengendara juga dapat memilih pengaturan regenerative braking sesuai preferensi, mulai dari kuat, sedang, hingga nonaktif.
Desain Sporty dan Dimensi Ideal
Selain performa, desain juga menjadi daya tarik besar dari Indomobil EMotor Sprinto. Motor ini memiliki tampilan agresif dengan garis bodi tajam yang sesuai dengan selera banyak pengendara di Indonesia.
Lampu depan ganda dengan desain modern menambah kesan futuristik. Secara keseluruhan, desain motor ini dinilai cukup “ganteng” dan berbeda dibandingkan sebagian motor listrik lain di kelasnya.
Dimensi motor juga dianggap pas untuk pengendara Indonesia. Tidak terlalu kecil, tetapi juga tidak terlalu besar sehingga nyaman digunakan untuk manuver di jalan padat.
Penggunaan velg berukuran 14 inci di depan dan belakang turut meningkatkan stabilitas. Hal ini membuat motor terasa lebih percaya diri saat melakukan manuver atau selap-selip di tengah kemacetan.
Bagasi Cukup Luas untuk Kebutuhan Harian
Kelebihan lain dari Indomobil EMotor Sprinto terletak pada kapasitas bagasi yang cukup memadai. Bagasi di bawah jok mampu menampung berbagai barang kebutuhan harian.
Beberapa barang seperti jas hujan, kabel ekstensi, sandal, sarung tangan, hingga charger masih dapat dimasukkan ke dalam bagasi tersebut. Bahkan laptop berukuran 13 inci juga masih dapat disimpan dengan baik.
Bagian dek motor juga cukup luas dan tidak terlalu tinggi, sehingga memungkinkan pengendara membawa barang tambahan seperti galon air, gas, atau tas laundry dengan berat sekitar 8 hingga 10 kilogram.
Sudah Mendukung Fast Charging
Fitur lain yang cukup menarik adalah dukungan fast charging pada Indomobil EMotor Sprinto. Dengan charger berdaya sekitar 3.000 watt, pengisian baterai dari kosong hingga penuh dapat dilakukan dalam waktu sekitar 1 hingga 1,5 jam.
Namun penggunaan fast charging ini masih dianggap kurang praktis karena pengendara harus membuka penutup baterai dan melepas kabel baterai terlebih dahulu sebelum mengisi daya.
Selain itu, daya listrik yang cukup besar membuat fitur ini tidak selalu bisa digunakan di semua rumah, terutama yang memiliki kapasitas listrik terbatas.
Beberapa Kekurangan Terungkap
Meski memiliki banyak kelebihan, penggunaan harian juga mengungkap sejumlah kekurangan pada Indomobil EMotor Sprinto.
Salah satu yang paling terasa adalah respons gas saat digunakan dalam kondisi macet. Ketika tuas gas ditarik sedikit atau setengah, motor terkadang terasa seperti “berebet”, mirip dengan motor bensin yang tersendat.
Kondisi tersebut terutama terasa saat menggunakan mode Boost. Namun saat menggunakan mode Comfort, respons gas dinilai lebih halus dan stabil.
Masalah lain yang dilaporkan adalah bug pada sistem jam di panel instrumen. Jam dan tanggal sering kali kembali ke pengaturan awal setiap kali motor dimatikan dan dinyalakan kembali.
Selain itu, posisi tombol shift dan tombol mundur (reverse) yang berdekatan juga dinilai kurang ergonomis bagi pengguna baru motor listrik.
Dari sisi suspensi, shockbreaker depan masih terasa keras saat melewati polisi tidur yang tajam. Sementara suspensi belakang dinilai cukup nyaman saat digunakan berboncengan, tetapi terasa agak kaku saat dikendarai sendiri.
Jarak Tempuh Dinilai Kurang Jauh
Kekurangan lain yang cukup penting adalah jarak tempuh. Dengan kapasitas baterai sekitar 2,4 kWh, motor ini dinilai belum mampu menempuh perjalanan pulang-pergi sejauh sekitar 70–80 kilometer tanpa pengisian ulang.
Dalam pengujian perjalanan sekitar 38 kilometer, sisa baterai yang tersisa hanya sekitar 30 persen.
Meski demikian, konsumsi baterai yang relatif cepat tersebut juga dipengaruhi oleh gaya berkendara agresif serta penggunaan mode Boost sepanjang perjalanan.
Dengan kombinasi desain menarik, tenaga responsif, serta fitur modern, Indomobil EMotor Sprinto tetap menjadi salah satu motor listrik yang patut dipertimbangkan di pasar Indonesia. Namun calon pembeli tetap perlu memperhatikan beberapa kekurangan yang muncul dalam penggunaan nyata.
Editor : Divka Vance Yandriana