Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Perang Harga Mobil Listrik China Menggila, BYD Banting Harga hingga Rp125 Juta, Akankah Dampaknya Sampai ke Indonesia?

Divka Vance Yandriana • Senin, 9 Maret 2026 | 15:10 WIB

Perang harga mobil listrik China membuat harga EV turun drastis. BYD banting harga hingga Rp125 juta. Apakah dampaknya akan sampai ke Indonesia?
Perang harga mobil listrik China membuat harga EV turun drastis. BYD banting harga hingga Rp125 juta. Apakah dampaknya akan sampai ke Indonesia?

JAKARTA - Industri otomotif global sedang diguncang fenomena besar: perang harga mobil listrik China yang membuat harga kendaraan listrik turun drastis. Mobil listrik yang sebelumnya dikenal mahal kini dijual dengan harga sangat murah, bahkan setara sepeda motor premium.

Fenomena perang harga mobil listrik China ini dipicu oleh agresivitas produsen kendaraan listrik yang berlomba menurunkan harga demi mempertahankan pangsa pasar. Kondisi tersebut menciptakan persaingan yang sangat ketat di pasar otomotif terbesar dunia itu.

Menariknya, dampak dari perang harga mobil listrik China ini tidak hanya dirasakan di dalam negeri mereka. Banyak analis menilai persaingan ekstrem tersebut berpotensi merembet ke pasar internasional, termasuk Indonesia yang sedang mendorong adopsi kendaraan listrik.

Baca Juga: Zulkifli Hasan Ungkap Peran Koperasi Desa Merah Putih: Beli Gabah Rp6.500, Serap Hasil Pertanian dan Ikan Agar Petani Tak Lagi Dipermainkan Tengkulak

Diskon Gila-gilaan di Pasar Mobil Listrik China

Salah satu pemicu utama fenomena ini adalah langkah agresif dari BYD, produsen kendaraan listrik terbesar di China.

Perusahaan tersebut memulai gelombang diskon besar-besaran melalui model entry-level mereka, yakni BYD Seagull.

Saat pertama diluncurkan pada 2023, mobil listrik ini dijual sekitar 78.800 yuan atau setara Rp170 juta. Namun dalam waktu kurang dari dua tahun, harganya anjlok hingga sekitar 55.800 yuan atau sekitar Rp125 juta.

Baca Juga: Jalur Terdampak Longsor Ditutup Kembali Kendaraan Diimbau lewat Jalur AlBaca Juga: Inilah Felisya Rahma Nur Aisah Kejar Impian dari Pengalamanternatif

Penurunan harga drastis tersebut mengguncang struktur harga industri otomotif China. Mobil listrik yang sebelumnya dianggap produk premium kini menjadi jauh lebih terjangkau.

Tidak hanya model entry-level, sedan listrik kelas menengah seperti BYD Seal juga mengalami penurunan harga signifikan. Di pasar domestik China, mobil ini dijual sekitar Rp225 juta.

Harga tersebut bahkan lebih murah dibandingkan beberapa mobil LCGC di Indonesia.

Persaingan Ketat Antar Produsen

Langkah agresif BYD kemudian diikuti oleh sejumlah produsen lain seperti Geely dan Chery.

Mereka juga memangkas harga berbagai model kendaraan listrik demi mempertahankan daya saing di pasar yang semakin jenuh.

Beberapa produsen bahkan dilaporkan menjual kendaraan di bawah biaya produksi demi menjaga volume penjualan dan mempertahankan pangsa pasar.

 

Kondisi tersebut menciptakan situasi yang oleh banyak analis disebut sebagai “race to the bottom”, yaitu perlombaan menurunkan harga hingga batas yang tidak lagi rasional.

Pemerintah China Mulai Khawatir

Persaingan harga yang terlalu ekstrem akhirnya memicu kekhawatiran pemerintah China. Regulator industri mulai memperingatkan produsen agar tidak menjual kendaraan dengan harga yang merusak stabilitas pasar.

Perdana Menteri China bahkan menyebut fenomena ini sebagai bentuk “kompetisi involusioner”, yaitu persaingan yang terus berlangsung tetapi justru merusak nilai industri secara keseluruhan.

Tekanan tersebut tidak hanya dirasakan oleh produsen mobil. Pemasok komponen, dealer, hingga investor juga mulai terdampak akibat margin keuntungan yang terus menipis.

Data dari lembaga riset otomotif menunjukkan bahwa dari sekitar 169 perusahaan kendaraan listrik yang beroperasi di China, lebih dari setengahnya hanya memiliki pangsa pasar di bawah 0,1 persen.

Artinya, banyak perusahaan sebenarnya berada dalam kondisi finansial yang rapuh.

Strategi Berani BYD

Di tengah tekanan tersebut, BYD tetap melanjutkan strategi harga agresifnya. Perusahaan ini menargetkan penjualan hingga 5,5 juta unit kendaraan dalam satu tahun.

Salah satu kekuatan utama BYD adalah model bisnis vertikal terintegrasi. Perusahaan ini memproduksi hampir seluruh komponen utama kendaraan listrik, termasuk baterai, motor listrik, hingga semikonduktor.

Dengan penguasaan rantai pasokan tersebut, BYD mampu menekan biaya produksi jauh lebih efisien dibandingkan banyak pesaingnya.

Bahkan ketika harga bahan baku baterai seperti lithium karbonat turun drastis, BYD bisa langsung meneruskan efisiensi biaya tersebut kepada konsumen dalam bentuk diskon harga.

Meski demikian, sejumlah analis menilai strategi tersebut juga memiliki risiko besar. Jika volume penjualan tidak mencapai target, tekanan finansial bisa meningkat secara signifikan.

Ancaman Bangkrutnya Startup EV

Perang harga ini juga mulai memicu efek domino di industri otomotif China.

Beberapa startup kendaraan listrik mengalami kesulitan keuangan akibat margin keuntungan yang semakin tipis. Bahkan ada perusahaan yang dilaporkan menghentikan produksi atau mengajukan perlindungan kebangkrutan.

Selain itu, muncul pula praktik bisnis kontroversial seperti menjual mobil baru sebagai unit bekas dengan kilometer nol demi meningkatkan angka penjualan.

Praktik tersebut kini tengah diselidiki oleh otoritas perdagangan China.

Apakah Indonesia Akan Terdampak?

Pertanyaan besar berikutnya adalah apakah perang harga mobil listrik China akan berdampak ke Indonesia.

Indonesia saat ini menjadi salah satu pasar kendaraan listrik yang sedang berkembang pesat. Pemerintah juga memberikan berbagai insentif untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik.

Selain itu, BYD juga sedang membangun pabrik kendaraan listrik di Subang, Jawa Barat yang direncanakan mulai beroperasi pada 2026.

Jika produksi lokal berjalan, biaya logistik dan impor bisa ditekan sehingga harga kendaraan listrik berpotensi menjadi lebih murah.

Apabila mobil listrik seperti BYD Seagull dijual di Indonesia dengan harga sekitar Rp150 juta hingga Rp170 juta, kendaraan tersebut bisa langsung bersaing dengan mobil LCGC berbahan bakar bensin.

Situasi tersebut tentu berpotensi mengubah peta persaingan industri otomotif nasional secara signifikan.

Editor : Divka Vance Yandriana
#Mobil listrik 2026 #mobil listrik