RADAR TRENGGALEK - Kisah mobil listrik Tucuxi kembali menjadi perbincangan publik. Kendaraan listrik buatan Indonesia ini sempat digadang-gadang sebagai langkah awal menuju mobil listrik nasional yang mampu bersaing dengan produk global seperti Tesla.
Mobil listrik Tucuxi pertama kali diperkenalkan pada tahun 2012. Proyek ini digagas oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat itu, Dahlan Iskan, yang ingin mendorong pengembangan teknologi kendaraan listrik di Indonesia.
Ambisi tersebut muncul dari keinginan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar mobil, tetapi juga mampu menciptakan kendaraan listrik buatan dalam negeri.
Mobil listrik Tucuxi pun menjadi simbol optimisme bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam industri kendaraan masa depan.
Namun perjalanan proyek ini tidak berlangsung lama.
Desain Sporty Mirip Tesla Roadster
Secara desain, mobil listrik Tucuxi tampil cukup futuristik untuk ukuran proyek riset otomotif dalam negeri saat itu.
Bentuknya menyerupai sedan sport dengan garis bodi aerodinamis dan tampilan yang modern.
Banyak pengamat otomotif bahkan menilai desain Tucuxi memiliki kemiripan dengan Tesla Roadster, salah satu mobil listrik sport terkenal di dunia.
Nama Tucuxi sendiri diambil dari sejenis lumba-lumba air tawar di Sungai Amazon. Hewan tersebut dikenal gesit dan hidup di lingkungan alami yang bersih.
Pemilihan nama tersebut mencerminkan filosofi kendaraan listrik yang ramah lingkungan sekaligus memiliki performa tinggi.
Mobil ini dirancang sebagai kendaraan listrik yang tidak hanya efisien, tetapi juga memiliki karakter sporty.
Dengan konsep tersebut, Tucuxi diharapkan mampu mengubah persepsi masyarakat bahwa mobil listrik tidak selalu identik dengan kendaraan lambat atau berdesain sederhana.
Uji Coba yang Berakhir Kecelakaan
Harapan besar terhadap mobil listrik Tucuxi berubah drastis setelah terjadi insiden saat proses uji coba kendaraan.
Pada tahun 2013, mobil listrik tersebut mengalami kecelakaan di wilayah Magetan, Jawa Timur.
Saat itu, Dahlan Iskan sedang melakukan perjalanan menggunakan kendaraan tersebut untuk membuktikan kemampuan mobil listrik buatan Indonesia.
Namun dalam perjalanan tersebut, kendaraan mengalami masalah pada sistem pengereman hingga akhirnya menabrak tebing di kawasan pegunungan.
Kecelakaan tersebut langsung menjadi sorotan publik dan memicu berbagai pertanyaan mengenai kesiapan teknologi mobil listrik buatan dalam negeri.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, insiden itu memberikan dampak besar terhadap kelanjutan proyek Tucuxi.
Proyek Mobil Listrik Nasional Terhenti
Setelah kecelakaan tersebut, pengembangan mobil listrik Tucuxi tidak lagi berlanjut ke tahap produksi massal.
Proyek ini perlahan berhenti dan tidak pernah kembali dilanjutkan secara serius.
Padahal pada masa itu, Tucuxi dianggap sebagai salah satu langkah awal bagi Indonesia untuk masuk ke industri kendaraan listrik global.
Kegagalan proyek tersebut menjadi pelajaran penting bagi pengembangan teknologi otomotif nasional.
Banyak pihak menilai bahwa saat itu ekosistem kendaraan listrik di Indonesia memang belum siap, baik dari sisi teknologi, regulasi, maupun dukungan industri.
Selain itu, pengembangan kendaraan listrik membutuhkan investasi besar serta riset jangka panjang.
Tanpa dukungan ekosistem yang kuat, proyek seperti Tucuxi sulit untuk berkembang menjadi produk komersial.
Potensi Mobil Listrik Indonesia
Meski proyek Tucuxi berhenti, gagasan mobil listrik nasional tidak sepenuhnya hilang.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Indonesia kembali mendorong pengembangan industri kendaraan listrik.
Berbagai kebijakan telah dikeluarkan untuk menarik investasi produsen mobil listrik serta membangun ekosistem baterai kendaraan listrik di dalam negeri.
Indonesia juga memiliki potensi besar dalam industri ini karena menjadi salah satu produsen nikel terbesar di dunia, bahan utama untuk baterai kendaraan listrik.
Selain itu, sejumlah produsen otomotif global mulai membangun pabrik kendaraan listrik dan baterai di Indonesia.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global.
Jika proyek seperti Tucuxi dapat dikembangkan kembali dengan dukungan teknologi dan industri yang lebih matang, bukan tidak mungkin Indonesia suatu hari mampu menghadirkan mobil listrik buatan sendiri yang benar-benar kompetitif di pasar internasional.
Kisah Tucuxi pun kini menjadi bagian penting dalam sejarah perjalanan industri kendaraan listrik Indonesia.
Proyek tersebut menunjukkan bahwa mimpi menghadirkan mobil listrik nasional sebenarnya sudah ada sejak lebih dari satu dekade lalu.
Pertanyaannya kini, apakah Indonesia akan kembali mencoba menghadirkan mobil listrik buatan sendiri yang mampu bersaing dengan merek-merek dunia seperti Tesla?
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina