RADAR TRENGGALEK - Krisis mobil China mulai menjadi sorotan global. Industri otomotif terbesar di dunia itu kini menghadapi tekanan besar setelah jutaan kendaraan baru, terutama mobil listrik, tidak laku di pasar.
Data terbaru menunjukkan lebih dari 3,5 juta mobil baru di China menumpuk di berbagai tempat penyimpanan di seluruh negeri. Kendaraan-kendaraan tersebut seharusnya sudah berada di tangan konsumen, tetapi justru terparkir berbulan-bulan tanpa pembeli.
Fenomena ini memperlihatkan sisi lain dari booming mobil listrik China yang selama ini sering dipuji sebagai masa depan industri otomotif dunia.
Padahal sebelumnya, China dikenal sebagai pasar mobil listrik terbesar dengan berbagai merek besar seperti BYD, Great Wall Motors, hingga Tesla yang berlomba memperluas produksi kendaraan listrik atau EV.
Namun kini situasi berubah drastis.
Jutaan Mobil Listrik Menumpuk di Tempat Parkir
Menurut laporan media pemerintah China, Beijing Economic Daily, tingkat inventaris kendaraan kini mencapai titik tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir.
Tempat parkir yang biasanya digunakan untuk pelanggan kini berubah fungsi menjadi gudang penyimpanan kendaraan baru.
Jutaan mobil yang tidak terjual hanya terparkir dan mengumpulkan debu.
Skala masalahnya pun sangat besar. Diperkirakan sekitar 3,3 juta mobil baru tidak terjual, jumlah yang setara dengan memberikan satu mobil kepada setiap penduduk kota Shenzhen dan masih menyisakan sekitar setengah juta unit.
Kondisi ini memicu kekhawatiran besar di industri otomotif China.
Perputaran inventaris kendaraan saat ini mencapai 57 hari, jauh di atas batas aman industri yang biasanya berada di sekitar 36 hari.
Perang Harga Mobil Listrik
Untuk mengatasi krisis mobil China, para dealer dan produsen terpaksa melakukan berbagai strategi agresif.
Salah satunya adalah memberikan diskon besar hingga 50 persen untuk menarik minat konsumen.
Namun langkah tersebut ternyata belum cukup untuk meningkatkan penjualan secara signifikan.
Sebagian dealer bahkan menggunakan cara lain, seperti mengubah label mobil baru menjadi mobil bekas 0 kilometer agar bisa dijual dengan harga lebih rendah.
Strategi ini dilakukan demi mengosongkan stok kendaraan yang terus menumpuk.
Namun dampaknya sangat besar bagi kesehatan finansial industri otomotif.
Pada tahun 2024, harga rata-rata mobil di China turun sekitar 9,2 persen, sementara margin keuntungan industri otomotif anjlok hingga di bawah 3 persen.
Banyak produsen mobil kini terpaksa menjual kendaraan dengan kerugian hanya untuk mempertahankan operasional bisnis mereka.
Produksi Berlebihan Jadi Penyebab
Para analis menilai krisis mobil China dipicu oleh produksi kendaraan yang terlalu besar dibandingkan dengan permintaan pasar.
Setelah libur Tahun Baru Imlek, banyak pabrikan meningkatkan produksi kendaraan secara agresif.
Namun pada saat yang sama, konsumen China justru mulai menahan pengeluaran.
Situasi ekonomi yang tidak menentu membuat banyak keluarga memilih menunda pembelian mobil baru.
Akibatnya, pasokan kendaraan jauh melampaui permintaan pasar.
Asosiasi Dealer Mobil China bahkan melaporkan bahwa indeks peringatan industri pada Juli mencapai 57,2 persen, yang menandakan kondisi pasar berada dalam zona merah.
Hampir setengah dealer mobil di China mengaku mengalami penurunan penjualan, sebagian bahkan turun lebih dari lima persen.
Regulasi Baru dari Pemerintah
Di tengah tekanan industri otomotif, pemerintah China juga menyiapkan aturan baru yang cukup ketat.
Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China berencana melarang penjualan kembali mobil dalam waktu enam bulan setelah registrasi.
Kebijakan ini bertujuan menekan praktik penjualan palsu serta fenomena mobil bekas 0 kilometer yang semakin marak.
Namun sejumlah pelaku industri menilai aturan tersebut justru dapat memperburuk situasi dealer.
Pasalnya, strategi tersebut selama ini menjadi salah satu cara untuk mengurangi penumpukan stok kendaraan.
Ancaman Gelombang Kebangkrutan
Beberapa analis bahkan memperingatkan bahwa krisis mobil China saat ini baru tahap awal.
Dalam tiga tahun ke depan, diperkirakan setengah dari produsen mobil China bisa menghilang dari pasar.
Industri otomotif yang sebelumnya dianggap sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi China kini menghadapi tekanan yang mirip dengan krisis sektor properti.
Bahkan Ketua Great Wall Motors, Wei Jianjun, sempat memperingatkan bahwa “Evergrande di industri otomotif sudah ada di sini”, merujuk pada krisis raksasa properti China yang kolaps beberapa tahun lalu.
Pernyataan tersebut memicu perdebatan besar di kalangan industri otomotif.
Sebagian pihak menilai peringatan tersebut realistis, namun ada juga yang menilai situasi industri mobil China masih cukup kuat.
Salah satunya datang dari BYD yang menegaskan bahwa perusahaan otomotif besar di China memiliki kondisi keuangan yang jauh lebih sehat dibandingkan yang dikhawatirkan.
Meski begitu, banyak pengamat menilai satu hal yang paling berisiko saat ini adalah hilangnya kepercayaan konsumen.
Jika kepercayaan publik terhadap industri otomotif mulai runtuh, dampaknya bisa menjalar ke seluruh rantai pasok, mulai dari pemasok suku cadang hingga jaringan dealer.
Jika skenario terburuk terjadi, krisis mobil China bisa menjadi salah satu guncangan terbesar dalam sejarah industri otomotif modern.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina