TRENGGALEK NJENGGELEK - Kehadiran BYD Atto 1 dengan harga sekitar Rp195 juta langsung mengguncang industri otomotif nasional. Mobil listrik murah tersebut memicu perang harga mobil listrik di Indonesia, membuat banyak produsen terpaksa menurunkan harga demi mempertahankan daya saing.
Langkah agresif BYD ini menjadi salah satu perubahan terbesar di pasar kendaraan listrik dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran BYD Atto 1 tidak hanya memengaruhi harga mobil listrik baru, tetapi juga berdampak besar pada nilai jual mobil listrik bekas di pasar.
Bahkan sejumlah merek otomotif yang sebelumnya mematok harga tinggi kini mulai memberikan diskon besar atau menurunkan harga resmi produk mereka. Fenomena ini membuat konsumen berada pada posisi yang lebih diuntungkan.
Harga Mobil Listrik Baru Turun Drastis
Sebelum perang harga terjadi, tren harga mobil listrik sebenarnya cenderung stabil bahkan meningkat dari tahun ke tahun.
Beberapa model seperti Wuling Air EV, Chery Omoda E5, hingga Hyundai Ioniq 5 sempat mengalami kenaikan harga dari 2024 ke 2025.
Namun situasi berubah drastis setelah kemunculan BYD Atto 1 yang dijual jauh lebih murah dibanding ekspektasi pasar.
Sebagai contoh, Wuling Binguo EV yang sebelumnya berada di kisaran Rp308 juta hingga Rp313 juta akhirnya dijual sekitar Rp195 juta hingga Rp235 juta selama pameran otomotif.
Artinya terjadi penurunan harga hingga sekitar 43 persen.
Wuling Air EV juga mengalami koreksi harga yang cukup signifikan. Dari sekitar Rp307 juta, mobil listrik ini sempat turun menjadi sekitar Rp195 juta saat promo berlangsung.
Penurunan ini membuat persaingan di segmen mobil listrik semakin ketat.
Merek Lain Ikut Pangkas Harga
Tidak hanya Wuling, beberapa produsen lain juga melakukan penyesuaian harga setelah munculnya BYD Atto 1.
Chery Omoda E5 misalnya, yang sebelumnya dijual sekitar Rp505 juta akhirnya turun menjadi sekitar Rp399 juta.
Sementara Hyundai Ioniq 5 yang sebelumnya berada di kisaran Rp903 juta juga mengalami penurunan hingga sekitar Rp620 juta.
Hyundai Kona EV juga ikut terdampak dengan penurunan harga hingga sekitar 15 persen menjadi Rp499 juta.
Penyesuaian harga ini menjadi bukti bahwa strategi agresif BYD berhasil menekan kompetitor di pasar kendaraan listrik.
Harga Mobil Listrik Bekas Ikut Terpukul
Dampak perang harga mobil listrik tidak hanya terasa pada mobil baru, tetapi juga pada pasar kendaraan bekas.
Dalam beberapa tahun terakhir, mobil listrik memang dikenal memiliki depresiasi yang cukup besar. Nilai jualnya bisa turun sekitar 23 persen hingga 29 persen hanya dalam satu tahun.
Namun setelah perang harga terjadi, penurunan nilai kendaraan bekas menjadi lebih tajam.
Contohnya Wuling Air EV yang sebelumnya dijual sekitar Rp302 juta pada 2024. Dalam satu tahun, harga bekasnya turun menjadi sekitar Rp213 juta.
Setelah terjadi perang harga pada 2025, nilai mobil bekas ini bahkan turun lagi menjadi sekitar Rp171 juta.
Hal serupa juga terjadi pada Wuling Binguo EV. Dari harga baru sekitar Rp308 juta, nilai bekasnya sempat turun menjadi sekitar Rp264 juta, lalu kembali jatuh hingga sekitar Rp224 juta.
Penurunan tersebut membuat banyak pemilik mobil listrik lama mengalami kerugian cukup besar.
Menariknya, Harga Bekas BYD Lebih Stabil
Meski menjadi pemicu perang harga, mobil listrik dari BYD justru relatif lebih stabil di pasar mobil bekas.
Sebagai contoh, BYD Dolphin yang dijual sekitar Rp425 juta pada 2024 masih memiliki harga bekas sekitar Rp380 juta pada 2025.
Penurunan nilainya hanya sekitar 10 hingga 11 persen dalam satu tahun.
BYD M6 juga menunjukkan tren serupa. Mobil ini yang dijual sekitar Rp419 juta masih memiliki harga bekas sekitar Rp372 juta.
Namun berbeda dengan model lain, BYD Seal mengalami depresiasi cukup besar, sekitar 27 persen dalam satu tahun.
Fenomena ini dinilai wajar karena mobil jenis sedan biasanya mengalami penurunan nilai lebih cepat dibanding SUV atau MPV.
Konsumen Justru Diuntungkan
Perang harga mobil listrik yang dipicu oleh BYD Atto 1 sebenarnya memberikan keuntungan bagi konsumen.
Harga mobil listrik kini menjadi jauh lebih terjangkau dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Namun bagi pemilik mobil listrik lama, situasi ini tentu cukup merugikan karena nilai kendaraan mereka turun lebih cepat dari perkiraan.
Ke depan, persaingan di pasar kendaraan listrik diprediksi akan semakin sengit. Banyak produsen diperkirakan akan terus menghadirkan model baru dengan harga lebih kompetitif.
Bagi konsumen, kondisi ini membuka peluang untuk mendapatkan mobil listrik dengan teknologi lebih canggih namun dengan harga yang semakin terjangkau.
Editor : Axsha Zazhika