JAKARTA - Wuling Air EV kembali menjadi sorotan setelah sebuah ulasan pemakaian selama satu bulan mengungkap pengalaman nyata pengguna dalam kehidupan sehari-hari. Mobil listrik mungil ini dikenal sebagai city car listrik murah yang populer di Indonesia, terutama karena biaya operasionalnya yang rendah dan kemudahan penggunaan di perkotaan. Namun, di balik popularitasnya, Wuling Air EV ternyata masih menyimpan sejumlah catatan penting dari sisi kenyamanan dan fitur.
Dalam review jangka panjang tersebut, Wuling Air EV disebut sangat cocok untuk mobilitas dalam kota seperti Jakarta karena bebas ganjil-genap, hemat biaya charging, serta ukurannya yang kompak. Meski demikian, pengalaman penggunaan harian memperlihatkan bahwa mobil ini bukan tanpa kompromi. Beberapa aspek kenyamanan dan fitur masih menjadi sorotan utama pengguna.
Selain itu, Wuling Air EV juga dinilai memiliki karakter yang sangat berbeda dibanding mobil konvensional. Mobil ini mengutamakan efisiensi dan fungsi dasar transportasi perkotaan, bukan kenyamanan premium. Hal ini menjadi alasan mengapa pro dan kontra terhadap mobil listrik ini terus berkembang di kalangan pengguna.
Pengalaman 1 Bulan Wuling Air EV di Jalanan Kota
Dalam penggunaan selama satu bulan lebih, Wuling Air EV menunjukkan performa yang konsisten sebagai kendaraan harian. Mobil ini unggul dalam efisiensi energi, biaya charging yang sangat rendah, serta kemudahan parkir di area padat.
Namun, pengguna juga menemukan sejumlah keterbatasan yang cukup terasa dalam pemakaian jangka panjang, terutama bagi pengemudi dengan mobilitas tinggi di luar rute pendek perkotaan.
Kekurangan Wuling Air EV yang Banyak Dikeluhkan Pengguna
Beberapa catatan kekurangan yang paling sering muncul pada Wuling Air EV antara lain posisi seat belt yang kurang ergonomis, terutama bagi pengemudi bertinggi badan di atas 175 cm karena terasa mengganggu di area leher.
Pengaturan spion yang masih manual juga dianggap kurang praktis, terutama saat parkir di ruang sempit. Selain itu, sistem audio yang hanya menggunakan satu speaker membuat kualitas suara kurang optimal di dalam kabin.
Dari sisi kenyamanan, AC dinilai kurang fleksibel dalam pengaturan hembusan, sementara jok dianggap kurang nyaman untuk perjalanan lebih dari satu jam. Suspensi juga terasa keras saat melewati jalan berlubang atau polisi tidur.
Kekurangan lain adalah stabilitas pada kecepatan tinggi. Di atas 80 km/jam, mobil terasa limbung dan kurang stabil saat berpapasan dengan kendaraan besar. Selain itu, belum tersedianya hill start assist membuat mobil berpotensi mundur saat berhenti di tanjakan.
Kelebihan Wuling Air EV yang Tetap Menjadi Daya Tarik
Meski memiliki kekurangan, Wuling Air EV tetap memiliki banyak keunggulan. Biaya operasionalnya sangat murah, dengan estimasi pengisian daya yang jauh lebih hemat dibanding bahan bakar konvensional. Pajak kendaraan juga rendah, menjadikannya pilihan ekonomis untuk penggunaan harian.
Ukuran kompak menjadi nilai plus utama. Mobil ini sangat mudah dikendarai di jalan sempit, gang kecil, hingga area parkir terbatas. Karakter ini membuatnya ideal sebagai city car listrik.
Selain itu, Wuling Air EV tidak menghasilkan emisi dan suara mesin, sehingga lebih ramah lingkungan serta nyaman digunakan di area padat perkotaan.
Apakah Wuling Air EV Masih Layak Dibeli?
Secara keseluruhan, Wuling Air EV tetap menjadi salah satu mobil listrik entry-level paling menarik di Indonesia. Mobil ini sangat cocok untuk pengguna yang membutuhkan kendaraan harian jarak dekat dengan biaya operasional rendah.
Namun, calon pembeli perlu memahami bahwa mobil ini bukan untuk perjalanan jauh atau kenyamanan premium. Air EV lebih tepat diposisikan sebagai mobilitas perkotaan yang efisien dan ekonomis.
Editor : Divka Vance Yandriana